Kuantitas Serangan Teroris Naik Sejak 2009

3 August 2011 | 6:09 am | Dilihat : 290

Lembaga Ketahanan Nasional  (Lemhannas), menyelenggarakan seminar bertajuk ”Penanggulangan Terorisme guna Persatuan dan Kesatuan Bangsa dalam Rangka Ketahanan Nasional,” yang dilaksanakan di Gedung Lemhannas pada Selasa (2/8). Pada seminar tersebut, Deputi Bidang Penindakan dan Pembinaan Kemampuan BNPT Brigjen Pol Tito Karnavian  mengatakan  kuantitas serangan teroris di Tanah Air meningkat sejak 2009, meski kondisi ini tidak diikuti oleh kualitas serangan.

Kuantitas serangan terlihat dari banyaknya jumlah teroris yang ditangkap. Pada 2010, jumlah tersangka yang ditangkap berjumlah  103 orang. Pada 2011, hingga Juli tahun ini, sudah 70 orang yang ditangkap terkait tindak terorisme. ”Padahal ini baru pertengahan tahun,”kata Tito. Dari data tersebut menunjukkan bahwa Indonesia belum bebas terorisme. Kualitas serangan terjadi pada bom bali-1 (2002), JW Marriot (2003) dan Bom Kedubes Australia (2005), setelah itu serangan dengan kualitas tinggi berkurang.

Setelah itu banyak pihak menyatakan bahwa terorisme di Indonesia selesai, tetapi dalam kenyataannya belum selesai. Pada 2009, kembali  terjadi serangan bom di JW Marriott dan Ritz Carlton. Di tahun yang sama ditemukan pula pelatihan teroris ala militer di Aceh. Lalu ada insiden perampokan Bank CIMB Medan pada 2010 dan tahun ini ada serangan bom bunuh diri di Mapolresta Cirebon. Selain itu,muncul pula dugaan terbentuknya kelompok radikal di sebuah pondok pesantren di Bima NTB dan penembakan polisi di Palu Sulawesi Tengah. ”Jadi harus ada upaya sistematis untuk melakukan kontraradikalisasi dan deradikalisasi dengan melibatkan sumber daya yang ada sesuai kompleksitas akar permasalahan.”

Itulah data dan kesimpulan dari BNPT tentang tindak terorisme di Indonesia. Memang dalam dunia modern sekarang, teroris telah bergerak sekaligus melakukan aksi pembunuhan dan peledakan bom dengan pola yang sangat sederhana. Kini mereka mempunyai kemampuan yang luar biasa, mampu dalam sekejap mempersiapkan diri sendiri ataupun kelompoknya menjadi mesin pembunuh yang potensial. Tampaknya sangat menakutkan, tetapi itulah kenyataan yang dapat terjadi kapan saja, di mana saja dan pada siapa saja.

Hanya dengan sebuah semangat kebersamaan maka sebuah negara dapat membersihkan kelompok terorisme yang telah terbentuk. Tanpa semangat itu, maka seperti yang dikatakan Tito, walau kualitas menurun, kuantitasnya naik, dan teroris tetap merupakan gangguan dan ancaman ketenteraman bagi kita semua. Prayitno Ramelan ( http://ramalanintelijen.net ).

Ilustrasi gambar : tribunnews.com

 

This entry was posted in Hankam. Bookmark the permalink.