DPO Upik Lawanga, Handler Bom Cirebon dan Solo?

4 October 2011 | 8:19 am | Dilihat : 655

Setelah terjadinya serangan bom bunuh diri di Gereja GBIS Kepunton pada 25 September lalu, dari DPO jaringan Cirebon setelah Beni Asri di cokok Densus, masih tersisa tiga orang yang belum tertangkap yaitu Heru Komarudin, Yadi al Hasan alias Abu Fatih,  dan Nanang Irawan. Selain ketiga DPO tersebut, dari hasil pengembangan, masih ada lima orang yang sangat patut diduga terlibat dalam aksi teror bom bunuh di Solo dan Cirebon.

Polri saat ini sedang mengejar  Taufik Balaga alias Upik Lawanga, salah satu DPO, jaringan teroris sekaligus ahli perakit bom, sebagai target perburuan mereka karena dugaan kuat terlibat dalam aksi bom bunuh diri di Solo dan bahkan Cirebon. Upik Lawanga dan seorang lainnya adalah dua DPO baru kepolisian terkait bom Solo tersebut. "Dua DPO tambahan, yang satu inisialnya UL (Upik Lawanga), yang satu lagi nanti saya cek dulu ya. Keduanya laki-laki," kata Kadiv Humas Polri, Irjen Pol Anton Bachrul Alam di Mabes Polri, Jakarta, Senin (3/10/2011).

Upik Lawanga alias Taufik Balaga bukan nama asing lagi dikalangan Densus.  Upik merupakan tersangka kasus Tentena, pembunuhan tiga siswi, pembunuhan pendeta, dan kerusuhan agama di Loki (Ambon). Dia juga diketahui sebagai murid kesayangan Dr Azahari, tokoh teroris asal Malaysia yang telah ditembak mati di Batu, Jawa Timur, pada 2005. Upik diketahui sangat ahli membuat bom,  yaitu bom termos saat konflik di Poso, Sulawesi Tengah pada 2005 dan bom di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton pada 17 Juli 2009 lalu.

Dari pengembangan kasus, kepolisian daerah telah menyebar foto dan data 10 DPO kasus terorisme. Mereka adalah Yadi al Hasan alias Abu Fatih, Nanang Irawan alias Nang Ndut, Heru Komarudin, Ahmad Yosepa alias Hayat (tewas), Umar alias Bujang, Santoso alias Abu Wardah, Beni Asri (telah tertangkap), Cahya alias Ramzan, Imam Rasyidi alias Imam Sukanto, dan Taufik Bulaga alias Upik Lawanga.

Nampaknya dari DPO yang sedang dikejar, Upik Lawanga adalah target utama, karena diketahui Upik mahir sebagai pembuat bom sehingga dikalangan teroris dia dijuluki profesor, menurut perkiraan penulis dialah agent handler jaringan ini. Nah, kini dibutuhkan kesadaran masyarakat untuk membantu memberikan informasi keberadaan DPO tadi. Kepedulian sosial dibutuhkan agar aparat keamanan lebih cepat mengantisipasi kemungkinan ancaman. Prayitno Ramelan (http://ramalanintelijen.net )

 

This entry was posted in Hankam. Bookmark the permalink.