Golkar yang Besar dan Kuat tapi Rapuh

13 April 2012 | 5:28 am | Dilihat : 347

Siapa yang tidak percaya Partai Golkar itu besar dan kuat? Partai ini pernah menjadi the rulling party (partai penguasa) selama 32 tahun saat jamannya pak Harto di jaman Orde Baru. Kemudian saat Pak Harto jatuh, banyak yang berfikir kalau Golkar akan mengecil, menciut, bahkan ada yang berfikir habislah partai beringin ini, tapi ternyata tidak. Golkar tetap eksis dan besar, mampu  menunjukkan dirinya sebagai partai senior yang berisi politikus handal dan cerdik.

Golkar mampu menyesuaikan diri, beradaptasi dengan sikon (situasi dan kondisi) perkembangan politik di Indonesia, "ampuh" menurut terminologi Jawa. Tetapi, sejak Pak Harto jatuh, Golkar yang   besar dan tetap menjadi parpol papan atas tidak pernah sekalipun berhasil mendudukan kadernya menjadi presiden. Prestasi jabatan tertinggi hanya diraih oleh JK (Jusuf Kalla) sebagai kadernya menjadi wakil presiden, mendampingi presiden SBY dari tahun 2004-2009. Itupun JK bukan karena dicalonkan oleh Golkar berada di posisi wapres.

Nah, menjelang pemilu dan pilpres 2014, Golkar yang nampak semakin besar dan kuat, kini mengalami resah internal. Resah karena adanya perbedaan pendapat antara DPP (Dewan Pimpinan Pusat) dengan Dewan Pembina. DPP disatu sisi menginginkan Rapat Pimpinan Nasional yang semula direncanakan akan diselenggarakan Oktober tahun ini akan diajukan pada bulan Juni Rapimnas akan diarahkan menetapkan Aburizal Bakrie sebagai capres.

Disitulah  kemudian muncul perbedaan pandangan antara DPP dengan Dewan Pembina. Faksi pertama yaitu pendukung Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie (Ical) dengan juru bicara Idrus Marham (Sekjen) mengatakan ada 27 permintaan pengurus provinsi untuk mempercepat Rapimnas, tujuannya agar cukup waktu dalam mensosialisasikan Capres Golkar dan menjalankan programnya.

Faksi kedua, yaitu kelompok Dewan Pembina. Akbar Tanjung sebagai Ketua Dewan Pembina mengatakan pengajuan Ical sebagai capres  tanpa konvensi belum pernah dibicarakan dengan Dewan Pembina. Selain Akbar, mantan ketua umum Golkar Jusuf Kalla menyatakan Golkar belum pasti mengusung Aburizal Bakrie sebagai kandidat presiden. JK berpatokan dengan hasil survei internal yang harus diperhatikan oleh Ical. Anggota Dewan Penasehat Golkar Siswono Yudohusodo juga memprotes soal penentuan capres partai. Dalam Rapimnas baru akan ditentukan metode penentuan clon, apakah memakai konvensi atau survei.

Persepsi publik menunjukan bahwa Partai Golkar bisa diperkirakan akan menjadi partai terunggul pada pemilu 2014. Dari survei LSI (Lembaga Survei Indonesia) yang dilaksanakan dari 25 Pebruari-5 Maret 2012, Golkar mendapat apresiasi 17,7 persen, PDIP, 13,6 persen dan Partai Demokrat 13,4 persen. Menurut peneliti LSI Burhanuddin Muhtadi, Golkar berhasil menarik perhatian publik melalui iklan dan beropini di media. Golkar akan terus menguat kata Burhanuddin, karena sosialisasi, dimilikinya jaringan kuat dan memiliki dukungan hingga ke daerah.

Dari hasil survei capres bulan Februari 2012, nama JK berada di posisi ke empat sebagai tokoh yang layak dipilih, dibawah posisi SBY, Megawati dan Prabowo. Responden saat ditanya tentang siapa capres, sebanyak 7 persen responden memilih JK, posisi pertama tetap Megawati, 15,6 persen dan Prabowo 10,6 persen. Sementara Aburizal Bakrie dipilih responden 5,6 persen. Saat responden diberi pilihan 18 nama, JK mendapat dukungan 9,7 persen dan Ical 7,2 persen.

Dari fakta tersebut, manajemen atau mesin  Partai Golkar nampaknya memang jauh lebih kuat dibandingkan PDIP dan Partai Demokrat. Peluangnya pada 2014 nanti akan semakin kuat. Kelemahan Golkar terletak belum adanya metode penetapan calon presiden. Pada pilpres 2004 Golkar menerapkan sistem konvensi, dan pada 2009 Golkar menetapkan capresnya melalui penetapan dalam Rapimnas.

