Penulis Bertemu dan Berbincang dengan Megawati

13 November 2011 | 6:56 am | Dilihat : 584

Beberapa waktu yang lalu, penulis diminta seorang teman yang mempunyai hubungan dekat dengan Ibu Megawati untuk bertemu dengan beliau. Setelah penulis menanyakan inti pertemuan, disampaikan terkait dengan artikel yang penulis buat pada 11 Juni 2011 dengan judul Capres terkuat 2014 ( http://ramalanintelijen.net/?p=1832 ), dimana  menurut penulis Megawati masih berpeluang besar menjadi presiden pada 2014.

Ramalan  penulis dengan dasar pemikiran intelijen pada artikel tersebut, dimana penulis melakukan penelitian sejak tahun 2004. Pada pilpres 2004 pasangan yang maju keputaran kedua (20 September 2004) adalah pasangan Megawati-Hasyim Muzadi yang mendapat 39,38% suara, dikalahkan oleh pasangan  SBY-JK yang mendapat dukungan 60,62%. Pada pilpres 2009, hasil dari pilpres langsung, Megawati yang berpasangan dengan Prabowo Subijanto mendapat dukungan 26,79%, dikalahkan oleh pasangan SBY-Boediono yang memperoleh 60,80%.

Dari fakta tersebut, yang terlihat jelas adalah Mega telah dua kali menjadi runner-up capres, sementara SBY menang dua kali. Nah yang sangat terlihat jelas pada partai  final, kedua calon adalah 'patron' dimana Megawati telah mempunyai pemilih yang solid, sementara SBY mampu menarik konstituen manapun dengan kharismanya. Citra keduanya sebagai patron tidak mampu digoyahkan oleh calon yang masih tanggung ataupun dinilai masyarakat memiliki masalah.

Kemudian penulis membuat beberapa artikel yang berkait dengan pemilu legislatif dan presiden dengan judul ;  Mengintip Sri Mulyani Sebagai Capres 2014:  http://ramalanintelijen.net/?p=2513, Jangan sepelekan Hary Tanoe-Surya Paloh :  http://ramalanintelijen.net/?p=4165, Megawati, Prabowo dan Aburizal Mulai Menguat:  http://ramalanintelijen.net/?p=4189, Kenapa Megawati Dilarang Nyapres?: http://ramalanintelijen.net/?p=4235 .

Pertemuan dengan Ibu Mega terjadi di sore hari di kediamannya Jl. Tengku Umar Jakarta. Saat pertemuan juga hadir Prof Rokhmin Dahuri (Mantan Menteri Kelautan Era pemerintahan Megawati) dan Mas Hasto (Wasekjen PDIP). Penulis baru pertama kali datang kerumah Ratu Banteng ini. Juga pertama bertemu langsung. Diruang tamu terpampang foto Megawati cilik yang manis dipangku ayahandanya Bung Karno. Juga ada foto beliau sendiri yang demikian sempurna lukisannya.

Setelah bertemu perbincangan terasa aneh, karena ternyata Mega agak keras dan agak kaku. Mungkin karena pertama bertemu dan berkenalan. Penulis tidak merasa ada beban, karena bukan anggota PDIP dan juga tidak mempunyai kepentingan apa-apa. Pada awal pembicaraan dibahas tentang masalah teroris, dimana penulis menjelaskan sebagai anggota kelompok ahli di BNPT. Mega mengatakan, saya yang membuat Densus itu, penulis mengiyakan dan mengatakan harus diakui  keberhasilan Densus 88 yang mampu menekan dan mempersempit ruang gerak teroris yang sangat terlatih dan berbahaya.

Mega menyampaikan saran agar Densus diperkuat dan ditambah perlengkapannya. Mudah-mudahan tulisan ini dibaca para pejabat terkait dengan Densus. Penulis menjelaskan bahwa kini pemerintah membentuk Badan Nasional Penanggulangan Terorisme sebagai badan strategis langsung dibawah presiden yang menangani masalah terorisme, khususnya  deradikalisasi.

