Mengintip Sri Mulyani Sebagai Capres 2014

27 June 2011 | 11:12 pm | Dilihat : 2263
Oleh  : Prayitno Ramelan

Sri Mulyani adalah salah satu wanita yang cukup terkenal di kalangan orang terdidik. Pada saat menduduki jabatan sebagai  Menteri Keuangan, menurut wartawan Kompas Wisnugroho, di istana terdapat dua nama Ani, dimana panggilannya dibedakan, yang satu dipanggil Ibu Ani (maksudnya Ani Yudhoyono, Ibu Negara) dan satunya Mbak Ani (Sri Mulyani Menkeu).

Kedua Ani ini cukup terkenal dan bahkan pernah digadang-gadang sebagai capres 2014. Hanya Presiden SBY sudah menyatakan bahwa isterinya tidak akan maju menjadi capres pada 2014 nanti.

Kini, mari kita bahas sedikit-sedikit, dengan ringan-ringan saja, siapa Mbak Ani ini dan kira-kira seberapa besar peluangnya untuk menjadi presiden RI pada 2014 nanti. Mbak Ani atau lengkapnya Sri Mulyani Indrawati Ph.D menjadi sosok yang coba penulis bahas kali ini.

Pada artikel terdahulu, penulis pernah menyampaikan bahwa kita sudah memasuki era digital society, dimana kemajuan teknologi multi media sudah merangsak keberbagai sendi kehidupan. Sering tanpa terduga, platform teknologi multi media telah memfasilitasi individu-individu yang pandai untuk memanfaatkannya bagi kepentingan pribadi, kelompok atau kombinasi keduanya diberbagai sektor, seperti pendidikan, agama, industri, ekososbud dan polhukkam.

Aspek kedua adalah momentum. Meski momentum ini berada pada tahapan awal, namun hakikat dan fungsinya memiliki peran kunci, strategis dan relevan dengan kondisi saat ini dan dimasa mendatang. Dalam dunia politik, momentum bisa terjadi karena di design khusus atau terjadi karena faktor ekstern diluar kendali seseorang. Indentifikasi momentum memiliki beberapa tahapan, yaitu menganalisa fakta dan pergerakan isu-isu yang sedang berkembang di masyarakat. Tahap selanjutnya adalah pengembangan produk, pengembangan karakter dan pengembangan fisik, atau pengembangan 'packaging'.

Apa kaitan teori tersebut dengan Sri Mulyani (SMI)? Tokoh sekelas SMI jelas sangat mumpuni membaca perkembangan di era digital society saat ini dan dimasa mendatang. SMI yang dilahirkan  di Bandar Lampung pada 26 Agustus 1962 adalah salah satu ilmuwan wanita terbaik Indonesia, dengan gelar Ph.D in Economics di University of lllinois Urbana-Champaign, USA (1990-1992). Selama 2004-2009 SMI telah menduduki jabatan Meneg PBB/Kepala Bapennas, Menteri Keuangan KIB, dan Plt Menko Perekonomian KIB. Kini SMI menduduki jabatan sebagai Managing Director World Bank Group, Juni 2010-sekarang.

Sri Mulyani oleh beberapa pendukungnya dengan serius mulai diperkenalkan ke masyarakat, tim suksesnya telah membuat situs srimulyani.net, dengan tagline merawat republik memastikan keadilan. Tokoh wanita Indonesia ini oleh Emerging Markets pada 18 September 2006 di sela Sidang Tahunan Bank Dunia dan IMF di Singapura telah terpilih sebagai Menteri Keuangan terbaik Asia tahun 2006. Ia juga masuk dalam daftar wanita paling berpengaruh ke-23 di dunia versi majalah Forbes tahun 2008 dan wanita paling berpengaruh ke-2 di Indonesia versi majalah Globe Asia bulan Oktober 2007.

Selain berpengalaman sebagai tokoh yang cukup dikenal dunia, SMI mempunyai pandangan menarik di situsnya “Saya menang... Selama saya tidak mengkhianati kebenaran; selama saya tidak mengingkari nurani saya; dan selama saya masih bisa menjaga martabat dan harga diri saya, maka di situ saya menang.” Pendukungnya menyebutkan, kekuatan dan keutamaan karakter tampaknya menjadi andalan Sri Mulyani.

Nah itulah beberapa kehebatan dari tokoh kita Mbak Ani. Tetapi apakah sebagai tokoh yang mendunia, dia juga layak dan pantas dijual dalam ajang pilpres 2014? Kita harus mengukur SMI dalam perspektif dan karakter konstituen Indonesia. Pemilih dikenal sangat berpegang kepada patron, nah disinilah kerawanan SMI, artinya saat ini dia sedang berada di Amerika dan entah hingga kapan akan kembali. Namanya jarang muncul di media, sementara intelijen menilai bahwa media massa adalah sebuah alat yang disebut silent revolution. Kita lihat, pada akhir-akhir ini Partai Golkar sering memunculkan Bang Ical dan Golkar di media elektronik, dan hasilnya dalam survei LSI, Golkar mampu menyalip Partai Demokrat.

