Seberapa Besar Peluang Faisal Basri ?

18 March 2012 | 8:38 am | Dilihat : 406

Pasangan yang akan maju sebagai cagub-cawagub DKI paling lambat harus mendaftar pada hari Senin (19/3) ke KPUD DKI Jakarta. Yang sudah dipastikan mendaftar tiga pasang, Alex Nurdin-Letjen Mar (Pur) Nono Sampono (Golkar, PPP,PDS), Faisal Basri-Biem Benyamin serta Mayjen TNI (Pur) Hendardji Soepandji-Ahmad Riza Patria, keduanya dari jalur independen.

Sementara Fauzy Bowo (Foke) diperkirakan akan menjadi kandidat terkuat dari Partai Demokrat, dengan cawagub dari PDIP. Walaupun belum ada keputusan resmi partai, Taufiq Kiemas  meyakini keputusannya tidak akan jauh dari apa yang berkembang belakangan ini. PDIP menurut informasi saat melakukan fit and propper test terhadap kadernya Wali Kota Solo Joko Widodo (Jokowi) dan Nono Sampono, nampaknya menilai keduanya kurang kuat apabila di adu head to head dengan Foke ataupun Alex Nurdin.

Taufik Kiemas dan tokoh yang mengusulkan nama Adang merespons positif berita yang berkembang di media, dengan menyatakan bahwa pasangan Foke-Adang sebagai yang ideal untuk Jakarta ke depan. Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) itu menilai keduanya sebagai orang yang mengetahui selukbeluk Jakarta dan bagaimana membenahinya.”Itu bagus dan kalau cerdas memang yang pas begitu,” katanya. Walaupun demikian, pasangan ini belum final, karena kunci keputusan tetap saja berada di Partai Demokrat.

Kalau Demokrat dan PDIP berkoalisi, kemungkinan parpol lainnya yang belum menentukan pilihannya nampaknya akan bergabung mendukung Foke sebagai incumbent. Nah, dengan demikian dinamika pilkada DKI tinggal menunggu keputusan PKS, apakah akan menentukan pasangan sendiri atau juga merapat ke incumbent.

Apabila benar hanya empat pasang yang maju dalam Pilkada DKI, maka kandidat akan terdiri dari tiga pasang sipil militer yang kesemuanya mantan pejabat dan satu pasangan warga DKI biasa. Penulis kembali teringat pilkada Jabar 2008, dimana pasangan warga biasa Heryawan-Dede Yusuf mampu menjungkirkan optimisme incumbent Danny Setiawan-Mayjen TNI Iwan Sulanjana (mantan Pangdam Siliwangi), serta pasangan Jenderal TNI (Pur) Agum Gumelar (Mantan Menko Polkam)-Nu'man Abdulhakim (Wagub Jabar). Danny didukung Golkar dan Partai Demokrat, Agum diusung PDIP, PPP,PKB , PBB, PKPB, PBR dan PDS, sementara Heryawan hanya didukung PKS dan PAN.

Kemenangan Heryawan-Dede Yusuf lebih dikarenakan keduanya adalah pasangan biasa saja, bersih, sederhana dan bukan pejabat atau mantan pejabat. Sementara dua pasangan lainnya adalah tokoh-tokoh hebat, bak selebrities yang diberitakan seperti tokoh tak terkalahkan. Dua pejabat Gubernur-Wakil Gubernur dan dua Jenderal yang demikian populer di media.

Nah, kembali ke Pilkada DKI Jakarta, apakah sejarah Pilkada Jabar akan terulang di Jakarta. Bisa saja terjadi. Ketiga Pasangan di DKI dinilai demikian hebat karena memang mereka pejabat atau mantan pejabat, Foke (incumbent), Adang Ruchiatna (kalau terpilih) mantan Pangdam, Alex Nurdin (Gubernur Sumsel), Nono Sampono (mantan Dan Kormar, Kabasarnas), Hendardji (Mantan Dan Puspom). Sementara pasangan Faisal Basri-Biem Benyamin, Faisal hanyalah ilmuwan, dosen UI dan Biem anak Kemayoran, keturunan dari komedian Benyamin Sueb.

Dimana titik rawan para pejabat atau mantan pejabat tersebut? Sejak terjadinya penangkapan dan dipenjaranya demikian banyak pejabat dan anggota Parpol karena kasus korupsi, dan terus bergulirnya sidang Nazaruddin, rakyat kemudian menyimpulkan bahwa politikus itu tidak bisa dipercaya sebagai pemimpin. Citra parpol dan elitnya menjadi rusak dan turun. Dengan diberinya kesempatan kepada calon independen mengikuti pilkada DKI Jakarta, munculah harapan masyarakat Jakarta. Calon independen mereka nilai bersih, tidak terbelenggu parpol. Ini merupakan salah satu kekuatan Faisal.

Yang lebih memukul citra parpol adalah pernyataan dari Busro Moqodas pada Kamis (8/3/2012). Busyro mengatakan bahwa partai politik kini menjadi tempat pembibitan koruptor muda. 'Sudah banyak buktinya,'' kata Busyro di Kantor Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Jakarta. Busyro menjelaskan, korupsi di partai politik sangat struktural dan bahkan direncanakan sehingga terbentuklah proses regenerasi. "Banyak koruptor yang muda-muda muncul. Itu indikasi dari proses regenerasi. Mereka pasti mempunyai planning," tandasnya.

Seperti diketahui, banyak kader partai politik, terutama yang duduk sebagai anggota DPR, kini menjadi tersangka, terdakwa, bahkan sebagian telah berstatus terpidana korupsi dan mantan terpidana korupsi. Selama masa reformasi, KPK telah memenjarakan di antaranya sekitar 40 anggota DPR, 8 menteri, 7 gubernur, 6 komisioner Komisi Pemilihan Umum, mantan Kapolri, serta duta besar dan konsulat jenderal. Selain itu, tercatat 26 bupati/wali kota serta 30 anggota DPRD dipenjara di berbagai daerah.

Disinilah kekuatan Faisal Basri-Biem Benyamin akan mendapat hati pada masyarakat Jakarta. Pasangan termuda ini tidak pernah diberitakan negatif yang terkait dengan korupsi, karena keduanya bukan mantan pejabat.  Melihat kasus pilkada Jabar, rakyat bosan dengan pejabat/mantan pejabat. Jadi kita lihat saja kedepan, karena pemilu atau pilkada, khususnya Pilkada DKI Jakarta  juga belum dapat diyakini akan berjalan jujur dan adil. Sejarah masa lalu, 6 komisioner KPU juga dipenjara karena terbukti korupsi.

Pesan moralnya "hati-hati dengan serangan fajar," karena kekuatan finansial mereka (calon) yang kaya dan berduit bisa saja mengatur hasil pilkada. Beberapa teman penulis mengatakan, sulit untuk mengalahkan Fauzy Bowo di Jakarta. Komentar penulis, "Ya kita lihat saja nanti." Hati-hati dengan calon independen, Faisal-Biem peluangnya cukup besar, itulah kesimpulannya. Prayitno Ramelan (www.ramalanintelijen.net )

Ilustrasi Gambar : Sindonews.com

 

 

 

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.