Siapa Teroris Penyerang Polisi di Solo itu?

2 September 2012 | 5:12 pm | Dilihat : 449

Pertanyaan terhadap para penyerang beberapa Pos dan personil Polisi di Solo mulai terkuak. Korban terakhir aksi teror, adalah tewasnya Brigadir Polisi Kepala Dwi Data, yang ditembak orang tak dikenal saat bertugas di pospol dekat Swalayan Matahari Singosaren di Jalan Dr Radjiman, Kamis (30/8) sekitar pukul 21.15 WIB.

Upaya intensif pengejaran para pelaku penembak polisi tersebut membuahkan hasil, dimana pada Jumat (31/8),  beberapa anggota Densus-88 menyergap dua tersangka teroris di di sekitar supermarket Lotte Mart, Jalan Veteran, Solo, kemudian terjadi tembak menembak. Dalam penyergapan tersebut dua tersangka teroris tewas ditembak dan dari  pihak polri menderita kerugian, satu anggota Densus 88 Mabes Polri, atas nama Bripda Suherman tewas.  Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Pol Anang Iskandar  Sabtu 1 September 2012 mengatakan, "Bripka Suherman terkena tembakan di bagian perut."

"Dua teroris tewas diketahui bernama  Farhan dan Mukhsin serta satu orang ditangkap," kata Kepala Divisi Humas Polri. Tersangka teroris yang ditangkap atas nama Bayu Setiono yang ditangkap pada Jumat malam (31/8),  saat Densus menggerebek sebuah rumah di Karanganyar, Jateng. Dalam penyergapan di Solo tersebut, barang bukti yang disita adalah satu pucuk pistol Pietro Baretta buatan Italia di sisi sebelah bertuliskan PNP (Property Philipines National Police), tiga buah magazine, 43 peluru kaliber sembilan milimeter merk Luger dan sembilan holopoint CBC, kata Irjen Anang.

Dalam penjelasannya kepada media, Kepala Badan Nasional Anti Terorisme, Irjen Pol (Pur) Ansyaad Mbai menjelaskan bahwa aksi teror yang terjadi di Solo tidaklah berdiri sendiri. Aksi teror tersebut terkait dengan beberapa informasi kegiatan dan operasi anti teror pada tahun lalu. Menurut Ansyad, kelompok ini terkait jaringan teroris yang pernah dibekuk dan ditembak mati di Bali, yang disebut dengan kelompok lima. Selain itu, mereka juga terkait dengan kelompok sebelas.

Dijelaskan oleh Ansyaad, "Dari kelompok sebelas itu, kami kembangkan dan menangkap dua orang di Poso, Sulawesi Tengah.  Kelompok Medan sendiri gabungan dari jaringan Cirebon dan Solo. Poso terkait Solo dan Jatim." Kronologis rinci dijelaskan oleh Ansyaad, sejak 18 Maret 2012,  lima tersangka teroris ditangkap di Bali, seminggu kemudian terjadi penangkapan kelompok sebelas dibeberapa kota. Ditangkap di Jakarta (1), Medan (4), Palembang (1), Bandung (2), Solo (2), dan Jawa Timur (1). Kelompok sebelas ini merupakan gabungan dari teroris kelompok Cirebon, Solo dengan Medan. Pada 12 Juli 2012, telah ditangkap 2 orang di Poso.

Kelompok teroris didanai oleh kelompok pendukung pengumpul dana, yang berhasil mengumpulkan uang milyaran rupiah dengan kemampuan hacker (MLM). Sebagian dana tersebut dipergunakan untuk membiayai latihan teroris di Poso (asal Poso, Bima, Solo), yang kemudian telah menyebar kebeberapa wilayah. Beberapa ratus juta untuk membiayai kegiatan teror di Solo, serta untuk pembelian senjata ditempat. Jaringan teror tersebut menurut Kepala BNPT merupakan sebuah jaringan besar dan berhubungan dengan luar negeri, dimana diketahui Farhan, teroris yang tewas di Solo baru tiba dari Filipina pada bulan Juli 2012 dengan membawa senjata.

Dari beberapa informasi, kedua teroris yang tewas ditembak di Solo merupakan teroris yang cukup terlatih, dan Farhan Mujahidin yang kemudian diketahui mempunyai hubungan dengan JAT (Jama'ah Ansharut Tauhid) pada 2005 adalah santri di pesantren Al-Mukmin hingga 2007.  Direktur Ponpes Al-Mukmin Ngruki Ustaz Wahyuddin menyatakan kepada wartawan Senin (3/9), ”Menurut catatan kami, Farhan dan Muchsin memang pernah belajar di Al-Mukmin, namun tidak satu angkatan." Dijelaskannya bahwa Farhan yang lahir tanggal 14 November 1993, masuk Madrasah Tsanawiyah Ponpes Al-Mukmin pada 2005. Farhan  lulus dari Sekolah Dasar (SD) 041 Liang Bunyu, Nunukan, Pulau Sebatik, Kalimantan Timur.

