Kaitan Bom Depok dengan Tambora, Apa sasarannya?

10 September 2012 | 8:14 am | Dilihat : 334

Kasus meledaknya bahan peledak di Beji Depok, sedikit demi sedikit mulai terkuak. Seorang sksi mata yang bernama oto Suharto (50), saksi mata ledakan, menyampaikan kepada Berita Satu bahwa dia melihat ada tujuh orang di dalam rumah, di Jalan Nusantara Raya, No.63 RT/04. RW 03, Beji, Kota Depok. Dua orang diketahuinya melarikan diri pasca ledakan. satu korban. Setelah dia masuk, ada seseorang dengan posisinya tertidur dan tidak bisa diajak bicara. "Tangannya putus dan banyak darah di dekatnya," kata Toto. Toto menjelaskan, ledakan yang diketahuinya terjadi pukul 09.50 WIB mengakibatkan kondisi rumah hancur, tembok runtuh dan genteng berjatuhan.

Toto menyatakan didalam rumah dia melihat ada tujuh orang, satu laki-laki tua, satu wanita, tiga pria yang terduduk dan luka serta dua orang lainnya kemudian melarikan diri. "Ya, jadi saya lihat ada tujuh orang. Dua orang lari, lima orang terdiri dari, satu perempuan, satu bapak tua, tiga laki-laki mengalami luka serius. Yang lari umurnya sekitar 25 sampai 27 tahun," katanya.

Menurut Ketua RT setempat, pemilik rumah yang meledak itu bernama Lukman Hakim yang  juga tinggal di sekitar wilayah itu, tepatnya di RT 4 RW 13, Kelurahan Beji, Depok. "Sementara rumah kontrakan disewakan kepada Yusuf Rizaldi," kata Arifin kepada wartawan di Depok, Sabtu (8/9) malam. Ketua RT menyatakan data yang diberikan ke pihak RT dan RW, si penyewa rumah, Yusuf lahir pada 30 Juni 1972 dan beralamat di Jalan Petojo Binatu 05, no.13, RT 9 RW 4, Kelurahan Gambir, Jakarta Pusat.

Dua korban luka, yang diduga sebagai penghuni kontrakan itu diketahui bernama Taufik (32 tahun), dan Bagus Kuncoro (20 tahun), sementara yang mengalami luka parah belum diketahui identitasnya secara resmi. Pihak Polri (Densus 88) hingga kini terus mengejar dua pelaku yang melarikan diri dan diperkirakan menuju ke kota Cirebon. "Mereka bergerak ke daerah barat, Cirebon," kata Kapolri Jenderal Timur Pradopo.

Sementara Komisaris Besar Rikwanto menginformasikan, bahwa penanggung jawab bom rakitan yang juga meledak di Tambora,  Muhammad  Toriq (32) telah menyerahkan diri kepada polisi di Pos Polisi Jembatan Lima, Tambora, Minggu (9/9) sekitar pukul 17.30. "Dia menyerahkan diri seorang diri. Tidak dalam keadaan terluka. Saat datang ia mengenakan rambut palsu dan dalam kondisi tanpa luka. Pria tersebut juga menyerahkan beberapa barang bukti yakni sebuah senjata rakitan berikut pelurunya. Kapolda Metro Jaya, Irjen Polisi Untung S Rajab menuturkan pihak kepolisian akan memeriksa DNA Toriq mencocokan dengan ibunya, Iyot, guna memastikan identitasnya.

Orang yang mengaku Toriq itu dikabarkan mengaku berada di TKP di Beji saat kejadian semalam. Toriq diburu kepolisian karena memiliki sejumlah bahan peledak yang disimpan di belakang rumahnya di Gang Terate VII, Jembatan Lima, Tambora, Jakarta Barat pada Rabu (5/9/2012) lalu.

Thoriq setelah menjalani pemeriksaan di Polda Metro Jaya kemudian dibawa ke Mako Brimob Kelapa Dua. Menurut Rikwanto, jati diri  mengenai orang yang terluka akibat ledakan bom rakitan di Beji, saat ini masih belum diketahui pasti. Setelah Thoriq selesai diperiksa, kemungkinan baru bisa dipastikan jati diri teroris yang terluka itu, katanya.

 

Perkiraan Kaitan Bom Tambora dengan Bom Depok

 

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menduga kasus ledakan di Kecamatan Beji, Depok, Jawa Barat, pada Sabtu (8/9) malam berkaitan dengan kasus penemuan bahan peledak di Tambora, Jakarta Barat, yang dimiliki oelh Muhammad Toriq yang sudah menyerahkan diri itu.

