Menang di Pilkada Jabar dan Sumut, PKS masih Hebat atau Tersesat?

12 March 2013 | 12:35 am | Dilihat : 1018

Dua pilkada bergengsi bagi parpol diantaranya adalah pilkada Jawa Barat dan Sumatera Utara. Setelah dilakukan penghitungan oleh KPU di Jawa Barat dan penghitungan versi quick count Lembaga Survei di Sumut, dua cagub yang dijagokan oleh PKS ternyata mampu menaklukkan kompetitor lainnya yang berat.

Pilkada Jawa Barat. Jago PKS adalah Ahmad Heryawan (AHER) yang berpasangan dengan Dedy Mizwar (Demiz). Hasilnya, pasangan  Aher-Demiz unggul dengan meraih 6,515 juta suara (32,39 persen suara sah). Disusul Rieke-Teten Masduki yang didukung Partai Utama PDIP, meraih 5,7149 juta suara (28,41 persen),  Dede Yusuf-Lex dengan partai utama Demokrat  meraih 5,0775 juta suara (25,24 persen), Yance-Tatang yang didukung partai utama Golkar, meraih  2,448 juta suara (12,17 persen), serta Dikdik-Toyib (independen) meraih 359 ribu suara (1,79 persen).

Pilkada Sumut. Jago PKS adalah Gatot Pujo Nugroho-Tengku Erry Nuradi, dimana dari hasil quick count TV One, pasangan ini mampu meraih suara  32,76 persen, disusul pasangan Efendi Simbolon-Djumiran Abdi dengan partai utama PDIP meraih 24,18 persen, ketiga pasangan Gus Irawan Pasaribu-Soekirman dengan parpol utama Gerindra dan PAN meraih 21,84 persen, keempat pasangan Amri Tambunan-RE Nainggolan dengan parpol utama Partai Demokrat meraih 11,93 persen dan kelima pasangan Chairuman Harahap-Fadly Nurzal dengan partai utama Golkar dan PPP meraih 9,3 persen.

 

Analisis

 

Dari fakta terlihat kedua jago yang diusung PKS telah mampu memenangkan persaingan ketat ditengah isu negatif yang menyerang petinggi parpol yang selalu menggunakan tagline bersih, peduli, profesional. Kedua pilkada (pilgub) tersebut merupakan pertaruhan citra partai Islam ini disaat krisis citranya, yang mampu eksis sebagai parpol menengah sejak pemilu 2004. Presiden PKS, Anis Matta yang baru menggantikan presiden lama Lufti Hasan Ishaq yang di tangkap KPK karena kasus impor daging, jelas merasakan kegembiraan tiada tara atas kemenangan jagonya itu.

Menurut Anis Matta, setelah mendapat informasi hasil quick count pilkada Sumut, menyatakan kemenangan calon PKS ini mirip kondisi di pilgub Jawa Barat yang lalu. Pasangan GanTeng Nomor 5 dalam berbagai survey unggul tapi dibayangi ketat pasangan calon lain. Anis menegaskan, unggulnya pasangan Gatot-Erry ini sekali lagi menunjukkan solidnya mesin politik PKS di tengah badai yang terjadi. Badai dikatakannya tidak berpengaruh terhadap persepsi dan pilihan publik. “Lagi-lagi ini kemenangan di tengah badai,” tegasnya.

Apakah demikian kondisi aktualnya? Kondisi yang sangat menguntungkan PKS saat pilkada adalah kedua cagubnya di dua propinsi tersebut  adalah petahana (incumbent) yang menjadi pemimpin di daerahnya masing-masing tanpa ada masalah negatif yang tidak disukai masyarakatnya selama memimpin.

Pemilihan pemimpin daerah (gubernur) adalah pemilihan sosok atau lebih kepada ketokohan siapa yang diajukan oleh parpol. Seperti yang terjadi saat Pilkada DKI Jakarta, dengan popularitas dan elektabilitas yang demikian tinggi saat di survei, Jokowi sebagai tokoh lokal di Solo mampu menumbangkan petahana Fauzi Bowo yang citranya dinilai kurang baik dikalangan masyarakat Jakarta. Masyarakat menginginkan pemimpin baru karena butuh perubahan, dimana penduduk Jakarta merasa  sumpek dengan kemacetan dan banjir. Maka menanglah Jokowi yang hanya diusung PDIP dan Gerindra. Sosok Jokowi sebagai media darling mendapat efek silent revolution positif.

