Seberapa Berbahayanya Kelompok Yang Mengunjungi Anas bagi SBY

27 February 2013 | 11:17 am | Dilihat : 445

Kisah Anas yang mantan Ketua Umum Demokrat nampaknya belum akan segera usai. Dalam beberapa hari setelah Anas menyatakan berhenti, selain media, berduyun-duyunlah para pengunjung mendatangi rumah Anas di kawasan Duren Sawit, Jakarta. Yang menarik  nampak beberapa pejabat publik yang cukup menonjol terselip diantara para pengunjung.

Kunjungan para tokoh tersebut ditanggapi penasihat KPK, Abdullah Hehamahua, yang menyataan rasa sedihnya, karena para pejabat publik tersebut bersimpati kepada tersangka koruptor. Secara umum terkesan mereka  bersimpati serta ikut prihatin dengan kasus yang menimpa Anas. Abdullah mengatakan disaat penegak hukum habis-habisan menangkap koruptor, di sisi lain masyarakat, parpol, pejabat publik terkesan menganulir usaha penegakan hukum tersebut lewat dukungannya terhadap koruptor.

Apakah memang demikian kenyataannya? Penulis mencoba mengulas dan mengelompokkan pengunjung Anas secara umum. Inilah ulasannya. Pengunjung Anas dapat dikelompokkan berdasarkan kepentingannya masing-masing.

Kelompok pertama, yaitu beberapa pengurus yang dikenal sebagai loyalis Anas dan berasal dari Partai Demokrat. Mereka kini ada yang mengundurkan diri dan ada yang kemudian tetap bertahan di PD. Pada umumnya sebagian besar pengurus daerah (DPC) akan berfikir ulang untuk mengundurkan diri, kenapa? Karena politik berurusan dengan kepentingan dan kekuasaan. Siapa yang mau kehilangan kekuatan politis  dan kekuasaannya saat ini? Politik masa kini lebih pragmatis. Terlebih bagi ketua cabang parpol besar seperti Demokrat ini. Politik adalah sebuah seni bagaimana mempertahankan kekuasaan.

Kelompok kedua, yaitu tokoh politik dari parpol lain yang berusaha menarik simpati pengikut Anas, dengan harapan simpatisan serta kader PD loyalis Anas akan bergeser ke parpolnya karena jenuh dan merasa tidak nyaman di Demokrat. Mereka pada umumnya menyatakan sebagai teman Anas dan simpati serta ikut prihatin. Diperkirakan mereka akan mencoba menarik Anas setelah kasus hukumnya selesai untuk bergabung di partai mereka.

Kelompok ketiga, yaitu beberapa tokoh besar KAHMI, yaitu para alumnus Himpunan Mahasiswa Islam. Mereka merasakan kekecewaan dengan lengsernya Anas dan menilai bahwa kasus Anas tidak murni masalah hukum tetapi ada intervensi politik didalamnya yang bertujuan menjadikannya sebagai tersangka. Kekecewaan tersebut jelas wajar,  karena Anas adalah salah satu kader KAHMI yang bersinar dan dinilai sangat cerdas dan posisinya selama ini cukup tinggi sebagai ketua umum rulling party.

Kelompok keempat, menurut penulis adalah kelompok yang perlu diwaspadai oleh elit Partai Demokrat. Mereka adalah kelompok yang anti SBY, selalu berusaha melengserkan SBY dengan berbagai cara. Terdapat kesan, ada upaya pengondisian terhadap Anas agar membuka seterang-terangnya kasus keterlibatannya dalam kasus Hambalang. Nampaknya ada keyakinan atau informasi yang mereka dapat, tentang disebutnya nama Ibas sebagai Sekjen PD. Apabila Ibas dinyatakan terlibat, maka akan semakin menggerus citra SBY. Beberapa elit Demokrat seperti Marzuki Ali (Ketua DPR) menyatakan tidak takut dan  menantang Anas membuka saja kasus tersebut.

