Buku Karni Ilyas dan Bukti kekuatan Media sebagai Silent Revolution

26 October 2012 | 12:35 am | Dilihat : 1303

Hari Rabu (17/10) malam, penulis mendapat undangan untuk menghadiri peluncuran buku dari Pak Karni Ilyas yang sangat  terkenal sebagai host dari ILC (Indonesia Lawyer Club). Entah penulis diundang sebagai tetangga atau nara sumber dari TV One kali ini, yang jelas penulis senang dan berterima kasih kepada Pak Karni yang kondang itu. Undangan tertera pukul 18.30 WIB dan direncanakan akan disiarkan langsung oleh TV One. Tepat 18.30 penulis tiba di Grand Ball Room Jakarta Theater dimana para undangan telah mulai berdatangan. Penulis bertemu serta bergabung dengan pakar penerbangan, Marsekal TNI (Pur) Chappy Hakim, mantan Kasau, Komjen Pol (Pur) Adang Daradjatun mantan Wakapolri serta beberapa pengacara yang biasa diundang pada acara ILC.

Kurang dari jam 19.00 para tamu undangan mulai masuk keruang acara untuk mengikuti acara resmi. Penulis duduk semeja bersama Pak Chappy Hakim, Pak Adang Daradjatun, Pak Adang Ruchiatna ( Mayjen Pur, tokoh PDIP) dan Bung Ruhut Sitompul. Acara peluncuran buku Karni Ilyas dengan judul “Karni Ilyas, lahir untuk berita, 40 tahun jadi wartawan.” Ternyata kekuatan politis Karni Ilyas yang  tetangga penulis itu demikian kuat, terlihat dari para tokoh yang hadir pada acara tersebut.

Diantara para undangan, nampak beberapa menteri dan pejabat teras yang hadir seperti, Menkumham Amir Syamsudin, Menteri Muhaimin Iskandar, Ketua DPR Marzuki Ali, Ketua Mahkamah Konstitusi  Prof Mahfud MD, Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie, Kepala Kejaksaan Agung Basrief Arief, Ketua KPK Abraham Samad, Ketua DPD Irman Gusman, Wamenhan Letjen (Pur) Syafrie Syamsudin, Kepala BNN Komjen Pol Gories Merre, Ketua Umum Partai Hanura Jenderal (Pur) Wiranto, Pembina Partai Golkar Akbar Tanjung, tokoh PDIP Mayjen (Pur) Adang Darajatun. Selain itu demikian banyak tamu kehormatan Pak Karni yang tidak dapat penulis sebut satu persatu.

Karni Ilyas, Lahir Untuk Berita

Tepat pukul 19.00 siaran langsung peluncuran buku dimulai. Acara yang dipandu dua presenter senior TV One Aryo Widiardi dan Dwi Anggia mengundang Pak Karni ke panggung dan mulailah Karni Ilyas menyampaikan cuplikan menarik perjalanannya selama 40 tahun menjadi wartawan. Penulis sangat antusias mengikuti kisahnya sebagai jurnalis, mirip dan menjadi teringat dengan kisah almarhum ayah dari penulis, Ran Ramelan, jurnalis yang pernah mendapat penghargaan dari pemerintah sebagai wartawan tiga jaman pada masanya.

“Saya ingin terkenal,” kata Karni Ilyas mengawali sambutannya. Itulah jawaban Karni puluhan tahun silam saat menjawab pertanyaan seorang sepupunya terkait alasannya ingin menjadi wartawan. Cita-citanya itu tidak diraihnya dalam sekejap. Namun Karni percaya setiap ucapan merupakan doa. ”Bagi saya, ucapan itu adalah doa. Seperti halnya keinginan saya menjadi terkenal yang akhirnya tercapai,” katanya. Memang kini Karni dengan suaranya yang khas demikian terkenal.

Karni Ilyas, memulai perjalanan hidupnya dari Sumatera Barat. Dia dilahirkan di Jorong Pahambatan pada hari Kamis, 25 September 1952  dari pasangan Syamsinar dan Ilyas (Ilyas Sutan Nagari). Ayah Karni berasal dari Nagari Balingka, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam. Kakek Karni dari pihak ibunya bernama Datuk Basa (Angku Datuak) merupakan tokoh terpandang di daerahnya, pedagang kain partai besar dan pendiri Diniyah School. Karni lahir setelah kakeknya itu meninggal dunia.