Dalam kasus di Jawa Barat, Ahmad Heryawan sangat faham bahwa kondisi parpolnya PKS sedang babak belur, maka dia tidak terlalu menonjolkan PKS dalam kampanyenya. Keberhasilan kepemimpinan dan kedekatan serta perhatian kepada masyarakat lebih ditonjolkannya. Disinilah kunci kemenangan AHER disamping adanya energi positif dengan perkuatan dari Dedy Mizwar yang terkenal, disukai publik, nampak kebapakan. Jadi sebenarnya PKS jangan terlalu berbangga dengan kemenangan jagonya itu. Faktor  kedua tokoh yang disukai masyarakat itu lebih dominan sebagai faktor penentu kemenangan.

Hal serupa juga terjadi di pilkada Sumatera Utara.  Pujo Nugroho yang Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) PKS Sumut 2006-2011 adalah petahana, yang pada awalnya menjadi wakil Gubernur dari parpol PKS, kemudian dia menjadi pelaksana tugas (Plt) Gubernur Sumatera Utara terhitung sejak 21 Maret 2011, berdasarkan Keputusan Presiden No.15/P Tahun 2011 tertanggal 21 Maret 2011. Gatot selalu terlihat rapi dan sederhana, serta berperilaku ramah kepada orang yang ditemuinya, sikap simpatiknya menarik simpati publik. Gatot tumbuh besar di komplek prajurit TNI di Magelang. Selain terbiasa dididik dengan disiplin tinggi khas keluarga tentara, Gatot dan saudara-saudaranya juga tumbuh dalam suasana keluarga religius.

Sebagai pejabat Gubernur, jelas popularitasnya mampu mengalahkan calon-calon lainnya, terlebih calon yang menetap di luar Medan. Pertanyaannya, apakah kemenangan Pujo dilatar belakangi oleh simpati publik terhadap PKS? Belum tentu juga. Setelah kasus presiden PKS dijadikan tersangka oleh KPK, jelas citra PKS semakin runtuh, ini yang harus diukur oleh PKS.

Lembaga Survei Jakarta (LSJ) yang melakukan survei  pada 9-15 Februari 2013 terhadap 1.225 responden, setelah Lufi Hasan ditangkap KPK, menunjukkan bahwa hanya 6,9% responden yang akan memilih Partai Demokrat sebagai partai pilihannya pada Pemilu 2014. Selain itu hanya 2,6% yang akan memilih PKS pada pemilu 2014. Menurut Igor, peneliti LSJ, kasus impor daging yang melibatkan presiden PKS  menyebabkan publik mulai tidak mempercayai jargon PKS sebagai 'partai bersih'. Hanya 15,7% responden yang masih yakin PKS sebagai partai bersih, sedangkan 66% mengaku tidak yakin, dan 18,3% lainnya memilih tidak tahu.

Hasil survei lengkap LSJ mengenai elektabilitas parpol jika pemilu dilakukan hari ini mempersepsikan Golkar tetap dengan perolehan tertinggi sebesar 18,5%, PDIP 16,5%, Gerindra 10,3%, Demokrat 6,9%, Hanura 5,8%, Nasdem 4,5%, PKS 2,6%, PAN 2,5%, PAN 2,4%, dan PKB 1,8%. Baca artikel penulis "Lembaga Survei; Elektabilitas Demokrat dan PKS Terus Turun", http://ramalanintelijen.net/?p=6414. Nah dari survei tersebut terlihat bahwa citra PKS memang sedang mengalami keruntuhan secara perlahan.

Kemenangan dua Cagub yang diajukan PKS tidak menggambarkan hasil konkrit masih hebatnya PKS dalam arti yang sebenarnya. Para konstituen di daerah banyak yang lebih cenderung melihat dan mengukur tokoh, dan sering tidak memperdulikan siapa parpol pendukung mereka. Kasus greget Jokowi adalah contoh paling terang benderang akan kerinduan publik terhadap tokoh di daerahnya masing-masing.

Jadi, dengan beberapa fakta tersebut, kemenangan dua jago PKS di Jabar dan Sumut jangan menjadikan presiden PKS ataupun elit lainnya menjadi berbangga diri. PKS masih membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk memperbaiki citranya. Masyarakat sangat anti dengan kemunafikan, dimana tagline berat PKS sebagai "partai bersih" telah dikotori justru oleh petingginya sendiri. Inilah menurut penulis disebut sebagai cacat permanen politik yang harus dibersihkan oleh Anis Mata.

Yang perlu diingat, pilkada di dua propinsi tersebut bukan memilih partai atau pemilu legislatif, tetapi pemilihan kepala daerah. Semoga para elit PKS tidak terkena efek fatamorgana, merasa partainya tetap hebat tetapi ternyata tersesat kesebuah impian bak fatamorgana. Sayang memang kalau memang demikian.

Oleh : Prayitno Ramelan, www.ramalanintelijen.net

Ilustrasi Gambar : fnoor.worpress.com

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.