Publik Kecewa dengan Kiprah Politisi Muda

31 October 2011 | 9:57 am | Dilihat : 441

LSI (Lingkaran Survei Indonesia) melakukan survei dari tanggal 5 hingga 10 September 2011,  dengan judul Memperingati Sumpah Pemuda.  Survei dilakukan kepada 1.200 responden di 33 provinsi, dengan metode multistage random sampling dan margin of error 2,9 persen.

Hasil survei menunjukkan bahwa publik kecewa dengan kiprah para politisi muda. Yang dimasukkan kelompok polititisi muda oleh LSI adalah anggota atau pengurus parpol, menjadi pejabat publik dikategorikan berumur dibawah 50 tahun. Mereka yang berumur diatas 50 tahun disebut politisi senior.

Kekecewaan publik terlihat dari fakta 1.200 responden yang disurvei, hanya 24,8 persen responden yang menilai politisi muda berperilaku baik. "Sisanya, sebagian menilai buruk dan sebagian lagi tidak menjawab," kata peneliti LSI, Adjie Alfaraby, dalam jumpa pers, di kantor LSI, Jakarta, Minggu (30/10/2011).

Hasil survei LSI menunjukan politisi muda lebih buruk dibandingkan dengan seniornya. Hanya 15,4 persen responden menganggap politisi muda lebih baik dibanding seniornya, sementara 23,8 persen menganggap politisi senior lebih baik dibanding politisi muda. Publik menyatakan 37,6 persen menganggap politisi muda sama saja dengan seniornya, dan hanya melanjutkan keburukan politisi seniornya.

Untuk melengkapi hasil surveinya, LSI juga melakukan riset kualitatif pada bulan Oktober 2011, dengan menggunakan metode riset media analisis terhadap 5 koran nasional dan 7 koran lokal di 7 provinsi. LSI menemukan empat alasan yang membuat publik sangat kecewa dengan kiprah politisi muda saat ini.

Pertama, berita korupsi yang menyangkut lima figur politisi muda yaitu  M Nazaruddin (33 tahun) Bendahara Umum Partai Demokrat, Angelina Sondakh (34 tahun) anggota DPR RI dan Wasekjen I Partai Demokrat,  Anas Urbaningrum (42 tahun) Ketua Umum Partai Demokrat, Andi Mallarangeng (48 tahun) Menteri Pemuda dan Olahraga dari Partai Demokrat, Muhaimin Iskandar (45 tahun) Ketua Umum PKB yang menjabat Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Kelimanya dijuluki top five isu korupsi 2011.

Kedua,  kinerja politisi muda di puncak jabatan publik tak ada yang istimewa, bahkan ada yang diproses hukum di KPK. Ketiga, kinerja politisi muda yang memimpin partai politik juga bermasalah. Dalam hal ini, yakni Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum dan Ketua Umm PKB Muhaimin Iskandar. Keempat, karena besarnya harapan publik atas kiprah politisi muda. "Semakin besar harapan itu, semakin mudah publik kecewa," kata Adjie Alfarabi.

LSI menemukan fakta bahwa publik tetap melihat semangat atau inovasi  pemuda, seperti lahirnya  Budi Utomo pada 1908 yang digerakkan oleh KH Dewantara (20 tahun), Tjipto Mangunkusumo (22 tahun), dan Dr Soetomo (20 tahun). Atau lahirnya Sumpah Pemuda 1928 yang juga digerakkan politisi muda seperti Sugondo Djojopuspito (24 tahun), Muhamad Yamin (25 tahun), WR Soepratman, dan tokoh politisi muda yang menggerakkan Kemerdekaan Indonesia 1945 seperti Soekarno (44 tahun), Muhammad Hatta (43 tahun) dan Sutan Sahrir (36 tahun).

Nah, kondisi tersebut terlihat sangat mengait dengan beberapa hasil  survei akhir-akhir ini.  Kini  terkelompok  tiga lapis calon pemimpin masa depan. Menurut Adjie, tiga politisi muda yang coba ditonjolkan ke publik, seperti Anas Urbaningrum, Puan Maharani dan Edhie Baskoro Yudhoyono, hanya memperoleh dukungan dibawah 3 persen. Adjie menyebutnya posisi mereka di divisi tiga.