Karni dibesarkan orang tuanya dalam situasi operasi PRRI di Padang. Dalam usia kurang dari enam tahun Karni dibesarkan dalam suasana perang, hingga akhirnya APRI (Angkatan Perang Republik Indonesia) berhasil mengendalikan situasi. Dalam cuplikan bukunya yang ditulis oleh Fenty Efendi, tercatat ketika perang benar-benar berakhir, korban pihak pemerintah 983 meninggal, 1.695 luka-luka dan 154 hilang, Dari fihak PRRI, 6.373 terbunuh, 1.201 luka-luka dan 6.057 menyerah. Itulah kisah Karni kecil yang dibesarkan dalam suasana pertempuran.

Kepahitan hidup dialami Karni dari hancurnya rumah orang tuanya, meninggalnya sang Ibu tercinta saat melahirkan. Karni kecil sudah bergaul dengan koran sejak kecil dimana dia berjualan koran diantaranya harian Aman Makmur dan Haluan. Dia juga berdagang rokok, dan menyaring bubuk emas dari tanah di dekat toko emas. Karni mulai menulis sejak kelas 1 SMA dan bahkan dia demikian bahagia karena tulisannya  dimuat di Koran Haluan.

Setelah lulus SMEA, Karni pindah ke Jakarta. Dia bercita-cita ingin menjadi wartawan karena ingin terkenal. Awal karirnya dimulai dengan bergabung di Harian Suara Karya menjadi reporter karena diijinkan oleh Rahman Tolleng yang malam itu secara khusus diundang naik keatas panggung. Novyan Kaman, seorang anggota DPR saat itu yang merekomendasikan Karni pertama kali kepada pemimpin redaksi Suara Karya yang dijabat Rahman Tolleng. Dengan berpakaian lusuh dan celana cutbray, Karni mencoba menemui Rahman untuk memberikan surat rekomendasi tersebut. ”Tamatan SMA bisa apa? Namun dia bilang cobalah saya, Pak. Dan ternyata hasil berita yang dia tulis itu mencengangkan,” kata Rahman mengingat hal itu.

Selanjutnya Karni meniti karir di Majalah Tempo selama 14 tahun, dari jabatan reporter hingga redaktur pelaksana. Kepiawaiannya dalam bidang hukum membuat Karni ditugaskan untuk memimpin Majalah Forum tahun 1991-1999. Tahun berikutnya Karni memegang posisi sebagai Komisaris Majalah tersebut. Ia memimpin Liputan enam SCTV  dari tahun 1999-2005. Di media elektronik ia menemukan dunia baru yang ternyata luar biasa baginya. Ia terpacu ketika berhadapan dengan waktu tenggat berita yang bisa muncul setiap saat. Dunia baru inilah yang membuatnya memiliki jargon bahwa kekuatan televisi adalah kecepatan, kecepatan, dan kecepatan. Dalam tempo hanya enam tahun, ia berhasil mengantarkan Liputan 6 SCTV menjadi program berita terkemuka di Tanah Air.

Tahun 2005 Karni pindah ke Anteve, tak jarang dia menjadi reporter di Anteve. Kisahnya yang menarik di Anteve, Karni  pernah mengalami patah tangan ketika meliput operasi menggerebekan teroris (diduga Noordin M Top) di Wonosobo, Jawa Tengah pada 2006. Dia  melaporkan kepada pemirsa Anteve dengan kondisi tangan yang dibebat. Tahun 2007, ia dipercaya membenahi TV One yang baru saja diambil alih Keluarga Bakrie. di TV One inilah namanya cukup berkibar, terutama setelah memandu acara “Indonesia Lawyers Club”. Di TV One, Karni menjabat sebagai Direktur Pemberitaan atau Pemimpin Redaksi News dan Sports. Pada tahun 2012, ia meraih Panasonic Gobel Award untuk kategori “Life Time Achievement.”

Pada rangkaian acara malam itu, beberapa pejabat dan mantan pejabat memberikan testimoni terhadap perjalanan karir Karni Ilyas, diantaranya Mahfud MD, Ketua Mahkamah Konstitusi yang menyatakan tidak bisa menolak undangan Karni untuk muncul di TV One. Juga Menkumham Amir Syamsudin yang mengenal Karni sejak kuliah di UI, kemudian Mantan Panglima TNI Wiranto yang mengatakan memberi tanggung jawab Karni mengawal kebebasan media yang bertanggung jawab. Juga Kepala BNN Komjen Gories Mere yang mengenal Karni dalam waktu lama memberikan testimoni saat bersama Karni selama bertahun-tahun.

