Israel Akan Menyerang Reaktor Nuklir Iran?

7 March 2012 | 1:41 pm | Dilihat : 1000

Hari Senin (5/3) waktu setempat, terjadi pertemuan penting di Gedung Putih antara Presiden AS Barrack Obama dengan PM Israel Benyamin Netanyahu yang membahas kebijakan tentang masalah nuklir Iran. Pertemuan nampaknya belum menemukan titik temu, kedua negara berbeda prinsip apakah nuklir Iran akan diserang atau diselesaikan dengan jalur diplomasi.

Netanyahu menyatakan belum memutuskan apa langkah konkrit yang akan diambil Israel terhadap program senjata nuklir Iran, kecenderungannya mereka akan menyerang dan menghancurkan reaktor tersebut. Sementara Presiden Obama menyatakan bahwa AS menginginkan tetap melakukan tekanan dan jalan diplomasi. Obama mengatakan resiko terlalu besar  penggunaan kekerasan militer.

Presiden Obama dalam pertemuan bilateral tersebut berusaha meyakinkan PM Israel Netanyahu sekaligus meyakinkan kritikus Partai Republik bahwa sangsi politik dan ekonomi terhadap Iran mulai bekerja dan merupakan bagian dari alasan Iran untuk kembali ke meja perundingan. Netanyahu menegaskan bahwa Israel bisa menjaga keamanan dirinya sendiri dari setiap ancaman yng timbul, dan Israel yang menentukan nasib dirinya sendiri. Israel tetap yakin proyek nuklir Iran sangat mengancam negaranya, serta yakin Iran akan mampu membuat senjata nuklir dalam waktu singkat.

Israel sudah menyatakan secara terbuka, mengancam akan menyerang fasilitas nuklir Iran jika sangsi AS menemui kegagalan. Dilain sisi Obama menyatakan "Satu hal yang belum kita lakukan adalah kita belum meluncurkan perang," kata Obama. Selanjutnya ditegaskannya dalam menantang Partai Republik, “If some of these folks think we should launch a war, let them say so, and explain to the American people.”

Apabila Republik menginginkan perang, mereka harus menjelaskan tentang biaya dan manfaat perang itu kepada rakyat Amerika. Obama mengatakan masih yakin bahwa AS dan Israel masih percaya masih ada waktu menekan Iran. Obama dalam konperensi persnya menegaskan bahwa Amerika, setelah satu dekade perang di Afghanistan, Irak dan Libya, sudah muak dengan konflik dan sebaiknya dihindari melalui jalan diplomasi dan tekanan ekonomi.

Obama mengatakan bahwa pemerintahannya dan kecerdasan pejabat di Amerika Serikat dan di Israel  percaya bahwa Iran tidak akan memiliki senjata nuklir lagi, dan bahwa masih ada waktu untuk sanksi yang dapat memaksa rezim Iran untuk menyerahkan program senjata nuklir. "Pada tahap ini adalah keyakinan saya kami memiliki peluang dan kesempatan," kata Obama. “And so this notion that somehow we have a choice to make in the next week or two weeks or month or two months is not borne out by the facts,” kata Obama.

Kemampuan Intelijen dan AU Israel

Operasi intelijen dan udara Israel yang hingga kini dinilai sangat mengagumkan dari sisi perencanaan, pelaksanaan, strategi dan kerahasiaan adalah Raid on Entebbe (4 Juli1976) yaitu operasi pembebasan sandera warga Israel di Uganda serta Operasi penghancuran reaktor nuklir Irak (7 Juni1981). Kedua operasi udara tersebut menunjukkan akurasi informasi intelijen serta kemampuan tinggi dan profesional personil AU serta komando yang terlibat.

Kedua operasi gabungan didukung oleh  informasi intelijen dari Mossad dan intelijen militer yang perencanaannya demikian akurat dan detail, sehingga kekuatan yang dikirim mampu melakukan infiltrasi, desepsi dan penghancuran, sehingga tim berhasil menyelesaikan  missi dengan gemilang. Penulis mencoba menyampaikan sedikit informasi kedua operasi spektakuler dari negara kecil tapi berkemampuan sebagai penyerang yang sukses ini.

