Pray Di TV One Membahas Umar Patek.

12 August 2011 | 11:13 am | Dilihat : 415

Kemarin, hari Kamis (11/8) Pray telah diundang oleh TV One untuk menjadi narasumber deportasi Umar Patek dari Pakistan. Kemudian pagi ini (12/11) kembali diundang AKI pagi kembali membahas Umar Patek bersama Brigjen Pol Untung Yoga. Untuk melengkapi acara talk show tersebut, coba dituliskan seputar kisah buronan teroris kelas kakap Umar Patek bersama isterinya yang telah telah berhasil dibawa ke Indonesia melalui Bandara Halim Perdanakusuma. Umar Patek diketahui telah ditangkap oleh pihak intelijen Pakistan pada tanggal 25 Januari 2011 di Abbotabad, kota dimana gembong teroris Al Qaeda tewas disergap pasukan khusus Navy Seals (Team Six) pada tanggal 1 Mei 2011.

Dideteksi, Umar Patek alias Umar Kecil alias Umar Arab alias Abu Syekh alias Zacky ini yang keturunan Jawa-Arab itu pada tahun 2005 bergabung dengan kelompok Abu Sayaf. Saat itu diyakini Umar sudah di Filipina Selatan bersama Zulkarnain, komandan tertinggi Jemaah Islamiyah (JI) di Asia Tenggara. Keduanya diperkirakan berada di Pulau Jolo, salah satu pulau di gugusan kepulauan yang berhutan lebat di Provinsi Mindanao, Filipina Selatan. Pada 2009 Umar Patek kembali ke Indonesia, dan pada 2010 berangkat ke Pakistan.

Saat akan ditangkap Umar sedang berhubungan dengan Shehzad Tahir, anggota Al Qaeda (Afiliasi Asia Tenggara) dan  bersamaan dengan itu ditangkap dua militan dari Perancis, yang baru tiba di Lahore. Mereka merencanakan akan bergerak menuju ke Warziristan. Istrinya bernama Ruqoyah alias Fatima Zahra, asal Philipina, terlibat pemalsuan dokumen identitas diri dalam pembuatan paspor RI yang dipakai ke Pakistan.

Dari hasil pemeriksaan sementara, Umar Patek mengakui :

-  Membuat bahan peledak bom Bali-1 tahun 2002 bersama Sawad dan Abdul Goni, dilanjutkan pembuatan rangkaian switching oleh Dr Azhari dan Dulmatin.

- Mengaku terlibat dalam bom Natal tahun 2000.

- Setelah peledakan bom Bali-1, melarikan diri ke Philipina dan kembali ke Indonesia pada Tahun 2009, bergabung dengan Dulmatin, Heri Kuncoro dan Hasan Noer di Pamulang. Umar Patek menyembunyikan DPO Dulmatin.

-Umar Patek telah memberi kuasa kepada penasehat Hukum Asludin Hatjani SH.

Umar Patek sebagai DPO teroris, telah menjadi target penting AS, dan kepalanya dihargai USD 1 juta. Pemerintah AS melalui Deplu pada tahun 2008 menyebutkan bahwa Umar Patek adalah teroris terkemuka di wilayah Asia Tenggara. Keberadaan Umar Patek di pihak berwajib di Indonesia diharapkan akan dapat lebih mengungkap sel-sel teror di Indonesia yang berkaitan dengan Pakistan dan Philipina.

Umar Patek bagi Amerika sudah bukan target penting lagi, karena AS melalui Prasiden Barrack Obama sudah menyatakan bahwa gelombang perang sudah surut, saatnya membangun Amerika. AS akan melanjutkan operasi counter terorism, yaitu operasi intelijen yang dinilai jauh lebih sukses. Obama menyebutkan  dalam enam bulan terakhir, 20 dari 30 tokoh Al Qaida telah berhasil disergap dan tewas. Diantara beberapa tokoh, harga kepala Umar Patek harganya terendah, USD 1 juta, sementara Dulmatin (Alm) USD 10 juta, Zulkarnaen USD 5 juta, Zulkifli Bin Hir USD 5 juta.

Demikian perkembangan informasi yang bisa disampaikan, satu hal yang penting bagi pemerintah, disarankan Kemlu terus memonitor perkembangan Afghanistan. Karena kini beberapa propinsi disekitar Kabul sudah dikuasai Taliban. Apabila pemerintahan Karzai jatuh ketangan Taliban dan AS mundur seperti di Viaetnam, maka dikhawatirkan terorisme akan jauh lebih marak lagi baik di dunia internasional maupun di Indonesia. Umar Patek menjadi sumber informasi yang sangat berharga dalam memonitor situasi dan kondisi Afghanistan, khususnya pengaruhnya terhadap perkembangan terorisme di Indonesia terkait dengan Philipina dan Pakistan serta Afghanistan.

AS sudah dapat dipastikan akan melepas Afghanistan pada 2014. Justru Indonesia berada dibabak penting karena saat itu akan dilaksanakan pemilu legislatif dan pilpres. Prayitno Ramelan ( http://ramalanintelijen.net )

Ilustrasi gambar : metro-vivanews.com

     
This entry was posted in Hankam. Bookmark the permalink.