Aku Mencintai TNI AU

10 April 2010 | 9:59 am | Dilihat : 347

Tanggal 9 April 2010, TNI AU genap berusia 64 tahun, satu tahun lebih tua dibandingkan penulis yang hampir 63 tahun. Sejak awal berdirinya, banyak lika liku, perjuangan dan pengabdian TNI AU kepada bangsa dan negara tercinta ini. Swa Bhuwana Paksa, yang berarti sayap tanah air, selalu ditanamkan kepada seluruh jajaran di TNI AU. Pada upacara peringatan, berupa ziarah ke TMP, upacara militer serta resepsi atau malam silaturahmi yang dilaksanakan, sangat terasa terjalinnya keakraban dan kecintaan kepada almamater dan angkatan dimana pejabat itu dibesarkan.

Upacara militer Peringatan HUT TNI AU ke 64 dilaksanakan secara meriah, selain dilakukan upacara dengan inspektur upacara Panglima TNI, Jenderal TNI Djoko Santoso, dimeriahkan dengan terbang lintas 16 pesawat tempur dalam formasi "big diamond." Mass formation diperkuat oleh pesawat-pesawat tempur, F-16 Fighting Falcon, F-5E Tiger, Hawk 100/200 dan Sukhoi 27/30. Pembentukan formasi dimulai dengan kemunculan dua Sukhoi melintas tempat upacara, disusul empat Hawk 100/200, dari sisi kiri F-5 Tiger dan sisi kanan F-16 Fighting Falcon.

Acara dilanjutkan dengan demo ketangkasan Detasemen Bravo-90 Paskhasau yang meperagakan tembak reaksi cepat ke sasaran, serbuan cepat ke sasaran dan penghancuran sasaran obyek vital. Pasukan ini disebut sebagai detasemen anti bajak udara. Kemudian dilakukan terjun bebas pasukan. Pada acara tersebut, nampak mirip dengan sebuah reuni antara angkatan, purnawirawan dan isteri.

Dalam sambutannya, Panglima TNI mengingatkan seluruh jajaran TNI, khususnya TNI Angkatan Udara untuk mewaspadai dua ancaman strategis, yaitu kemajuan teknologi dan industri kedirgantaraan karena dapat mendukung penguasaan penggunaan wahana dirgantara baik saat ini maupun masa yang akan datang. Selanjutnya dikatakan bahwa pemerintah akan terus meningkatkan peran TNI AU agar semakin handal dan profesional. TNI telah menyusun rencana pembangunan strategis 2010 - 2014 secara bertahap. Kita akan membangun kekuatan TNI AU sebagai bagian integral TNI menuju kepada kekuatan pokok minimum, sehingga semakin handal dalam mengawal kedaulatan udara.

Pada malam harinya Kepala Staf TNI AU mengundang para pejabat Kolonel keatas aktif serta para perwira tinggi purnawirawan pada acara resepsi, berupa silaturahmi di gedung Puri Ardhya Garini, Lanud Halim Perdanakusuma. Dalam menerima undangan, Kasau beserta isteri dan pejabat berbaris di pintu utama, menerima yang hadir dengan penuh keakraban. Para perwira aktif mengenakan seragam baju Pakaian Dinas Upacara putih yang disebut PDU-II. Nampak demikian rapih dan gagah serta anggun, sementara para isteri berpakaian nasional. Untuk Pati (perwira tinggi) purnawirawan menggunakan pakaian jas lengkap.

Resepsi yang dilakukan dengan "standing party," membuat hadirin mudah berbaur satu sama lainnya. Terasa suasana yang dikehendaki oleh Kasau Marsekal TNI Imam Syufaat, akrab, saling menyapa, bertukar kabar, sedikit berdiskusi satu sama lain, pesan senior kepada junior tercapai sudah. Penulis merasakan sentuhan akrab dari para adik atau junior, mereka masih memberikan hormat militer, dan menyapa "Apa kabar Marsekal, kelihatannya agak gemuk sedikit, tetapi saya senang Bapak terlihat sehat wal afiat." Alhamdulillah, sebetulnya sederhana saja sikap dan sapaan itu, tetapi disitu terlihat konsistensi disiplin yang tetap terjaga, keakraban serta esprit de corps yang demikian kental.

Penulis sempat berfoto bersama empat tokoh TNI AU, dari kiri itu, Marsekal Madya TNI (Pur) Tamtomo Adi (AAU 1969), Penulis (Akabri Udara 1970), Kepala Staf TNI AU Marsekal TNI Imam Syufaat (Akabri Udara 1977), Marsekal TNI (Pur) Chappy Hakim (Akabri Udara 1971) dan Marsekal Muda TNI Inugroho (Akabri Udara 1975). Tidak sengaja yang berfoto itu adalah para perwira tinggi TNI AU yang berkumis, ciri khas.

Nah demikian, sekilas informasi dari HUT TNI AU ke 64. Dalam perjalanan pulang, penulis sempat merenung, betapa para pejabat tinggi yang masih aktif itu demikian menghargai dan menghormati para seniornya. Memang para senior adalah guru mereka, yang melatih mereka menjadi penerbang, melatih segalanya, memberikan serta menurunkan ilmu kepemimpinan, etika, logika, loyalitas kepada sesama, kepada TNI AU, bangsa serta negara. Juga senior mengajarkan ilmu manajemen udara, cara pengambilan keputusan dan bahkan para senior juga membimbing dan mengarahkan bagaimana mencari isteri yang baik dan membangun keluarga yang baik dan bahagia. Keakraban yang dibangun sejak pangkat perwira pertama hingga menjadi Marsekal akan tetap tertanam disanubari para perwira TNI AU.

Kecintaan kepada korps dan negara ditekankan jangan sampai luntur. Mereka harus selalu sadar bahwa nasi yang mereka makan, rumah, barang dan mobil yang dibeli, biaya membesarkan anak, harga diri, kebanggaan, semuanya berasal dari Angkatan dimana mereka dibesarkan. Jangan merusak rumah sendiri itu pesan senior. Cinta itu memang harus ditanamkan mulai dari pertama seseorang resmi menjadi anggota TNI AU. Jangan terus menjadi luntur. Tak terasa...dalam perjalanan pulang, dengan keheningan didalam mobil, dalam alunan lagu When I fall in love...Air mata Old Soldier ini menitik... Memang, aku mencintai TNI AU lahir bathin, tempat aku pernah mengabdi dengan segenap jiwa ragaku. Selamat berulang tahun TNI AU...Semoga selalu menjadi sayap tanah air terpercaya dalam mengawal dan menjaga bangsa dan negara ini, Semoga Allah swt selalu melindungi dan memberikan ridhoNya kepadamu. Amin

PRAYITNO RAMELAN. Old Soldier Never Die.

Sumber: http://politik.kompasiana.com/2010/04/10/aku-mencintai-tni-au/

(Dibaca: 684 kali)

This entry was posted in Kedirgantaraan. Bookmark the permalink.