Selanjutnya pada 2007-2010 Farhan nyantri di pesantren Al-Muthakim Jepara. dan pada tahun 2010 bergabung dalam kelompok Sabar di Makassar dan kemudian dia pindah ke Filipina, bergabung dengan kelompok Abu-Sayyaf di Mindanao. Pada Juli 2012 Farhan kembali ke Indonesia dan berhubungan dengan JAT dan kelompok Hisbah di Solo.  Sedangkan Muchsin Tsani masuk sebagai siswa Kuliyyatul Mu’aliminAl-Islamiyyah (KMA), pendidikan setingkat SMA pada 2008. Muchsin merupakan alumnus SMP 126 Jakarta. ”Karena berasal dari sekolah umum, Muchsin harus mengikuti pendidikan persiapan selama satu tahun,” katanya.

Kepala BNPT menjelaskan bahwa Farhan dan Muchsin yang tewas di Solo merupakan jaringan Mujahidin di Jakarta. Mereka awalnya berniat beroperasi di Jakarta, tapi karena pengamanan ketat urung dilakukan."Bapaknya Farhan itu Sartono, yang terlibat usaha membunuh Matori (mantan Menhan/alm). Dia mati dihakimi oleh tukang ojek. Nah kemudian ibunya kawin sama Abu Omar, yang tahun lalu sudah ditangkap. Tahu kan Abu Omar? Dia ini yang menyelundupkan senjata dari Filipina. Nah dia, (Farhan) ini yang membawa senjata dari Filipina ke Indonesia, bersama Abu Omar itu," jelasnya. Penulis membuat artikel tentang Abu Omar yang ditangkap pada 4 Juli 2011, kini berada dalam tahanan, dengan judul, "Modus Baru Teroris Abu Omar, Menculik dan Menembak" (http://ramalanintelijen.net/?p=4323 ), yang ditayangkan pada 16 November 2011.

Dari beberapa fakta tersebut, terlihat bahwa kasus di Solo adalah kegiatan teror yang dilaksanakan oleh bagian kelompok sebelas dan ada kecenderungan dibukanya lagi lebih intensif hubungan mereka dengan kelompok radikal di luar negeri (Filipina). Yang nampaknya sangat perlu diwaspadai adalah terbongkarnya upaya kelompok teroris yang mempunyai kemampuan pengumpulan dana melalui kegiatan illegal dengan cara-cara hacker. Baca ulasan penulis tentang pembongkaran upaya teroris dalam mengumpulkan dana tersebut, dengan judul "Umar Patek dan Teroris Indonesia yang Semakin Pintar" (http://ramalanintelijen.net/?p=5474), yang penulis tayangkan pada 27 Juni 2012.

Teroris kini menjadikan polisi sebagai prominent target, dan ini yang perlu diwaspadai oleh aparat kepolisian. Rencana penyerangan polisi sebenarnya telah diketahui saat  Abu Omar ditangkap. Dari beberapa dokumen yang terungkap, diketahui bahwa kelompok ini merencanakan melakukan aksinya dengan modus penculikan dan penembakan. Berbeda dengan kelompok teroris lainnya, kelompok Abu Omar tak menggunakan modus bom. Kadiv Humas Polri Saud Usman Nasution pada tahun lalu, Selasa (15/11/2011) di Jakarta, menjelaskan, "Mereka juga telah mempersiapkan pelatihan militer, antara lain penculikan, perakitan senjata dengan cepat, bongkar pasang senjata api, dan menembak."

Selanjutnya Kabag Penum Polri Kombes Pol Boy Rafli Amar, tahun lalu di Mabes Polri, Jakarta, Senin (14/11/2011) menegaskan, "Target mereka antara lain penyerangan kantor polisi, sudah ada dokumen perencanaannya untuk beberapa kantor polisi." Selain kantor polisi, mereka juga menargetkan serangan kepada organisasi masyarakat tertentu. "Dari beberapa dokumen mereka miliki juga rencana kepada beberapa kelompok masyarakat lain yang masih didalami," kata Boy.

Demikian sedikit informasi serta ulasan tentang kasus penyerangan polisi dan penyergapan teroris yang cukup menggemparkan di Solo itu. Yang jelas mereka menurut penulis memanfaatkan momentum HUT RI, malam Lebaran dan terkenalnya walikota Solo, Jokowi sebagai calon Gubernur DKI. Terbukti berita teror Solo terus diberitakan oleh media. Dengan terus diberitakan, eksistensi mereka akan tetap terlihat dan merupakan upaya pembuktian diri yang lebih konkrit. Jadi jelas teror Solo tidak terkait dengan politik, khususnya pilkada DKI.

Masalah teror jelas belum selesai, karena masih ada jaringan yang masih mengendap yang dikatakan Kepala BNPT masuk dalam jaringan besar. Seperti dikatakan Kapolri, kita mesti waspada menghadapi aksi teror itu. Kini beredar bermacam-macam isu baik menyangkutkan teror dengan politik dan beberapa isu negatif lainnya, kita sebaiknya menunggu informasi atau penjelasan dari para pejabat terkait seperti Kapolri, Kepala BNPT maupun Menko Polhukkam. Yang perlu dijawab, apa motif mereka terus menyerang polisi? Apakah untuk menarik perhatian sebagaimana layaknya pakem teror, menimbulkan rasa takut, menunjukkan eksistensi atau hanya merupakan tindakan balas dendam? Itu yang perlu dijawab oleh penyidik.  Demikian saran pendapat penulis.

Prayitno Ramelan, www.ramalanintelijen.net

Ilustrasi Gambar : nasional.news.viva.co.id

 

 

This entry was posted in Hankam. Bookmark the permalink.