Pentingnya Komunikasi dan Kepedulian di Jaman Susah

29 April 2010 | 6:14 pm | Dilihat : 145
Ilustrasi Gambar, Tempo interaktif

Dalam waktu 12 hari berselang, pada bulan April ini telah terjadi tiga kerusuhan, yang berakhir dengan tindak anarkis. Kejadian menonjol pertama hari Kamis (15/4) terjadi kerusuhan di Koja Tanjung Priok yang menyebabkan 181 orang luka-luka dan 3 diantaranya meninggal dunia. Puluhan mobil patroli Satpol PP, dua unit escavator, satu unit mobil Polres Jakarta Utara dan satu unit mobil water canon Brimob juga ikut dibakar massa. Kejadian kedua, kerusuhan terjadi di PT Drydock World Graha, Batam, melibatkan sekitar 10.00 pekerja. Dalam kerusuhan tersebut, 38 mobil dan beberapa ruang kantor PT Drydock World Graha dirusak dan dibakar, sementara empat orang menderita luka-luka.

Kejadian ketiga terjadi pada hari Selasa (27/4) ribuan warga masayarakat dari berbagai Desa di Cisarua telah menyerang dan membakar enam gedung yang sedang dibangun di area jalan masuk ke Taman Safari. Selain itu juga dua buah mobil ikut dibakar. Meski demikian tak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Kerugian ditaksir mencapai ratusan juta rupiah. Bangunan dan mobil adalah milik Yayasan Badan Pendidikan Kristen (BPK) Penabur.

Warga, yang menamai diri Komunitas Muslim Jalur Puncak, resah karena mengira wisma itu akan dijadikan tempat ibadah umat Nasrani. Menurut Rahmatulloh, Presiden Komunitas Muslim Jalur Puncak, yang juga Ketua Majelis Ulama Indonesia Kecamatan Mereka sempat meminta Bupati Bogor menutup wisma tersebut, "Namun respons Bupati telat, beginilah akhirnya. Kami sudah tidak bisa membendung amarah massa," katanya.

Camat Cisarua Bangbang Padmanegara menjelaskan, kerusuhan di lokasi wisma BPK Penabur akibat adanya salah paham. "Tempat ini akan dibangun wisma, namun pemahaman masyarakat akan di bangun gereja," katanya.  Sementara dalam jarak 200 meter terdapat sebuah pesantren. Sebelumnya, pihak kantor Kecamatan Cisarua sudah meminta bupati mencabut izin wisma BPK Penabur. "Namun bupati juga tidak punya dasar pencabutan, karena izin sudah keluar," katanya. Pasca kerusuhan, polisi menurunkan 500 personel gabungan dari Polres Bogor dan Kepolisian Wilayah Bogor untuk mengamankan lokasi.

Polisi juga sudah meminta keterangan enam saksi. "Jika nantinya hasil pemeriksaan saksi itu ditemukan tindakan-tindakan provokasi, kami akan menegakkan hukum,” kata AKP Jasmin Ginting, Kepala Satuan Reskrim Polres Bogor. Pada saat kerusuhan, karena jumlah petugas jauh lebih sedikit, tindakan anarkis massa tidak dapat dicegah. Kepala Polres Bogor Ajun Komisaris Besar Tomex Korniawan membantah anggapan bahwa polisi tidak bertindak mengatasi kerusuhan.  Menurut dia, kondisi tidak memungkinkan untuk berkonfrontasi dengan warga ( Koran Tempo 28/4).

Sementara itu Juru bicara BPK Penabur Jakarta, Mulyono, menyesalkan insiden yang terjadi di wisma BPK Penabur Bogor itu.  Ia menjelaskan pembangunan sudah resmi memiliki ijin, izin mendirikan bangunan dikeluarkan Badan Perizinan Terpadu Pemerintah Kabupaten Bogor untuk rencana pembangunan wisma. Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi Kabupaten Bogor Yosef Hermawan mengatakan, untuk masalah perizinan atau pengkajian termasuk juga pencabutan tidak mungkin bisa lagi dilakukan. ”Izinnya sudah keluar. Bagaimana mau dicabut. Untuk pengkajian ulang atau pencabutan tidak semudah itu,” katanya (Sindo 28/4).

