Taliban Afghanistan Tumbuh Dari Gerakan Mahasiswa

23 October 2011 | 12:52 am | Dilihat : 2187

Taliban atau Gerakan Taliban adalah sebuah gerakan dari kelompok Islam Sunni yang memerintah negara  Afghanistan dari tahun 1996 hingga 2001. Kelompok ini dibentuk pada tahun 1994 di Afghanistan dengan bantuan Amerika Serikat dan Pakistan. Kelompok Taliban yang pada awalnya berbasis diwilayah Pashtun, bagian Tenggara Afghanistan, diprakarsai oleh gerakan mahasiswa yang didedikasikan untuk memurnikan Afghanistan.

Pada awalnya Taliban mendapat sambutan hangat masyarakat yang muak dengan kondisi negara, banyaknya tindak korupsi pejabat dan kebrutalan serta kesewenang-wenangan  para panglima perang pada tahun-tahun setelah pendudukan Uni Soviet. Kelompok ini saat berkuasa di Afghanistan,  hanya mendapat pengakuan diplomatik  dari tiga negara saja, Uni Emirat Arab, Pakistan, dan Arab Saudi, serta pemerintah Republik Chechnya Ichkeria yang tidak diakui dunia.

Pemerintahan Taliban pada tahun 2001 digulingkan oleh Amerika Serikat karena dituduh melindungi pemimpin Al-Qaeda, Osama Bin Laden yang dituduh olah Washington mendalangi serangan terhadap menara kembar WTC, New York pada tanggal 11 September 2001. Dengan menggandeng kubu Aliansi Utara, invasi AS dimulai pada bulan Oktober sampai dengan November 2001 dengan melakukan serangan yang mendadak mampu menguasai negara tersebut. Pemerintah Taliban dalam keadaan terdesak, akhirnya terpaksa keluar dari ibukota Afghanistan, Kabul sehingga pihak AS dengan  cepat dan mudah menguasai Kabul dan terbentuklah pemerintahan yang baru.

Sejak digulingkan oleh pasukan Amerika, kelompok Taliban terus ditekan, dimana pasukan AS hingga 2010 jumlahnya menjadi dua kali lipat. Pada tahun 2004, aktivitas Taliban yang didominasi Pashtun lebih meningkatkan dan gencar menyerang pasukan AS dan pemerintah Afghanistan. Pengaruh Taliban terus menguat dan menyebar ke wilayah Barat Laut Afghanistan. Para Taliban semakin pintar dalam menghindari penjejakan intelijen AS yang menggunakan teknologi, dengan mengatur jam penggunaan HP, melakukan serangan dengan lebih selektif dan lebih fleksibel.

Gerakan Taliban semakin eksis di Afghanistan, hidup dalam pola operasi perang gerilya yang berbasis di daerah pegunungan dan di sebagian besar suku  di perbatasan Pakistan-Afghanistan dimana hukum tidak berlaku. Pada saat yang bersamaan, dimana  saat fokus militer Amerika dialihkan dalam invasi dan pendudukannya ke  Irak, Taliban  secara perlahan mampu memperkuat dirinya kembali dan mulai memperluas pengaruhnya di bagian selatan Afghanistan.

Pada saat pertempuran berlanjut, kelompokTaliban diketahui merekrut tentara bayaran dari Pakistan, Uzbekistan, Chechnya, berbagai negara Arab dan mungkin Turki dan Cina. Pada akhir tahun 2007,  diketahui lima hingga sepuluh persen  jaringan Taliban diyakini terdiri dari tentara bayaran asing yang sebagian menjadi komandan menggantikan mereka  yang telah tewas.

Dengan semakin beratnya tekanan pasukan AS, Muhammad Omar pemimpin senior Taliban akhirnya melarikan diri ke wilayah Pakistan. Serangan dan kekacauan di Afghanistan diperkirakan dikendalikan oleh pimpinan Taliban di pengasingan tersebut. Kelompok Taliban di Pakistan di kendalikan  oleh tiga orang komandan yaitu  Hakimullah Mehsud (diperkirakan telah tewas), Hafiz Gul Bahadur dan Maulavi Nazir. Taliban Pakistan berpusat di Waziristan Utara dan Selatan, pusat kegiatan gerilyawan di daerah suku Pakistan perbatasan. Diantara kelompok Taliban diketahui terjadi pertentangan serius. Mullah Omar kemudian mengirim tim enam anggota ke Waziristan pada akhir 2008, untuk mengatasi persaingan kelompok tersebut.

