Hatta Rajasa dan Jenderal Pramono Edhie, Pesaing Tangguh

29 November 2011 | 7:13 am | Dilihat : 633

Pernikahan antara Ibas dengan Aliya kini mulai menjadi sorotan kalangan elit politik serta pengamat politik. Walaupun pada dasarnya sebuah pernikahan di dasari dengan cinta, pertautan kedua insan yang terlibat dapat diartikan sebagai sebuah upaya penyatuan kepentingan. Ibas atau Edhie Baskoro adalah putra pendiri Partai Demokrat, Aliya adalah putri Ketua Umum Partai Amanat Nasional. Nah, dapat diterjemahkan eratnya tali kekeluargaan akan mempererat tautan kedua parpol tersebut.

Menurut Anas Urbaningrum, Ketua Umum Partai Demokrat, pemunculan capres  Demokrat baru akan dibicarakan pada 2014 nanti, pemerintah akan memfokuskan diri menyelesaikan tugas dalam masa pemerintahannya. Sementara Pak SBY menyatakan bahwa anak isterinya tidak akan mencalonkan diri pada pilpres 2014. Lantas siapa capres Partai Demokrat?Itulah pertanyaannya.

Bukankah diperlukan waktu panjang untuk mempersiapkan capres?Kalau ditetapkan pada 2014 nanti, tidakkah terlalu terlambat? Itulah pertanyaan yang tersisa. Jawabannya hanya SBY sendiri yang tahu, tetapi inilah sebuah strategi yang telah dibuktikan sukses dalam dua periode.

Sebagai Ketua Umum, nampaknya elektabilitas Anas belum menguat, penyerangan citra oleh Nazaruddin mantan bendaharanya dalam kasus korupsi sedikit banyak telah merusak citranya sebagai politisi muda calon pemimpin bangsa. Pak SBY telah memberikan signal, bisa saja Partai Demokrat memilih calon dari luar partainya sebagai capres Demokrat.

Penulis pernah menulis sebuah artikel dengan judul "Pemimpin Indonesia Mendatang Diera Digital," http://ramalanintelijen.net/?p=2106. Untuk mengembangkan dan membentuk seorang pemimpin nasional yang ideal di era 'digital society' terdapat dua isu yang harus difahami dan di-integrasikan secara sistematis dan proporsional. Pertama, mampu memanfaatkan kondisi masyarakat yang sedang ber-eforia dengan teknologi multi media. Kedua, mampu memanfaatkan momentum yang dalam kaitan ini adalah momentum yang di desain khusus secara intern sesuai kebutuhan yang diperlukan.

Media elektronik adalah senjata dari George Bush saat pemilu, sementara internet adalah senjata utama Barrack Obama. Nah, tim sukses sebaiknya mampu memanfaatkan peluang era digital dan menarik kesimpulan tentang  momentum yang akan timbul, baik yang sedang atau yang dibutuhkan masyarakat. Faktor lainnya yang penting adalah pengembangan konsep, yaitu brand personality.  Konsep harus diuji apakah sudah sesuai dengan kebutuhan dan bisa diterima konstituen, apakah sudah sesuai dengan budaya paternalistik masyarakat.

Nah, kini Hatta Rajasa, mulai dimunculkan sebagai sosok bijak, fotonya mulai tersebar diseantero ibukota. Partainya PAN mulai mengangkat Hatta sosok yang akan menjadi capres mereka. Penulis melihat bahwa Hatta mempunyai peluang terbesar sebagai capres PAN sekaligus capres partai besannya (Demokrat). Melihat pemilu 2009, Partai Demokrat mampu meraih 20,85 persen dan PAN meraih 6,01 persen. Dua gabungan parpol papan atas dan menengah dinilai sangat cukup untuk tetap ikut berkiprah pada 2014 nanti.

Pertanyaan terus bergulir, kalau Hatta menjadi capres, siapa wakilnya? Kini, nama baru yang mulai dimunculkan dipentas politik adalah Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo yang saat ini menjabat sebagai Kasad. Pramono adalah adik kandung Ibu negara Ani Yudhoyono, ipar SBY. Partai Golkar yang kini banyak didukung Jenderal-Jenderal, sudah mulai melirik Jenderal Pramono sebagai salah satu cawapres Ketua Umumnya Aburizal Bakrie.

Ketua DPP Partai Golkar Priyo Budi Santoso mengungkapkan, "Salah satunya Pak Pramono Edhie. Beliau layak diperhitungkan lebih matang. Karena selain mencari unsur Jawa, Pramono Edhie juga cukup senior di militer. Pramono Edhie memang jenderal tentara murni yang punya reputasi. Sedangkan dasar pertimbangan pemilihan Pramono karena dianggap memiliki elektabilitas yang kuat.

Dengan kemunculan nama baru Jenderal Pramono sebagai alternatif cawapres, maka sangat mungkin Partai Demokrat dan PAN yang saat ini menjadi ipar akan menyandingkan Hatta dan Pramono Edhie pada pilpres 2014 nanti. Mungkin inilah pasangan yang teraman bagi SBY. Dilain sisi bagi Hatta ada unsur kepastian politik sebagai capres untuk maju. Melihat rekam jejak karirnya, Hatta adalah sosok yang mampu beradaptasi dengan baik, Hatta hingga kini sudah selama sepuluh tahun menjabat sebagai Menteri Kabinet Era Mega dan SBY.

Sementara dengan pengalaman, jaringan dukungan keluarga besar TNI, khususnya  TNI AD, serta nama besar ayahnya Pak Sarwo Edhie Wibowo, Pramono dapat diharapkan sebagai pendamping yang kokoh dan vote getter yang bagus. Dia bisa melakukan pengamanan terhadap kemungkinan serangan sporadis terhadap kakak iparnya selepas menjabat nantinya. Kira-kira disitulah perhitungan timbal balik kedua kepentingan tersebut.

Demikian sedikit ulasan sebagai hasil perenungan Selasa pagi yang cerah ini. Yang jelas, jalan Hatta masih sangat panjang, masih banyak yang harus dikerjakannya untuk meraih kesuksesan. Ical sudah memasang kuda-kuda yang kuat, Mega masih menjadi patron terkuat, dua kali menjadi runner up.

Yang pasti, siapapun yang akan maju sebagai capres, penulis perkirakan pada 2014 nanti harus dicalonkan oleh tiga parpol papan atas, Partai Demokrat, Partai Golkar atau PDIP. Kalau hanya mencalonkan diri saja, walau elektabilitas tinggi, partainya kelas gurem atau bahkan ada yang tidak punya partai, dia masih berkisar di area mimpi semu belaka. Dalam berpolitik kita sebaiknya juga harus realistis. Begitu? Prayitno Ramelan ( http://ramalanintelijen.net )

Ilustrasi Gambar : multiply.com

 

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.