Disinilah kerawanan dari Golkar sebagai partai yang cerdas, tetapi nampaknya kurang cerdik. Cerdas, karena memang para petingginya orang hebat, bekas pejabat dan pengusaha sukses yang kaya. Tetapi penulis menilainya kurang cerdik, karena strateginya selalu tidak sesuai dengan kondisi yang berlaku. Pada 2004, kedudukan Akbar Tanjung sebagai Ketua Umum demikian kuat, akan tetapi Golkar memilih konvensi, yang entah bagaimana terjadinya dimenangkan oleh Wiranto yang gagal maju ke putaran kedua. Pada 2009, kembali Golkar salah posisi, keputusan di Rapimnas memang kuat mendukung JK, tetapi survei menunjukan   bahwa JK hanya lebih kuat sebagai wapres. Akhirnya pasangan JK-Wiranto dalam pilpres 2014 posisinya jauh dibawah pasangan SBY-Budiono dan juga jauh dibawah Mega-Prabowo.

Nah, bagaimana 2014? Kondisi perbedaan dua faksi di internal merupakan signal bahaya untuk suksesnya Partai Golkar dalam menjadikan kader terbaiknya sebagai presiden. Kondisi partai yang tidak solid walau besar tetapi rapuh. Kemungkinan besar Golkar berpeluang besar menjadi partai terkuat pada 2014. Para petinggi parpol sebaiknya segera bertemu untuk membicarakan siapa calon yang paling tetap sebagai capres.

Hasil survei memang menunjukkan JK berada diatas Aburizal, perbedaan antara 1,4-2 persen. Tetapi jangan dilupakan bahwa keberhasilan Golkar masa kini adalah hasil kerja kerasnya Ical. Jadi ya sebaiknya memang Ical yang dipilih sebagai capres Golkar, sementara JK memang populer sebagai mantan wapres, tetapi JK pernah kalah telak pada pilpres 2009 dari SBY dan Megawati. Kondisi psikologis ini perlu diperhitungkan oleh elit Golkar.

Nah, bagaimana peluang Ical pada 2014. Penulis sejak lama mengikuti perkembangan capres, kemungkinan besar Ical akan kalah apabila head to head dengan Megawati. Peluang terbaiknya kini apabila Ical menggandeng Prabowo sebagai capres. dari hasil survei Mega sendiri dalam survei mendapat 15,6 persen, apabila digabungkan Ical-Prabowo akan mendapat 16,2 persen. Disitu menunjukkan betapa beratnya Ical apabila melawan Mega. Dari setting lain, apabila Mega digandengkan dengan Prabowo, keduanya mendapat dukungan 26,2 persen, dan apabila Aburizal dipasangkan dengan JK hanya mendapat 16,9 persen. Peluangnya sangat tipis.

Dari hitungan sederhana saja Ical akan dapat dikalahkan oleh Mega, kecuali ada sedikit sinar terang apabila dia mengambil Prabowo sebagai cawapresnya. Jadi, nanti dalam posisi apabila Ical sudah jadi capres resmi Partai Golkar saja, Golkar harus sangat memperhitungkan Megawati. Penulis tetap memegang Megawati sebagai salah satu calon utama yang berpeluang sebagai the next president. Apabila Prabowo sudah digandeng Mega, sepertinya tidak ada pasangan lain yang akan mampu mengalahkannya. Peluang Ical akan semakin kecil, karena bukan tidak mungkin juga, Prabowo dengan nama besarnya bisa diambil Partai Demokrat sebagai capres. Tanpa mengecilkan kebesarannya,  Golkar harus siap-siap kembali menjadi anggota setgab koalisi pada 2014 apabila hal tersebut yang terjadi.

Demikian sedikit ulasan yang penulis buat. Kerapuhan Golkar hanya karena masih besarnya ambisi dari beberapa tokoh seniornya. Yang terbaik adalah apabila para senior itu mau berkomunikasi satu sama lainnya, mengesampingkan kepentingan pribadi atau kelompok, dan mengutamakan kepentingan partainya. Dalam posisi ini penulis sebagai indie blogger tidak mendukung siapapun, hanya memberikan sedikit ulasan sederhana dari fakta-fakta yang ada. Semoga bermanfaat. Prayitno Ramelan ( www.ramalanintelijen.net )

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.