Presiden Obama akan ke Myanmar akhir November, mengapa?

10 November 2012 | 9:54 am | Dilihat : 595

Pada 6 November 2012, Barack Husein Obama sebagai incumbent terpilih kembali menjadi Presiden Amerika Serikat setelah mengalahkan lawannya Mitt Romney dari Partai Republik. Pertarungan sengit keduanya lebih dipusatkan kepada  siapa yang akan menyembuhkan kemelut dan masalah ekonomi yang mendera AS dan apa peran pemerintah pada abad ke-21 ini.

Pada tahun 2008, Obama terpilih sebagai presiden Amerika, setelah mengalahkan Senator John McCain dari Partai Republik dimana sebelumnya dia berhasilmengalahkan Hillary Rodham Clinton dalam sebuah persaingan internal di Partai Demokrat. Obama kemudian dilantik sebagai presiden ke-44 Amerika Serikat pada tanggal 20 Januari 2009.  Dia adalah orang pertama dari keturunan  Afrika-Amerika yang berhasil menjadi presiden negara super power tersebut. Obama yang merupakan anak dari seorang pria kulit hitam dari Kenya dan ibunya berkulit putih dari Kansas kini memegang peran sentral di dunia.

Obama dinilai oleh para pemilihnya telah berhasil menyelesaikan  sejumlah isu penting dalam melaksanakan kebijakan luar negeri pada masa jabatan pertamanya. Misalnya, AS  melakukan penarikan pasukan Amerika di Irak dan Afghanistan yang menyebabkan ribuan  pasukan AS meninggal dan kerugian ratusan milyar dolar. Pada awalnya Obama justru menambah jumlah pasukan tersebut sebelum menarik pasukan dan akan mengakhiri gelar pasukan dan peran tempur Amerika di kedua negara tersebut pada tahun 2014. Obama dinilai  memiliki sejumlah keberhasilan besar pada periode masa jabatan pertamanya, seperti berhasil membinasakan musuh utama AS yang disebut sebagai tokoh teroris dunia,  Osama bin Laden. Disamping itu dia berhasil menyelesaikan RUU reformasi layanan kesehatan yang luas, paket stimulus raksasa dan perbaikan regulasi keuangan.

Setelah sukses dan menang dalam pemilihan tersebut, Gedung Putih mengeluarkan pernyataan pada hari Kamis (8/11/2012), bahwa Presiden Obama akan mengunjungi Asia Tenggara  pada akhir November ini. Dalam rangkaiannya Obama akan singgah di Thailand dan mengunjungi Myanmar (Burma) untuk menghadiri konperensi puncak ekonomi internasional di Kamboja. Apabila kunjungan tersebut terlaksana, maka ini adalah kunjungan pertama kalinya seorang presiden Amerika ke negara tersebut. Kunjungan tersebut mempunyai arti sangat penting sebagai sebuah simbol penegasan keberadaan AS di kawasan Asia, demikian pandangan beberapa analis.

Dalam kebijakan politik luarnegerinya, AS dibawah kepemimpinan Obama dalam beberapa tahun terakhir terlihat mulai menggeser kepentingan internasionalnya ke kawasan Asia, khususnya kawasan Laut China Selatan. Presiden Barack Obama tahun lalu meluncurkan kebijakan “poros” untuk memperkuat pengaruh AS di kawasan Asia-Pasifik, diantaranya dengan mengurangi penggelaran kekuatan di bagian dunia lainnya, kawasan Eropa, Irak dan Afghanistan.

Presiden Obama mengatakan pada tanggal 22 Juni 2011, bahwa negara yang menjadi basis serangan ke daratan AS pada peristiwa 11 September 2001, kini  sudah bukan merupakan ancaman teror lagi terhadap AS. “Gelombang perang telah surut, dan kini sudah saatnya AS membangun negara,” tegas Obama.

Fokus AS kini lebih tertuju kepada perkembangan baik ekonomi maupun langkah-langkah politik dan militer China yang dinilainya berbahaya dan mulai harus sangat diperhitungkannya. Rudal balistik China kini mampu mencapai seluruh pangkalan AS di kawasan Asia Pacifik, China mulai mengembangkan teknologi pesawat tempur serang stealth sekelas F-35, China lebih serius membangun dan akan mengoperasikan kapal induk. Yang dinilainya lebih serius,  China mulai melebarkan sayap ke kawasan kepulauan spratly yang diakuinya sebagai bagian wilayah kekuasaannya. AS melihat potensi ancaman penguasaan jalur SLOC dan jalur logistic di kawasan Laut China Selatan yang akan berbahaya bagi jalur logistiknya apabila dikuasai China.