 

Analisis

 

Dari beberapa fakta diatas, kelompok loyalis Anas jelas terpecah dua ada yang akan tetap ikut mengundurkan diri, tetapi ada yang berubah haluan, oportunisme di politik adalah hal yang biasa. Penulis mengingat pesan Jenderal Benny Murdani (Alm), tokoh intelijen yang paling fenomenal, yang mengatakan  apabila kita sudah didalam perahu untuk menuju kesebuah tujuan, walau sebesar apapun badai menghantam, jangan pernah keluar dari perahu itu. Kita akan lebih selamat di dalam perahu, dibandingkan keluar dan terbawa arus gelombang badai yang tidak jelas akan mengombang-ambingkan kita kemana.

Dalam hal ini, kekuasaan dan manajemen Partai Demokrat kini sudah dipegang oleh Majelis Tinggi dengan pelaksana kepengurusan sementara ditangani secara kolektif. Jadi memang lebih baik para kader yang berseteru itu tetap bersatu di dalam partai, dibandingkan ikut Anas yang keluar. Anas itu tokoh besar yang masih punya nilai jual, kalau kader lainnya apakah sudah mengukur dirinya? Kader jangan saling menyerang dengan pernyataan di media, lebih baik diam dan menunggu pimpinan MT mengatur strategi mengarahkan perahu  mengatasi gelombang badai agar stabil dan tetap terarah ke tujuan.

Terhadap kelompok KAHMI, elit Partai Demokrat nampaknya perlu melakukan pendekatan atau dibiarkan saja. Mereka tidak berbahaya dalam upayanya menyerang SBY. Kekecewaan itu akan pupus dengan sendirinya, terlebih apabila Anas sudah selesai menjalankan proses hukum dan kembali berkiprah di parpol lainnya. Tokoh KAHMI  yang paling berkelas adalah Akbar Tanjung yang pernah menyelamatkan Partai Golkar saat dihantam reformasi untuk dibubarkan. Elit Partai Demokrat perlu belajar banyak dari Akbar yang kini menjadi Ketua Dewan Pembina Golkar.

Elit Partai Demokrat serta para inner circle SBY , serta Pak SBY sendiri baik sebagai politisi PD maupun Presiden perlu sangat mewaspadai serangan mereka yang anti SBY. Upaya pelengseran SBY telah lama dilakukan. Tetapi kekuatan konstitusional yang melindunginya sulit dicari titik lemahnya. Yang perlu disadari, penulis sudah lama menuliskan kerawanan Partai Demokrat yang  terletak kepada ketergantungan terhadap SBY. SBY jauh lebih besar dibandingkan PD. Karena itu mereka yang selama ini menghantam SBY dengan segala cara selalu gagal menemukan titik rawan ini.

Pada kasus Anas, penulis menilai terjadi salah hitung inner circlenya, sasaran mereka yang anti SBY kini nampaknya tidak langsung diarahkan ke SBY, tetapi proses perusakan dirubah dengan melakukan kompartmentasi di internal PD. Perpecahan elit kemudian jelas melibatkan emosi SBY, yang tanpa sadar oleh elitnya sendiri kemudian  dilibatkan langsung dalam konflik antara mereka dengan Anas.

Kini SBY berada di killing ground berbahaya dan akan ditembaki banyak pihak. Yang perlu mereka khawatirkan, apabila terjadi kebocoran informasi dalam proses Anas. Publik merekam adanya ketidak wajaran proses tersebut. Keterlibatan Pak SBY secara langsung dalam konflik adalah rawan. Kerawanan yang mungkin ada, apabila ditemukan lawan, menurut pakem intelijen apabila di eksploitir akan dapat menyebabkan kelumpuhan permanen. Kira-kira itulah inti ulasan ini, sentuhan berbahaya terhadap SBY sebagai Ketua Majelis Tinggi apabila tidak dikelola dengan baik akan bisa menyebabkan tersentuhnya posisinya sebagai pimpinan nasional, dan bangsa ini akan menerima akibatnya.

Oleh : Prayitno Ramelan, www.ramalanintelijen.net

 

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.