Raid on Entebbe (Ops Udara dan Komando Israel ke Uganda)

Pada tanggal 27 Juni Air France dengan nomor penerbangan 139 berangkat Tel Aviv ke Paris, short stop di Athena. Tak lama setelah lepas landas dari Yunani, pesawat itu dibajak oleh dua anggota Front Populer untuk Pembebasan Palestina dan dua orang Jerman dari Sel Revolusioner. Para teroris mengarahkan pesawat untuk mendarat dan mengisi bahan bakar di Benghazi, Libya sebelum melanjutkan ke pro-Palestina Uganda. Setelah mendarat di Entebbe, para teroris diperkuat oleh tiga lebih ekstrimis dan disambut oleh diktator Idi Amin.

Semua penumpang kecuali warga Israel dan Yahudi serta crew pesawat kemudian dibebaskan. Para teroris menuntut pembebasan 40 warga Palestina yang ditahan Israel serta 13 lainnya yang ditahan dinegara lainnya. Jika tuntutan mereka tidak dipenuhi pada Juli 1, mereka mengancam akan mulai membunuh para sandera. Pemerintah Israel melakukan negosiasi pada 1 Juli 1976 untuk mengulur waktu dan kemudian menetapkan akan melakukan oparasi penyelamatan sandera dibawah pimpinan Kolonel Yoni Natanyahu.

Pada malam hari tanggal 3 Juli,menjelang 4 Juli, empat pesawat transport Israel Air Force C-130 Hercules mendekati wilayah Entebbe dalam kegelapan. Setelah pesawat landing, 29 pasukan komando Israel dengan menggunakan mobil Mercedes dan dua Land Rovers menuju Bandara untuk meyakinkan para teroris bahwa mereka adalah Presiden Uganda  Amin atau pejabat tinggi lain  Uganda. Pasukan komando Israel kemudian menyerbu gedung, membebaskan para sandera dan membunuh para pembajak. Untuk mengamankan saat pull out, komando  Israel menghancurkan 11 pesawat tempurMiG-17 Uganda.

Keempat pesawat Hercules Israel kemudian diterbangkan ke Kenya di mana kemudian para sandera dipindahkan ke pesawat lain. Secara keseluruhan, Raid on Entebbe berhasil membebaskan 100 orang sandera. Dalam pertempuran yang terjadi, jatuh korban yang tewas terdiri dari tiga sandera, 45 tentara Uganda dan enam teroris. Pasukan komando mengalami kerugian dengan tewasnya pimpinan misi, Kolonel Netanyahu yang tewas ditembak sniper.

Operasi Osirak (Operasi Udara Israel ke Irak)

Operasi udara spektakuler dari AU Israel terhadap reaktor nuklir Irak dikenal sebagai "Opera Operation." Israel sangat khawatir dengan kepemilikan reaktor nuklir Irak, yang mereka pantau sejak tahun 1960, sampai akhir tahun 1970. Pada 1970-an, Irak berusaha membeli reaktor produksi plutonium dari Prancis. Irak juga ingin membeli reaktor pemrosesan kembali. Perancis menolak permintaan tersebut tetapi, sebaliknya, setuju untuk membangun reaktor riset dan laboratorium penelitian. Dengan dukungan Perancis, Irak memulai pembangunan reaktor 40-megawatt air ringan nuklir di Al Tuwaitha Nuklir Center. Jenis reaktor bernama Osiris, dewa Mesir setelah orang mati. Orang Prancis berganti nama menjadi reaktor mereka menyediakan untuk Irak Osiraq, untuk memasukkan nama Irak dalam judul. Orang Irak menyebutnya "Tammuz" setelah bulan dalam kalender Arab bahwa partai Baath berkuasa pada 1968.

Pada tanggal 30 September 1980, dalam perang Iran-Irak, sepasang jet F-4 Phantom Iran, bagian dari kelompok pesawat yang menyerang pembangkit listrik terdekat konvensional, mencoba membom reaktor Osirak, tapi reaktor hanya mengalami kerusakan ringan.

