Direktur CIA mundur karena melanggar kode Tugas dan Kehormatan

12 November 2012 | 11:39 pm | Dilihat : 439

Secara perlahan tetapi pasti, skandal hubungan asmara antara David Petraeus dengan Paula Broadwell terus menjadi gunjingan dan pembahasan serius baik dikalangan anggota kongres, pejabat FBI, CIA, Departemen Kejakiman, Jaksa Agung dan masyarakat Amerika. Mengapa? Karena David Petraeus adalah seorang jenderal yang sangat sukses saat memimpin pasukan AS saat berperang di medan berat Irak. Dia menjadi idola baik para anggota senat dan kongres karena kesuksesannya saat memimpin perang di Irak. Sang Jenderal mempunyai hubungan baik dengan Partai Demokrat maupun Republik.

David (Dave) mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Direktur CIA, sebuah badan yang demikian superior, perisai serta salah satu kunci yang melindungi Amerika Serikat dan rakyatnya tanpa banyak bicara. Banyak yang tidak mengetahui langkah CIA, walau akhirnya CIA menjadi truf card dari Presiden Obama dalam menetralisir ancaman potensial musuh utamanya yaitu kelompok teroris  Al-Qaeda.

Lantas, bagaimana kisah dan mengapa perselingkuhan tersebut menjadi ssesuatu yang fatal, merugikan tidak hanya pribadi Jenderal Petraeus, CIA dan jelas Negara Amerika? Penulis melihat bahwa dalam perjalanan karirnya sekitar 36 tahun, Jenderal David selalu bertugas di militer, baik dimedan tempur Irak dan Afghanistan maupun sebagai pemikir strategi di satuan  Angkatan Darat AS. Apabila diukur dari sisi pengamanan intelijen, melihat proses terbongkarnya kasus dengan tidak terlalu sulit, nampaknya kekebalan dan perlindungan security Direktur CIA terdapat celah rawannya. Internal security-nya tidak berfungsi, dan cover-nya mudah dibongkar. Itulah sebuah titik rawan pejabat intelijen yang berasal dari militer, terlalu over confident.

Setelah Jenderal Petraeus  menyatakan mengundurkan diri, penyebab terbongkarnya kasus perselingkuhan tingkat atas tersebut mulai menunjukan titik terang. Untuk pertama kalinya Minggu (11/12), wanita yang memberikan laporan e-mail menyebabkan paparan dari perselingkuhan itu diidentifikasi sebagai Jill Kelley, 37 dari Tampa, Florida. Media di AS menyebutkan bahwa FBI menemukan Affair di musim panas,  hanya penyampaian laporan dilakukan setelah hari pemilihan.

Kepala komite intelijen di Kongres dan Senat mengeluh karena mereka tidak diberitahu lebih cepat oleh FBI. Selanjutnya Ketua Komite mengatakan Minggu bahwa komite itu akan sangat serius meminta penjelasan. Kasus yang melibatkan instansi FBI dan CIA, dikatakannya  "could have had an effect on national security", memiliki dampak pada keamanan nasional.

Skandal Paula Broadwell dengan Jenderal Petraeus disebutkan dimulainya sekitar dua bulan setelah dia diangkat ke kepala CIA dan berakhir sekitar empat bulan lalu. Paula membuat  kesalahan fatal karena mengirim email kepada Jill Kelley, orang ketiga yang diduga terlibat dalam cinta segitiga. Jill mengeluh kepada  teman pribadinya yang menjadi agen FBI atas adanya email ancaman yang tidak jelas sumbernya. Setelah si agen melakukan penyelidikan,  FBI menemukan perselingkuhan. Dimana dalam inbox email, baik Paula maupun David ditemukan demikian banyaknya percakapan berbau seksual.

Kasus yang kemudian bergulir tanpa dapat ditahan akhirnya terungkap, dan kemudian pengungkapan tersebut menjadi polemik keabsahan FBI dalam mengungkap skandal asmara dalam organisasi intelijen.  Berdasarkan peraturan militer, perzinahan bisa menjadi kejahatan. Di dunia intelijen di AS, sebuah perselingkuhan bisa menjadi sebuah masalah keamanan, karena dapat membuat seorang pejabat intelijen rentan terhadap pemerasan, tetapi perselingkuhan bukanlah sebuah tindak kejahatan. Dalam penyelidikannya, agen FBI yang mewawancarai baik Paula Broadwell maupun Jenderal Petraeus, tidak menemukan adanya kebocoran atau pemberian dokumen rahasia kepihak lain. Pada akhirnya para penegak hukum menyatakan bahwa tidak ada bukti Jenderal Petraeus melakukan kejahatan apapun.

Bruce Riedel seorang veteran CIA mengatakan, "Saya pikir Dave Petraeus dibesarkan dengan kode yang sangat menuntut tentang tugas dan kehormatan," katanya. "Dia melanggar kode itu." Jenderal Petraeus dikenal sangat kompetitif dan hati-hati melindungi reputasinya. Media menyebutkan dan berspekulasi bahwa pasca-CIA ia mungkin akan menjadi presiden Princeton University, di mana ia meraih gelar Ph.D. dalam hubungan internasional pada tahun 1987, atau mungkin saja  dia akan dicalonkan/mencalonkan diri menjadi  presiden Amerika Serikat.

Itulah perkembangan serta tambahan ulasan tentang mundurnya pejabat paling dikenal di seantero jagat, CIA. Hingga kini banyak pihak di AS yang menyatakan mengapa Jenderal Petraeus harus mengundurkan diri, kasusnya lebih bersifat personal, tidak membahayakan negara. Masalah kemungkinan kerugian kebocoran informasi yang berakibat kepada keamanan nasional juga tidak terbukti.

Banyak yang berpendapat Jangan Petraeus, bahkan skandal asmara seorang presidenpun tidak mengakibatkan runtuhnya sang presiden. Tapi itulah sang Jenderal yang selama bertahun-tahun meninggalkan keluarga untuk menunaikan tugas di palagan perang yang keras di Irak dan Afghanistan. "Guilty Feeling" sang jenderal sangat dalam dan nampaknya benar yang dikatakan mantan pejabat CIA, walau selingkuh bukan kejahatan, tetapi sang jenderal didalam hati nuraninya merasa telah melanggar kode tentang tugas dan kehormatan. Jadi dia memilih mundur.

Sebagai penutup, mari  kita bertanya apakah di negara kita masih banyak pejabat yang mau mendengarkan nuraninya? Entahlah.

Prayitno Ramelan, www.ramalanintelijen.net

Ilustrasi Gambar : pelauts.com

 

This entry was posted in Hankam. Bookmark the permalink.