"Kemungkinan besar ada kaitannya dengan Toriq. Hal ini dilihat dari surat wasiat yang ditemukan oleh Polri saat melakukan olah TKP di rumah kontrakan Yayasan Yatim Piatu Bidara," kata Kepala BNPT Ansyaad Mbai usai melakukan jumpa pers bersama Menko Polhukam Djoko Suyanto, Kapolri Jenderal (Pol) Timur Pradopo, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Letjen TNI Marchiano Norman di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Minggu. Kepala BNPT, Ansyaad Mbai   menyatakan, surat wasiat itu ditujukan kepada ibu, istri dan anaknya. Yang bersangkutan berpesan bahwa dirinya tengah mencari ridho Allah di surga. Tak hanya itu, Ansyaad juga menduga bahwa kasus teror di Solo juga ada kaitan dengan kasus ledakan di Depok. Hal ini dilihat dari hasil temuan barang bukti di TKP, yakni pistol baretta.

Menko Polhukam Djoko Suyanto dalam jumpapersnya menyatakan, kasus ledakan di Beji, Depok, Jawa Barat, masih didalami Polri sehingga belum bisa disimpulkan kasus teror di Solo dan Tambora (Jakarta Barat) berkaitan dengan kasus ledakan di Depok.

Dari hasil pengumpulan barang bukti, tim Gegana Polri menemukan di TKP Depok, beberapa barang bukti berupa, tiga granat (nanas mangis, asap), satu pucuk senjata bareta dengan 17 butir peluru, 2 pucuk senjata enggran (jenis serbu) dalam bentuk rangkaian dan puluhan butir peluru, satu peredam senjata). Selain itu, enam buah "switching" dalam rangkaian bahan pembuat bom, enam paralon 1/4 inc sudah terisi rakitan bom, bahan peledak jenis serbuk/black powder potassium, satu unit detonator elektrik, dan surat wasiat yang tengah diteliti. Menurut Brigjen Polisi Boy Rafli Amar didapat sekitar 30 barang bukti yang disita.

Nampaknya beberapa bukti yang kini disita polisi menunjukkan kemungkinan kuat bahwa bom Tambora patut diduga terkait dengan bom Beji Depok. Penulis pada artikel terdahulu menyebutkan bahwa TKP Beji sebagai Safe House-2 dan Tambora dapat dikatakan sebagai Safe House-1. Safe House dalam pengertian operasi intelijen adalah rumah aman, yaitu sebuah tempat yang dipakai sebagai tempat persiapan penyerangan. Safe house pada umumnya dipersiapkan oleh si penyerang dekat dengan lokasi sasaran. Beberapa tahun lalu, safe house teroris di Bekasi mereka persiapkan saat sebelum menyerang JW Marriot, juga safe house Bekasi mereka persiapkan untuk menyerang kediaman Presiden SBY.

Yang menjadi pertanyaan, apa sebenarnya serangan yang dipersiapkan dari kedua safe house tersebut? Sementara menurut penulis, melihat lokasi safe house ada di dalam kota Jakarta dan dekat dengan Jakarta, maka Jakarta kelihatannya akan menjadi sasaran mereka. Kepala BNPT pernah menyebutkan bahwa dari dokumen yang ditemukan saat penangkapan anggota teroris yang ikut latihan di Poso, Gedung DPR sebagai salah satu sasaran. Disamping itu, menurut teori, teroris selalu memanfaatkan momentum agar gaung serangan mereka besar, walau serangannya dalam skala kecil. Sasaran mereka nampaknya masih tetap ke polisi, karena serangan di Solo terhadap polisi efek beritanya besar. Mereka butuh pemberitaan besar dari media. Selan itu ini hanya disimpulkan saja, apa momentum besar di Jakarta dalam waktu dekat ini, itulah kesimpulannya. Secara pasti, kita tunggu berita pengembangan dari penyelidikan Polri.

Sebagai penutup, penulis mengingatkan bahwa masalah terorisme jangan hanya diserahkan kepada Densus, Polri, BNPT saja. Peran keterlibatan masyarakat yang harus semakin besar dilibatkan, diharapkan masyarakat lebih waspada dan mencurigai serta melaporkan kepada aparat keamanan apabila melihat sesuatu yang mencurigakan. Semoga bermanfaat.

Prayitno Ramelan, www.ramalanintelijen.net

Ilustrasi Gambar : tribunnews.com

 

 

This entry was posted in Hankam. Bookmark the permalink.