Divisi dua dengan dukungan 3-10 persen  ditempati oleh politisi senior diantaranya Wiranto, dan Ani Yudhoyono. Untuk divisi satu, dengan survei diatas 10 persen, menurut hasil survei masih ditempati oleh tiga politisi senior Megawati, Prabowo Subianto dan Aburizal Bakrie.

Kerusakan citra politisi muda terutama karena disebabkan sangkaan kasus korupsi yang sedang ditangani KPK. Penyampaian celoteh Nazaruddin yang tiap hari diberitakan media beberapa waktu yang lalu dari tempat pelariannya, nampaknya menimbulkan rasa rasa tidak suka kepada politisi muda. Akan tetapi harapan itu  masih ada, walaupun sangat tipis. Hasil 24,8 persen yang masih menganggap baik adalah sebuah harapan yang merupakan peluang bagi politisi muda.

Dengan berjalannya waktu, bersandar kepada  kekuatan dukungan partai,  kini yang menonjol baru dua calon, Megawati dan Aburizal Bakrie. Mega dengan masih belum bergeraknya PDIP saja sudah mengantongi perolehan diatas  10 persen. Sementara Ical dengan dukungan Golkar yang demikian pengalaman bisa menjadi kuda hitam yang akan meninggalkan lawan-lawan politiknya kini juga sudah diatas 10 persen, bahkan ada survei yang menyebutkan Ical memperoleh dukungan persepsi diatas 18 persen. Dari penampilan HUT Golkar dan penampilan Ical, terlihat sesuatu yang menarik, semangat memperjuangkan kesejahteraan dan cinta kepada NKRI bangsa dan keadilan. PDIP perlu mewaspadai geliat Golkar dan Ical.

Pemilu legislatif adalah pemilihan langsung dimana para pemilih jauh hari sudah banyak yang menentukan pilihan. Sulit untuk menggeser kepercayaan mereka. PDIP dan Golkar adalah dua parpol yang mempunyai anggota dan simpatisan khusus yang fanatis. Sementara Partai Demokrat dari hasil survei akhir-akhir ini terlihat mulai turun dan berada dibawah Golkar, ada konstituennya yang hijrah ke Golkar. Kekuatan Demokrat diperkirakan akan turun, karena SBY sebagai simbol pemersatu dan alternatif utama pilihan tidak maju kembali sebagai capres, Partai ini akan terasa mengambang tanpa ikon-nya.

Khusus untuk pilpres, syarat yang selama ini penulis kemukakan, capres harus menjadi 'patron'. Mega sudah menjadi patron, Prabowo belum menjadi patron tetapi menjadi pemimpin harapan, walau partainya Gerindra masih berada di papan bawah. Aburizal (Ical) secara perlahan mampu merangkul dan membawa Golkar untuk lebih dipercaya publik. Hasil survei menunjukkan kemungkinan besar Golkar akan kembali ke masa jayanya. Dengan penampilan yang confident, secara perlahan Ical mulai menempatkan diri menjadi patron. Yang penting citra negatif terhadap dirinya harus dihapus segera. Karena itulah titik rawannya yang harus diatasinya. HUT Golkar kali ini bisa dikatakan sebagai titik balik serta momentum yang sangat berharga bagi Golkar.

Demikian sedikit ulasan tentang peluang para politisi muda yang sangat tipis untuk berkiprah dalam persaingan untuk menjadi pimpinan nasional di Indonesia. Publik agak  kecewa dengan mereka yang muda. Kini rakyat mulai mencari figur calon pemimpinnya yang baru. Yang pasti mereka akan menggunakan tolok ukur kepemimpinan Pak SBY dalam dua periode pemerintahannya. Kelemahan dan kekurangan Pak SBY akan mereka hindari pada calon pemimpin yang baru. Begitukah? Prayitno Ramelan ( http://ramalanintelijen.net )

Ilustrasi gambar : daveakbarshahfikarno.wordpress.com

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.