Intelijen Israel menyatakan bahwa  niat Irak untuk mengembangkan senjata nuklir di reaktor nuklir Osirak dan senjata nuklir adalah ancaman ancaman Irak terhadap Israel. Pada tahun 1981, beberapa perkiraan menunjukkan Irak membutuhkan waktu lima sampai sepuluh tahun akan mampu membangun senjata nuklir. Laporan intelijen lainnya memperkirakan bahwa Irak dapat memiliki bom nuklir dalam waktu satu atau dua tahun. Israel mencoba upaya diplomatik untuk untuk menghentikan dukungan Perancis terhadap proyek nuklir Irak. Intelijen Israel sangat faham bahwa waktu itu sangat pendek karena, jika upaya diplomatik gagal, mereka harus melancarkan serangan militer sebelum reaktor penuh dengan bahan nuklir untuk membuat senjata nuklir.

Diplomasi Israel melibatkan Perancis, Italia (pemasok utama ke reaktor) dan Amerika Serikat. Sebuah tim tingkat tinggi negosiasi Israel, yang dipimpin oleh Menteri Luar Negeri, Yitzchak Shamir , bernegosiasi dengan presiden Prancis Valery Giscard-D'Estaing dan penggantinya François Mitterand. Perancis tetap bertahan tidak akan mundur demi  kepentingan ekonomi mereka sendiri, dimana Irak adalah pelanggan utama mereka untuk alutsista militer. Perancis menerima pembayaran  dari Irak diantaranya dalam bentuk minyak.

Dalam pertemuan dengan Menteri Pertahanan Casper Weinberger dan Menteri Luar Negeri Alexander Haig, didapat kesepakatan tentang penilaian Israel mengenai ancaman nuklir Irak. Israel menegaskan bahwa Irak sedang bekerja untuk mencapai kemampuan nuklir dan akan mengeksploitasi kemampuannya untuk mempengaruhi dan menghancurkan Israel. Dalam perundingan tersebut, Amerika menolak untuk bertindak dengan berbagai alasan. Yang jelas masing-masing mengukur dari kepentingan nasionalnya. Disinilah perbedaan prinsip AS dan Israel.

Pada akhirnya Israel mengambil keputusan akan menyerang reaktor nuklir tersebut. Militer mengajukan berbagai pilihan untuk menghancurkan reaktor, seperti pasukan komando, pasukan payung, helikopter dan Operasi udara dengan Jet Phantom. Israel tidak mengetahui tepat kekuatan militer Irak, pada tahun 1970 diketahui bahwa militer dibawah pemerintahan Saddam Hussein terdiri dari 12 Divisi infanteri, berjumlah  190.000 pasukan, dengan 2.200 tank dan 450 pesawat terbang berbagai hjenis. Selain itu pertahanan udaranya dilengkapi dengan rudal Scud.

Pada tanggal 7 Juni 1981, misi itu mendapat lampu hijau. Chief of Staff dari Israel Defence Force, Letnan Jenderal Rafael Eitan, memberi penjelasan kepada para penerbang. Menekankan kepada mereka: "Alternatif lain adalah kehancuran kita." Serangan akan dilakukan oleh empat belas pesawat tempur F-15 dan F-16 yang akan diterbangkan  dari pangkalan Angkatan Udara Etzion di Negev. Rute penyerangan akan melewati kawasan Yordania , Saudi dan wilayah udara Irak, untuk sampai di sasaran.

Penerbangan ke Irak dilakukan dengan terbang rendah untuk menghindari radar salah satu negara Arab. Serangan dilakukan oleh pesawat-pesawat F-16 yang masing-masing membawa dua buah bom dengan berat tiap bom satu ton. Sementara F-15 melakukan perlindungan udara. Formasi pesawat penyerang mampu mengecoh radar dan berhasil sukses menghancurkan reaktor nuklir Osirak.