Sang Ibu yang satu ini selalu mengatakan saya ini orang bodoh tidak pintar seperti orang-orang itu yang pintar. Tetapi saya tetap setia menjaga Pancasila dan NKRI. Saat menyampaikannya terlihat keteguhan hati ibu yang satu ini. Perbincangan membahas beberapa hal, dan penulis menyampaikan bahwa pada 2014 nanti saat AS dan sekutu meninggalkan Afghanistan, kita perlu waspada karena Taliban sebagai pelindung Al-Qaeda berpeluang kembali berkuasa dan bukan tidak mungkin terorisme di Indonesia kembali akan mendapat support dari Al-Qaeda.

Saat perbincangan politik, penulis menyampaikan sebenarnya ilmu politik penulis sangat dangkal, dan penulis banyak berguru kepada Pak Matori Abdul Djalil (Alm) saat penulis bertugas di Departemen Pertahanan. Beliau cukup terkejut dan meyampaikan kisah bagaimana Pak Matori mencalonkan dirinya menjadi Wapres, saat Gus Dur memenangkan pilihan presiden di DPR.

Penulis menyampaikan hasil pengamatan/penelitian sederhana, tentang pemilu 2014, dengan dasar beberapa artikel diatas serta artikel-artikel politik lainnya. Pilpres menurut penulis hanya akan dimenangkan oleh mereka yang maju dan sudah menjadi patron, karena budaya paternalistik masih sangat kental disini. Siapapun yang bukan patron akan sulit menang. Yang kedua adalah momentum, dimana dengan keteguhan bu Mega, PDIP menjadi partai bebas tidak terkontaminasi secara organisasi dengan kasus-kasus korupsi. Yang ketiga 'brand image' dimana capres harus sudah dikenal luas oleh konstituen.

Nah, dari beberapa syarat tersebut, penulis menyampaikan bahwa Ibu Mega kini hanya satu-satunya patron dengan pemilih yang solid, dua kali menjadi juara kedua. Keteguhan Mega dalam jalur oposisi nanti akan menguntungkan PDIP, tidak seperti partai banci yang gayanya oposan tetapi mau menerima jabatan di pemerintah. Keteguhan ini hanya dimiliki Megawati seorang. Oleh karena itu pada kesimpulan perbincangan, penulis menyampaikan sebaiknya PDIP hanya mengajukan Ibu sebagai capres, tidak mengajukan capres lainnya. Penulis mengatakan,  "Ibu, kalau tidak ada suatu perubahan yang signifikan hingga 2014, You are the next president."

Terlalu jauhkan ucapan penulis? Penulis dengan dasar hasil survei, pada 2004 meramalkan SBY akan menang dan menjadi presiden, pada 2009 penulis menuliskan bahwa pemilu akan satu putaran, keduanya terbukti. Semua hanya dengan dasar  hasil survei yang penulis teliti dari beberapa Lembaga Survei yang benar dan bersih. Nah, dengan kondisi politik saat ini, penulis masih yakin bahwa capres 2014 hanya akan muncul dari PDIP, Golkar dan Demokrat. Tanpa mengecilkan arti parpol lainnya, sulit meniru Partai Demokrat pada 2004, yang langsung bisa menjadikan SBY menjadi presiden.

Demikian pertemuan penulis dengan mantan presiden Megawati. Menarik ucapan beliau, "saya hanya orang bodoh", itu ungkapan yang dalam tetapi sebuah sindiran. Yang perlu diketahui, Mega tetap Mega yang keras dan kaku, kadang sulit diajak bicara, teguh dan tidak mudah dipengaruhi. Dengan sense of intelligence, penulis melihat ada sebuah kekuatan dari dalam dirinya yang tidak boleh disepelekan. Darah dan semangat Bung Karno ada pada dirinya.

Mereka yang berkuasa harus berhitung dengan Mega, karena kekuasaan jelas dilengkapi dengan berbagai macam perangkat dan bukan tidak mungkin pada 2014 nanti akan diraih oleh Mega. Prayitno Ramelan ( http://ramalanintelijen.net )

Ilustrasi Gambar : Tribunews.com

 

 

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.