Lima Teroris Tewas Disergap Aparat di Bali

19 March 2012 | 9:40 am | Dilihat : 204

Pada hari Minggu (18/3) malam sekitar pukul 21.30 telah dilakukan penyergapan terhadap kelompok tersangka teroris di Bali. Kabag Penum Mabes Polri Kombes Pol. Boy Rafli Amar dalam siaran pers, Minggu (18/3) malam menyatakan,  "Telah dilumpuhkan lima pelaku kejahatan. Lokasi pertama di Jalan Gunung Sapotan, Denpasar, dan lokasi kedua di Jalan Danau Poso, Sanur, Denpasar."

Tercatat lima orang yang diduga teroris tewas ditembak petugas di dua tempat terpisah. Tiga orang ditembak mati di Bungalow Laksmi, Jalan Danau Poso No 99, Sanur, Denpasar, Bali. Sedangkan dua orang lainnya tewas ditembak  Densus  di rumah kos, di Jalan Danau Soputan, Sanur, Bali.

Kelima orang pelaku jaringan teroris tersebut adalah  itu adalah HN (32) asal Bandung yang merupakan DPO (Daftar Pencarian Orang) karena keterlibatannya dalam  perampokan CIMB Medan dan AG (30) warga Jimbaran (keduanya disergap di kawasan Gunung Soputan) serta tiga orang lainnya adalah UH alias Kapten, Dd (27) asal Bandung, dan M alias Abu Hanif (30) asal Makassar disergap dikawasan jalan Danau Poso. Juru bicara Polri, Irjen Pol Saud Usman Nasution menyatakan masih memburu sejumlah orang lagi di Bali.

Kombes Pol Boy Rafli menjelaskan bahwa setelah penyergapan tersebut berhasil disita 2 pucuk senjata api jenis FN, 2 magazin dan peluru berjumlah 48 butir kaliber 9 milimeter serta sebuah penutup wajah.  Kedua senjata api jenis FN tersebut disita dari dua tempat berbeda. "Satu pucuk didapat dari TKP di Soputan dan 1 pucuk dari TKP Jalan Danau Poso," ungkap Boy.

Kabid Humas Polda Bali Kombes Pol Hariadi menjelaskan kelima orang itu awalnya diduga akan melakukan perampokan di beberapa tempat. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, petugas mencoba untuk melumpuhkan kawanan ini. Hanya saja saat hendak ditangkap,mereka melakukan perlawanan sehingga sejumlah petugas terpaksa melumpuhkan mereka. Dijelaskan bahwa mereka ditengarai rencananya hendak melakukan perampokan di PT Bali Money Changer di Jl Sriwijaya Kuta dan Toko emas di Jl Uluwatu Jimbaran.

Kelompok tersangka teroris yang disergap di Bali tersebut diperkirakan sedang berusaha mengumpulkan dana untuk rencana membuat kekacauan/serangan saat hari raya Nyepi di Bali. Pada saat itu mereka memperkirakan gerakannya akan lebih bebas dikaitkan dengan kegiatan nyepi warga Bali.

Yang menarik, ternyata HN (Hilman) sebagai salah satu korban tewas sebagai pemimpin kelompok itu adalah buron dari jaringan perampokan Bank CIMB Medan pada 18 Agustus 2010, yang termasuk kelompok teroris Toni Togar (Dipenjara 20 tahun karena kasus Bom JW Marriott dan perampokan CIMB Medan) dan Fadli Sadama yang juga terlibat perampokan Bank CIMB Niaga (Ditangkap dan dihukum 11 Tahun penjara). Dengan demikian maka kelompok Bali ini merupakan cel dari jaringan lama.

Kombes Boy menuturkan masih ada DPO buron dari kasus perampokan CIMB Niaga Medan, yakni Sabar (39), Rizky (32),Maralon (30) Wak Bes (30), Tajudi (30), Didi Mulyadi (31) san Aldian (35).

Menurut Kepala BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme), seluruh aksi teror di Indonesia ini berkaitan. Apabila kita lihat peta, ada jaringan daerah Cirebon, Solo, Medan, Sulawesi Tengah, Poso, lalu kita isi nama para teroris. Hasilnya pasti ada nama yang dobel di satu daerah dan ada di daerah yang lain. Sebab, me­reka satu jari­ngan, satu strategi, satu ideologi, dan to­kohnya satu juga. Kelompok ini menurut Kepala BNPT terkait dengan jaringan Solo dan mereka adalah jaringan JAT. Perampokan yang dilakukan pelaku teror akan dilanjutkan dengan tindakan mereka selanjutnya, tegas Ansyaad.

Penulis sependapat  rekan penulis yang juga pengamat intelijen, Wawan H Purwanto yang menyatakan dalam seminar internasional di bertema "Peran Ulama Pesantren dalam Mengatasi Terorisme Global" di Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (17/3), bahwa "Hingga sepuluh tahun ke depan terorisme tetap jadi ancaman serius. Gonjang-ganjing ini tidak akan segera berakhir dalam satu dekade."

Dengan demikian maka sel-sel yang pikirannya sudah terkontaminasi faham radikal masih terus berkembang, seperti yang dikatakan oleh Kepala BNPT Irjen Pol (Purn) Ansyad Mbai. Ancaman gerakan radikal cukup besar karena potensi terorisme sulit untuk diukur. Apa­bila tin­dakan terorisme meledak, dam­­paknya sangat besar padahal hanya dilakukan oleh satu orang. Saat ini masih ada belasan ke­lompok yang melatih, merekrut, mencari dana, dan mengumpul­kan logistik untuk melakukan tindakan keji. Mereka terpencar, jumlahnya sekitar 100 orang. Tapi hanya 15 orang yang memi­liki dasar untuk dapat ditangkap, mereka dimasukkan dalam Daftar Pencarian Orang (DPO).

Demikian informasi penyergapan kelompok yang diduga sebagai pelaku terorisme di Bali. Jelas dampak setiap serangan teror di Bali akan membawa akibat yang sangat besar bagi nama Indonesia, khususnya Bali sebagai salah satu wilayah turisme unggulan kita. Penyelesaian masalah teror bukan hanya tanggung jawab BNPT atau Polri belaka. Karena itu program BNPT dalam deradikalisasi harus didukung masyarakat secara luas.  Prayitno Ramelan ( www.ramalanintelijen.net )

 

 

 

 

This entry was posted in Hankam. Bookmark the permalink.