Pada Februari 2009, Taliban membentuk sebuah Dewan Bersatu (Dewan  Syura), yang disebut Dewan Serikat Mujahidin. Dalam pernyataannya, para pemimpin berjanji untuk mengesampingkan perselisihan diantara mereka dan fokus memerangi pasukan pimpinan Amerika di Afghanistan. Taliban Pakistan tercatat melakukan aksi teror spektakuler, seperti   serangan mematikan pada bulan Maret 2009 terhadap tim kriket Sri Lanka di Lahore. Juga mereka melakukan pemboman pada bulan September 2008 di Hotel Marriott di Islamabad. Para pejabat intelijen AS mengatakan bahwa bergesernya Taliban ke kota-kota di Pakistan untuk menghindari serangan pesawat tanpa awak CIA.

Kebangkitan kekuatan Taliban terutama  dibiayai dari perdagangan opium dan tindak teror lainnya. Untuk membiayai operasinya, Taliban telah meningkatkan pendapatan  hingga ratusan juta dolar dari perdagangan obat terlarang, penculikan, pemerasan dan sumbangan asing. Perkiraan pendapatan tahunan Taliban sangat besar. Dari hasil dari perdagangan obat bius saja, berkisar antara US $ 70 juta hingga US$ 400 juta setahun.

CIA bahkan memperkirakan bahwa para pemimpin Taliban dan kelompok tersebut telah menerima US$ 106 juta pada tahun 2009 dari donor luar Afghanistan. Warga negara dari Arab Saudi, Pakistan, Iran dan beberapa negara Teluk Persia diketahui sebagai kontributor individu terbesar.

Walaupun Taliban kuat, ancaman terhadap kelompok ini tetap besar. Walau upaya damai sudah dikerjakan, konflik internal tetap saja terjadi, disamping itu ancaman kemudian muncul dari pemerintah Pakistan yang akhirnya merasa terganggu dengan ulah mereka. Tiga komandan Taliban diketahui kemudian tewas terbunuh pada bulan Februari 2011 di Quetta. Komandan keempat, yang mantan menteri Taliban, luka ditembak di kota perbatasan Chaman. Tidak jelas siapa yang berada dibalik aksi penembakan yang terjadi. Diperkirakan ulah dari jaringan intelijen dan kegiatan mata-mata.

Pada Tahun 2010, upaya damai diupayakan antara pemerintahan Hamid Karzai (Afghanistan) dengan negosiator Taliban yang di dukung pasukan AS dan NATO. Dalam upaya damai ini, pemerintah Pakistan yang dituduh AS sebagai pelindung Taliban tidak dilibatkan. Tokoh senior Taliban Muhammad Omar juga tidak dilibatkan. Perundingan damai menjadi terganggu, setelah tokoh utama Afghanistan yang memimpin Dewan Tertinggi Perdamaian Afghanistan dibunuh oleh seseorang yang tidak diketahui asalnya.

Dengan strateginya yang makin membaik, kelompok Taliban telah mampu menunjukkan bahwa mereka masih merupakan kekuatan yang harus diperhitungkan oleh pemerintah Afghanistan yang berkuasa, menjelang mundurnya pasukan AS dan NATO dari Afghanistan. Mereka menyerang Kantor Kedutaan AS di Kabul dan membunuh Pemimpin Dewan tertinggi Perdamaian, Burhanuddin Rabbani hanya untuk menunjukkan bahwa mereka masih sangat kuat.

Kini kondisi di Afghanistan semakin tidak membaik keamanannya. Kelompok Al-Qaeda, Taliban dan Haqqani merupakan ancaman terhadap perdamaian di Afghanistan. Tidak bisa dibayangkan Afghanistan apabila kemudian ditinggalkan oleh pasukan AS dan NATO yang diperkirakan pada tahun 2014. Kelompok yang bersengketa semakin memperkuat diri dalam persiapan merebut kekuasaan apabila pasukan Barat pull out. Demikian sedikit informasi tentang Taliban. Prayitno Ramelan ( http://ramalanintelijen.net ).

 

 

 

 

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.