Menurut Yitzhak Shamir "It was attained by the State of Israel and its Prime Minster who decided, acted and created a fact that no one in the world today  with the exception of our enemies regrets.” Pencegahan tidak dicapai oleh negara-negara lain Perancis dan Italia  dan bahkan Amerika Serikat. Hal ini dicapai oleh Negara Israel, dimana Perdana Menteri yang memutuskan, bertindak dan menciptakan sebuah kenyataan bahwa tidak ada satupun di dunia saat ini ada pengecualian mengenai musuh kita dan mereka akan menyesal.

Operasi Udara Terhadap Reaktor Iran ?

Menarik apa yang disampaikan oleh Mayor Jenderal (Pur) Amos Yadlin, mantan Kepala Intelijen Pertahanan dari Israel Defence Force. Yadlin adalah salah satu pilot tempur yang melakukan pengeboman reaktor Osirak pada tahun 1981. Yadlin mengatakan kepada surat kabar, tak lama setelah kita menghancurkan Osirak, Atase Pertahanan Israel di Washington dipanggil ke Pentagon. Dia mengira akan ditegur. Sebaliknya, dia mendapat pertanyaan, "Bagaimana Anda melakukannya? Militer Amerika Serikat berasumsi bahwa pesawat F-16 Israel  dinilai mempunyai keterbatasan,  tidak punya kemampuan jangkauan maupun persenjataan untuk menjamin keberhasilan penyerangan Osirak.

Yadlin, kini menjabat sebagai Direktur Institut Nasional Studi Keamanan pada Universitas Tel Aviv. Dia mengatakan bahwa kesalahan yang terjadi seperti sekarang ini, adalah terlalu meremehkan kecerdikan militer Israel.  Obama karena itu harus bergeser pemikirannya, dari  pembentukan pertahanan Israel dari fokus "zona kekebalan" kepada kebutuhan yaitu "zona kepercayaan." Merupakan jaminan kuat dari Amerika bahwa jika Israel menahan diri untuk bertindak sendiri dimana pilihan lain telah gagal untuk menghentikan perundingan. Yadli berharap Presiden Obama akan membuat ini jelas. Jika dia tidak, para pemimpin Israel juga dapat memilih untuk bertindak dengan caranya sendiri.

Dari beberapa fakta studi kasus intelijen, baik operasi gabungan, udara maupun militansi para pemimpin Israel, mereka sangat percaya diri dengan kemampuan dan kekuatan militernya dalam menghadapi negara-negara Arab. Operasi Entebbe dan Osirak adalah  bukti bahwa AU Israel mampu melakukan operasi udara strategis jauh melintasi batas negara. Karena itu apabila pada saat batas kesabaran Israel habis, diperkirakan dua hingga tiga minggu kedepan, besar kemungkinan mereka akan melakukan operasi penyerangan.

Hanya kini apabila Israel akan melakukan serangan udara, maka kendala utama bagi pesawat tempurnya adalah jarak, karena untuk mencapai reaktor Iran, pesawat tempurnya harus melalui wilayah udara Yordania, Saudi Arabia dan Irak. Selain itu Komando Pertahanan Iran jelas kini lebih alert menyikapi perkembangan politik dan pertahanan kawasan. Mungkin serangan komando merupakan pilihan lainnya.

Menarik apabila kita menyimak kasus Reaktor Nuklir Iran ini, kita tunggu apa langkah Israel untuk menetralisir ancaman nuklir Iran. Mereka pada saatnya nanti tidak akan tunduk kepada negara manapun dan penulis perkirakan akan menyerang begitu perundingan gagal. Israel bagaikan Tupai, dengan pameo "Sepandai-pandainya Tupai melompat, sekali-sekali jatuh juga." Tapi apabila didukung dengan sistem, teknologi canggih, pameo bisa saja berubah menjadi "Sepandai-pandainya Tupai melompat, makin lama makin jago..." Apakah begitu, mari kita tunggu. Prayitno Ramelan ( www.ramalanintelijen.net )

 

 

 

 

 

 

 

 

 

This entry was posted in Hankam. Bookmark the permalink.