Nah, dengan kejadian anarkis di Cisarua itu, mestinya kita berfikir, apa yang sedang terjadi dengan masyarakat kita? Kenapa masyarakat demikian sensitif dan kemudian menjadi ganas melakukan tindakan pembakaran dan penyerangan. Kasus Priok memang dilatar belakangi soal sensitif SARA, kasus Batam juga dipacu masalah SARA dan kasus Cisarua juga kasus SARA. Masyarakat yang terlibat di Priok adalah masyarakat bawah, ikut mati-matian mempertahankan makam mbah Priok yang diberitakan akan di bongkar. Keributan di Batam karena adanya kasus antar golongan, penghinaan, perbedaan perlakuan terhadap pekerja lokal dan asing. Sementara kasus di Cisarua karena adanya salah faham dan pandangan sensitif umat Islam di Cisarua terhadap kegiatan dari Yayasan Badan Pendidikan Kristen.

Jadi memang ketiganya bersumber dari kombinasi antara latar belakang SARA, rasa kebebasan dalam melakukan tindak anarkis, dan hilangnya rasa takut terhadap aparat keamanan dan hukum yang berlaku. Dalam hal ini, nampaknya perlu di tinjau kembali, apakah jumlah anggota Polri sudah memadai dibandingkan luas wilayah dan jumlah penduduk?.  Dari ketiga kerusuhan, sepertinya terkesan kalau rakyat marah, mereka dibiarkan melakukan pembakaran dan perusakan, dan bahkan penyerangan yang mematikan. Hal tersebut diatas adalah ekses penerapan kita berdemokrasi yang disalah artikan, apakah begitu? Oleh karena itu "counter" terhadap anarkisme adalah dengan memperkuat dan  mempertegas penegakkan hukum di negara ini. Apabila toleransi seakan-akan tetap diberikan, entah apa yang akan terjadi dalam waktu-waktu mendatang. Tiga kasus anarkis dalam waktu duabelas hari adalah sudah dalam taraf bahaya, sedang masalah yang berpotensi dapat menimbulkan kerusuhan di Indonesia cukup banyak.

Hal lainnya  yang dipandang penting dan perlu mendapat perhatian, seperti yang dituliskan dalam judul. Yaitu pentingnya komunikasi dan kepedulian di jaman susah. Kini jamannya makin susah, betulkah begitu? Kesenjangan sosial nampaknya makin besar. Yang bisa bermain akan berada di posisi atas, hidup berkecukupan. Berita pejabat yang korupsi milyaran membuat kesal rakyat bawah,  sementara yang dibawah merasa semakin terjepit dan sulit, sehingga mereka menjadi sensitif dan emosional. Oleh karena itu, dibutuhkan komunikasi yang memadai dalam segala hal, khususnya apabila suatu masalah menyentuh dan melibatkan masyarakat golongan bawah.

Cukup sudah pelajaran dari kerusuhan Priok, Batam dan Cisarua. Apabila sebelumnya komunikasi dilakukan dengan baik dan  lancar, dan kepedulian menjadi sebuah kebijakan, maka kerusuhan akan bisa di eliminir atau ditiadakan. Karena itu, marilah kita bangun komunikasi dan rasa peduli itu. Kalau semuanya, ya pemerintah, ya politisi, ya para tokoh-tokoh masyarakat itu cuek-cuek saja, maka kita harus siap-siap menghadapi anarkisme yang bukan lagi sebuah tindakan dari kondisi situasional saja. Anarkisme raksasa yang sudah berubah menjadi  budaya yang menyeramkan...alangkah menyedihkan dan menakutkan.

PRAYITNO RAMELAN, Pemerhati Intelijen, Penulis Buku Intelijen Bertawaf.

Sumber: http://media.kompasiana.com/buku/2010/04/29/pentingnya-komunikasi-dan-kepedulian-di-jaman-susah/ (Dibaca: 454 kali)

This entry was posted in Sosbud. Bookmark the permalink.