Dalam sambutan akhirnya Karni Ilyas berpesan kepada para jurnalis muda untuk terus bermimpi demi meraih cita-cita. “Kuncinya kerja keras kerja keras, bermimpilah karena bermimpi itu halal,” katanya. Yang menarik ternyata setelah menjadi orang terkenal tidak enak, tidak ada privasi. Dikenal disana-sini, dimana dalam kondisi tidak baik harus menebar senyum.

Karni Ilyas Yang Disegani

Melihat demikian banyak pejabat dan tokoh politik serta pengacara kondang yang hadir, peluncuran buku tersebut membuktikan kekuatan psikologis seorang tokoh media dinegara ini. Dia memang disegani banyak kalangan. Memang benar istilah silent revolution, kekuatan media, yang mampu secara diam-diam dan tanpa disadari dapat memengaruhi publik. Media dapat merasuki alam bawah sadar publik. Dalam istilah ilmu intelijen peran yang sangat besar dalam menciptakan kondisi (conditioning). Yang lebih utama media dapat menggiring opini publik dengan cepat. Banyak yang berpendapat bahwa kemenangan Jokowi karena dia disukai media dan dijuluki sebagai media darling.Dilain sisi Fauzi Bowo walau mampu muncul di media dengan membayar mahal, beritanya standar formal. Beda dengan Jokowi yang dikemas para jurnalis dan para produser media elektronik yang menilai bahwa nilai jual Jokowi tinggi..

Kembali ke Karni Ilyas, dengan Jakarta Lawyer Club yang kemudian berubah menjadi Indonesia Lawyer Club, dia menjadi tokoh hebat yang mampu menggiring dan memainkan emosi serta alur para nara sumber yang hadir. ILC di TV One menjadi acara yang disukai, karena demikian bebas para nara sumber berbicara. Para tokoh yang diundangnya baik dari kalangan pemerintah, ilmuwan, kelompok anti pemerintah dan bahkan tokoh-tokoh yang agak nyentrik dan bahkan radikal.

Karni adalah host terkemuka pada acara tersebut, yang belum ada tandingannya. Pengetahuannya sangat luas dan sangat menguasai permasalahan yang dijadikan tema serta topik bahasan ILC. Siapapun nara sumbernya selalu berhasil dia giring agar tetap berada di koridor yang dirancangnya. Karni menerapkan pengamanan ketat agar tidak tersentuh UU Informasi dan Teknologi dalam mengemas acara, dia faham karena dunia hukum telah ditekuninya selama bertahun-tahun.

Dengan melihat perjalanan karir serta kondisi media pada saat ini, apabila dilekatkan dengan pemilu dan pilpres 2014, maka peran media dapat dikatakan akan menjadi sarana terampuh. Jejaring partai menjadi lemah apabila tidak didukung media. Karena itu para tokoh yang akan maju dalam pilpres sebaiknya didukung dengan kekuatan media. Mulai terlihat, NasDem secara perlahan menjadi salah satu calon parpol yang mulai diminati, karena didukung oleh media yang berada dibawah kendali Surya Paloh serta Harry Tanusudibyo. Demikian juga Aburizal Bakrie, mulai sering tampil di TV One dengan singkatan nama ARB.

Megawati sebagai tokoh utama yang elektabilitasnya demikian  tinggi, hingga kini belum jelas dukungan medianya. Demikian juga Prabowo, Wiranto, Hatta Rajasa dan beberapa parpol yang minus media, posisinya akan dapat terancam terkena revolusi senyap. Nasib mereka bisa se tragis Fauzi Bowo, walau uangnya banyak, mampu membayar iklan media, tetapi kemudian akhirnya runtuh dan partai pendukungnya tidak berfungsi secara penuh. Tanpa media, khususnya media elektronik, kekuatan baik parpol maupun tokoh akan sangat mudah dimentahkan oleh media.

Membayar iklan serta untuk masuk diberitakan media elektronik biayanya sangatlah mahal, oleh karena itu mempunyai media adalah mutlak dalam kegiatan politik. Nah, nampaknya para tokoh serta elit partai sangat perlu segera memikirkan kebutuhan memiliki media. Tetapi mampukah dengan waktu tersisa dua tahun?Itulah pekerjaan rumahnya. Peluncuran buku Karni Ilyas yang gigih dan selalu kerja keras merupakan sebuah studi kasus yang patut diamati bersama baik oleh para politisi maupun para jurnalis muda.

Prayitno Ramelan, www.ramalanintelijen.net

 

 

 

 

This entry was posted in Sosbud. Bookmark the permalink.