Kelemahan kedua SMI menurut Indonesianis Amerika Prof Jeffrey Winters yang  mengatakan kepada Rimanews bahwa peluang Sri Mulyani menjadi capres 2014 hampir nol karena berbagai faktor. Pencalonan Sri Mulyani akan menghadapi banyak masalah, dan resistensi masyarakat dan mahasiswa  terkait skandal Bank Century. Demo-demo soal Century akan meledak lagi.

Selanjutnya Prof Winters mengatakan Sri Mulyani  merupakan sosok kontroversi, dan ia sosok Neolib yang dianggap sudah menjadi ''orang IMF atau Bank Dunia'' dengan Neoliberalismenya yang menimbulkan krisis kepercayaan rakyat kepadanya karena program-programnya selama menjadi Menkeu, tidak berhasil, hanya menambah beban utang dan korupsi. ''Saya melihat kesempatan Sri Mulyani sangat kecil, almost zero,'' ujar Winters, guru besar Northwestern University, AS.  Sabtu (4/6).

Harapan SMI nampaknya walau masih merupakan sebuah noktah kecil, muncul dari  Partai PPP dan Partai Demokrat. Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat (PD) Ahmad Mubarok mulai membocorkan kepada media siapa-siapa calon presiden yang dilirik Demokrat pada Pemilu 2014. "Capres yang akan diusung Demokrat nanti tidak harus berasal dari internal partai. Bisa dari luar dan dalam, tergantung siapa yang relevan dan bisa mengatasi problem. Itu yang akan didukung Demokrat," tegasnya kepada wartawan seusai Seminar Nasional di FISIP Unair Surabaya, Jumat (3/6).

"Sri Mulyani termasuk aset. Dia itu sekarang sedang ditaruh di pertapaan, pulangnya ke Indonesia bisa jadi satriyo piningit" katanya. Ahmad Mubarok juga memastikan Demokrat tidak akan mencalonkan dari trah keluarga SBY dan Ketua Umum Anas Urbaningrum sebagai calon presiden 2014. "Nggak ada kalau trah SBY. Bu Ani (Ani Yudhoyono) dari dulu tidak pernah ngitung mau maju," katanya. Mengenai peluang Anas Urbaningrum sendiri, Mubarok memastikan untuk tahun 2014 nanti belum waktunya Anas maju sebagai calon presiden. "Anas belum saatnya. Sekarang tokoh muda belum ada yang nampak," tegasnya.

Nah itulah sekilas tentang peluang Sri Mulyani apabila ada yang akan mendukung. Peluangnya akan besar apabila SMI dilamar oleh partai papan atas, kesempatannya hanya ada pada Partai Demokrat yang calonnya masih belum jelas. Kesempatan akan menjadi lebih baik apabila minimal dua tahun sebelum pilpres SMI sudah berada di dalam negeri dan bergabung dengan Demokrat. Walaupun pendukungnya mereka-mereka yang pintar, peluangnya akan tipis apabila dia diajukan sebagai calon independen yang mungkin akan diupayakan oleh beberapa pihak dengan mengubah UU pemilu. Pendukung SMI harus siap melakukan counter rumors yang mungkin akan bertiup kencang.

Budaya paternalistik masyarakat, dan keinginan mengisi ruang kosong di hati konstituen dengan tidak majunya kembali Pak SBY akan menjadi tontonan menarik, karena lawan berat SMI adalah  Ibu Megawati yang sudah membuktikan dirinya mengakar dan mempunyai pemilih solid dalam dua periode pemilu terdahulu. SMI di dunia luar dikenal sebagai berlian, tetapi di Indonesia belum tentu dikenal masyarakat luas sebagai berlian. Disini banyak yang lebih suka dengan kristal yang mirip berlian, selain harganya murah juga mudah didapat.

Karena itu jangan jual SMI dengan harga yang terlalu tinggi, cukup dikenalkan dengan KW-1 saja, berlian akan membuat takut konstituen, karena bangsa ini adalah bangsa yang sederhana. Beda dengan bangsa Barat yang  sudah          sangat faham dengan sistem demokrasi, yang sangat menghargai berlian sebagai sebuah kebutuhan. Peluang SMI sekecil apapun tetap ada, terlebih apabila dia menemukan momentum yang tepat pada saatnya nanti. Jadikan dia patron, maka SMI akan menjadi tokoh hebat yang layak diperhitungkan.

Kalau penulis  boleh meramal, nampaknya presiden Indonesia pada 2014 nanti akan dijabat seorang wanita?. Apakah  begitu? Yang penting mari kita bersama mohon ridho dan pertolongan kepada Yang Maha Kuasa, kita berusaha dahulu mencari yang terbaik, dan menyerahkan keputusannya kepada Tuhan.

 

 

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.