Karena itu AS mulai mengadakan pendekatan atau aliansi dengan beberapa negara di kawasan Asia Pasifik. Dalam aturan politik tertua menurut Stephen G. Brooks,“kekuasaan selalu memicu kekuasaan tandingan yang kuat.” Oleh karena itu pendekatan ke Myanmar nampaknya merupakan langkah pengamanan dan upaya mempengaruhi negara dikawasan. Myanmar selama ini diketahui sebagai negara yang menolak demokrasi disamping Korea Utara. China adalah pelindung utama internasional Myanmar selama tahun-tahun terakhir pemerintahan militer di Myanmar. Oleh karena itu AS terus berusaha mempengaruhi Myanmar untuk menyamakan system pemerintahan, demokrasi liberal.

Myanmar dibawah Presiden Thien Sein yang berkuasa sejak tahun lalu mulai membuka diri, menerima didekati AS dan negara-negara Barat lainnya. Sejak berkuasa, Mr Thein Sein telah membebaskan ratusan tahanan politik, mengizinkan Ibu Aung San Suu Kyi dan partainya untuk mencalonkan diri di parlemen dan mulai meniadakan sistem penyensoran yang rumit. Namun kelompok militer tetap mempertahankan pengaruhnya di negara itu dan melakukan penekanan dalam perang saudara yang berlarut-larut dengan kelompok minoritas etnis Kachin di utara negara itu.

Dalam kekerasan di Myanmar Barat antara Budha dan Muslim, pemerintah Myanmar banyak menuai kritik dalam peristiwa Rohingya yang  menewaskan sekitar 100 orang sejak bulan Juni. Para kritikus mengatakan pemerintah tidak berbuat cukup untuk menjamin keamanan warga Muslim dinegara tersebut.

Akhir tahun lalu, Menteri Luar Negeri Hillary Clinton mengunjungi Myanmar, menjadikannya Menlu pertama yang mengunjungi Myanmar sejak 1955, ketika itu John Foster Dulles mencoba mendekati negara itu menjadi aliansi regional untuk melawan China. Amerika Serikat telah meninjau ulang kebijakan  hubungan bilateral  dengan Myanmar selama berbulan-bulan, mengurangi dan menghilangkan sanksi dan menempatkan kembali duta besarnya ke negara itu sebagai salah satu cara untuk menghargai dan mendorong pergeseran politik di sana.

Jadi rencana kunjungan Presiden Obama ke Myanmar memang merupakan langkah strategis politik dan kebijakan militernya dalam upaya menarik Myanmar sebagai bagian pengepungan terhadap China yang mulai menjadi pesaingnya di kawasan. Disini terlihat cara pandang kepentingan AS dalam penerapan politik luar negerinya, Myanmar adalah salah satu negara yang sangat penting baginya dalam konteks kebijakan politik luarnegerinya. Dalam kaitan ini, China harus memikirkan ulang langkah strategis AS di Myanmar, setelah dikepung oleh kelompok pendukung dan sahabat AS di kawasan, yaitu Taiwan, Jepang, Korea Selatan, Singapore, Thailand, Philipina dan Australia.

Disinilah penulis menilai pentingnya sebuah penguasaan geostrategi dan geopolitik para pembuat kebijakan dan penguasa Indonesia dalam memosisikan diri dengan perkembangan kawasan. Tidak menyepelekan potensi konflik AS dengan China di kawasan, perlu lebih bijak, karena memang Amerika tetap harus menjadi negara yang diperhitungkan dalam percaturan di dunia internasional. Wabil khusus kini, setelah AS menggeser kepentingan utamanya ke kawasan Laut China Selatan.

Prayitno Ramelan, www.ramalanintelijen.net

 

Artikel terkait :

 

- Aliansi Pertahanan AS-Australia Berusia 61 Tahun (http://ramalanintelijen.net/?p=5244)

- Perang Dingin AS-China, AS akan Menjual 66 Pesawat Tempur ke Taiwan (http://ramalanintelijen.net/?)p=5407)

-Fokus Gelar Tempur Pasukan AS akan ke Asia ( http://ramalanintelijen.net/?p=4819)

- Postur Pertahanan Indonesia Menghadapi Perkembangan Situasi Kawasan (http://ramalanintelijen.net/?p=4582)

 

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.