Perang Intelijen seperti di Film Sky Fall?

5 November 2012 | 7:50 am | Dilihat : 1186

[google-translator]

Kemarin malam penulis menonton  Sky Fall yang merupakan film  spy ke-23 dari seri James Bond. Film yang terkenal di dunia ini  disutradarai oleh Sam Mendes, dibuat oleh Eon Production dan diedarkan oleh MGM dan Sony Pictures Entertainment keseluruh dunia. Daniel Craig dipercaya untuk ketiga kalinya memegang peran sebagai si jagoan James Bond, dan sebagai penjahat (teroris) adalah Javier Bardem sebagai Raoul Silva.

Dalam film ini terlihat beberapa pemain inti telah digantikan oleh tokoh yang lebih muda, kecuali M (diperankan oleh Judi Dench), yang dalam enam episode film Bond, dimana Judi  selalu menjadi boss M-16 tersebut. Untuk tokoh Q (ahli IT dan perelatan intelijen  M-16 dimainkan oleh Ben Wishaw, tokoh muda yang agak sombong tapi percaya diri). Untuk tokoh Miss Monepenny dimainkan oleh Naomie Harris yang juga jauh lebih muda.

Dalam film Sky Fall, James Bond bertugas menyelidiki serangan terhadap M-16, dimana yang terungkap merupakan serangan teror terhadap M  dari mantan agennya Raoul Silva, yang pernah dikorbankan dalam sebuah operasi  pada masa lalu di China. Film Skyfall adalah film seri terakhir bagi Judi Dench yang memerankan M, dimana ia telah berperan di enam film James Bond sebelumnya. Posisi selanjutnya posisi M diisi oleh Ralph Fiennes  sebagai Gareth Mallory.

Syuting Sky Fall dimulai pada bulan November 2011, dan terutama dilakukan  di Inggris, China dan Turki, dimana Mendes dipercaya setelah film Bond terdahulu Quantum of Solace. Sky Fall diputar perdana pada  tanggal 23 Oktober 2012 dan dirilis pertama pada 26 Oktober 2012 di Inggris. Film diputar sebagai peringatan ke-50 serial James Bond, yang diawali dengan film Dr No pada tahun 1962.

Dalam Sky Fall digambarkan bahwa nilai sebuah kerahasiaan organisasi intelijen harganya jauh lebih mahal dibandingkan harga nyawa seorang agen top sekalipun. Untuk melindungi sebuah daftar rahasia jaringan penetrasi agen ke kelompok-kelompok teroris, nyawa seorang agen oleh M pantas dikorbankan. Demikian juga yang dilakukan Raoul Silva, dia menjadi peneror, tokoh pembalas karena dia dahulu agen top M-16 yang dikorbankan diserahkan kepada lawan oleh M pada masa lalu. Raoul merasa sakit hati dihianati, dan mengalami  penderitaan akibat penyiksaan oleh institusi lawan.

Nah, yang menarik dalam film tersebut, Daniel, si James Bond bukan tokoh ganteng Flamboyan yang hobinya bermesraan dengan wanita, tetapi dia tokoh tempur, terlatih, gagah, tegar, setia sampai mati kepada end user-nya (M). Diperlihatkan bahwa walau dia mengetahui ditembak oleh teamnya sendiri, saat dia mengetahui bahwa M-16 diserang bom, maka dia kembali dan menemui M, siap kembali bertugas. Ikatan M dan Bond terus berlangsung lebih emosional dalam Sky Fall, James Bond memahami bahwa ancaman demikian serius dan dia percaya dan dipercayai akan dapat menetralisir ancaman. Sutradara menggambarkan adegan kekerasan dibeberapa negara, yang memang seperti itulah operasi intelijen tempur terjadi.

Penulis dan perancang Sky Fall mampu menggambarkan dan mendekatkan film dengan realitas, bahwa agen intelijen harus mampu bertempur khususnya apabila menghadapi teroris. Amerika Serikat memainkan peran Navy SEALs Six Team sebagai best of the best dalam menghadapi ancaman terorisme global. Six Team itu yang berhasil menyergap Osama bin Laden sebagai tokoh teroris yang oleh AS dikatagorikan sebagai musuh paling berbahaya.

Sky Fall menggambarkan ancaman jauh lebih serius karena Raoul adalah mantan agen top M-16 itu sendiri, yang faham semua seluk beluk bekas organisasinya. Karena itu hanya James Bond yang juga agen top dinilai yang mampu menetralisir ancaman tersebut. Jadi Sky Fall juga agak menggambarkan kira-kira seperti itulah kekerasan didunia intelijen dalam menghadapi perang tertutup, siapa yang tidak siap dan tidak cerdas ya harus siap-siap mati.

Pada akhirnya James Bond sukses dalam misinya, walau dalam cerita, M memang harus dikorbankan oleh produser, karena perannya akan diganti oleh tokoh yang lebih muda, pria energik, sinis, pencuriga  tetapi mumpuni. Realistisnya demikian, maka selesailah Sky Fall dengan kepuasan tersendiri bagi para penonton. Nikmat dilihat, menarik, fantastis tetapi jauh lebih realistis.

Sebagai penutup, yang menarik, dua pemeran James Bond pada awalnya memiliki jenggot putih, Sean Connery dan Daniel Craig. Penulis kini juga memelihara jenggot putih...sebuah trade mark? Entahlah, hanya sebuah kesenangan belaka kok.  Semoga ada manfaatnya tulisan ini. Salam Jim Bon.

Prayitno Ramelan, www.kompasiana.com

 
This entry was posted in Umum. Bookmark the permalink.