Mega Masih Berpeluang Kuat Jadi Presiden

23 February 2010 | 10:53 am | Dilihat : 47

Kalau kita perhatikan, apa sebetulnya kemelut dan riuh rendahnya pansus Hak angket DPR tentang kasus bank Century? Makin nyata bahwa dibelakang itu semua, terbersit adanya kaitan dan target  2014. Nampak semua elit perwakilan fraksi yang ada di pansus berusaha mengambil hati rakyat. Ada yang mengatakan kalau tidak jujur akan dikejar-kejar rakyat, ada yang mengatakan bahwa usaha mereka untuk mendukung pemerintahan yang reformis dan bersih. Rakyat kemudian mengangguk-anggukkan kepala, banyak rakyat yang kemudian dimainkan untuk turun kejalan, berdemo, berteriak tentang pemakzulan, korupsi dan membakar simbol negara. Timbul pertanyaa, apakah rakyat kemudian bersimpati kepada itu semua? Nah mari kita bahas kondisi ini.

Kini yang nampak berseberangan dengan Presiden SBY dan Partai Demokrat dalam masalah pansus ada tujuh fraksi di DPR kecuali PKB. Stand-nya kalau main sepak bola tujuh lawan dua. Dari perkembangan keadaan nampaknya PAN, PPP dan Gerindra akan balik badan. Artinya stand akan berubah menjadi lima lawan empat. Dari kemungkinan empat lawan lima, maka yang menekan Partai Demokrat adalah Partai Golkar, PKS, PDIP dan Hanura. Yang paling bersemangat sebagai tim penyerang adalah pemain sayap Golkar dan PKS. Keduanya menunjukkan akan bermain habis-habisan, dengan alasan takut disalahkan rakyat.

Apakah keputusan keduanya itu tepat? Belum tentu juga apabila diukur dari kepentingan 2014. Rakyat yang katanya kini lebih melek politik secara diam-diam juga menilai, kalau PKS dan Golkar yang menjadi partner koalisi dan diberi kursi kabinet cukup banyak kini oleh Partai Demokrat di sebut sebagai tidak ber-etika politik. Partner kok menyerang partner, bagaimana ini? Nah, secara diam-diam rakyat kembali mengangguk-anggukkan kepalanya. Kalau kesatria, sudah keluar dari koalisi saja, jadi oposisi atau apalah, tarik menterinya, kata anggota Dewan Pembina Partai Demokrat Hayono Isman. Tapi Golkar hanya mengancam kalau satu saja ada menterinya yang di reshuffle , maka Golkar akan keluar dari koalisi. PKS mengatakan kalau ada menterinya di reshuffle, maka mereka menyiapkan kader baru sebagai calon. Ini artinya kedua partai tersebut masih menginginkan jabatan menteri bukan?. Sementara dilain sisi keduanya terus menggempur walau hanya dengan senjata serbu dan bukan dengan artileri berat. Tanpa disadari keduanya, rakyat menilai dan menyimpulkan bahwa ada urusan oportunis disitu.

Nah, dari kemelut Century, siapa yang paling diuntungkan? Jawabannya adalah PDIP, karena PDIP sangat jelas menempatkan diri bukan koalisi pemerintah, semacam oposisi begitulah. Jangankan rakyat, Partai Demokrat saja sebagai lawan utamanya mengatakan bahwa tindakan PDIP yang mau menjatuhkan pemerintah  adalah langkah yang wajar sebagai oposan. Beda dengan PKS dan Golkar yang dikritik Partai Demokrat. Entah ini sebuah strategi ataupun kebetulan, kalau elit PDIP sadar, posisi politik mereka dimata rakyat kini  tertinggi, dinilai konsisten, tidak mencla-mencle kata konstituen Jawa.

PDIP adalah partainya wong cilik, artinya ini partai yang di miliki rakyat, konstituennya adalah rakyat kecil. Dari sejarah sejak reformasi 1997, dimana pemilu dan pilpres kemudian dilaksanakan langsung, PDIP dengan Ibu Megawati sebagai tokoh utamanya tetap eksis dan mempunyai pemilih yang sudah jadi. Pada pemilu 2004, PDIP dipilih oleh 21.026.629 orang (18,53%), Partai Golkar mendapat 24.480.757 pemilih (21,58%), Partai Demokrat dipilih oleh 8.455.225 orang (7,45%). Dalam pilpres 2004, pada putaran pertama, pasangan Partai Demokrat, SBY-JK mendapat 33,57%, pasangan PDIP,Mega-Hasyim mendapat 26,61% dan pasangan Golkar Wiranto-Salahudin Wahid mendapat 22,15%. Pada putaran kedua yang dimenangkan SBY-JK (60,62%), Mega-Hasyim mendapat 39,38%. Pada pemilu 2009, Partai Demokrat mendapat 20,85%, Partai Golkar 14,45% dan PDIP mendapat 14,03%. Hasil pilpres 2009, pasangan Demokrat SBY-Boediono mendapat 60,80%, pasangan PDIP-Gerindra Mega-Prabowo mendapat 26,79% dan pasangan Golkar-Hanura, JK-Wiranto mendapat 12,41%.

Nah dari data tersebut, apa yang bisa kita lihat? Pada pemilu legislatif, peran pemimpin, sebagai patron, militansi kader yang dibentuk akan sangat berpengaruh dalam menangguk konstituen. Persaingan dalam dua periode pemilu hanya terjadi pada Partai Demokrat, PDIP dan Golkar. Dengan strategi yang disebut SBY sebagai strategi putih, Partai Demokrat mampu berjaya dalam dua periode dengan mendudukan SBY sebagai presiden. PDIP, walau perolehan suara dalam pemilu juga merosot, tetapi dalam pilpres, mampu bertengger diatas Partai Golkar. Pada pilpres 2004 Mega-Hasyim mampu ke putaran kedua, sementara jago Golkar Wiranto hanya mampu bertanding di putaran pertama. Demikian juga pada pilpres 2009, pasangan Mega-Prabowo mampu berada diposisi kedua (26,79%) dibawah SBY, agak jauh meninggalkan jago Golkar JK-Wiranto (12,41%).

Pertanyaannya, mengapa jago PDIP ini mampu bertahan di posisi kedua?. Pertama, jelas kedudukan Mega sebagai patron wong cilik masih sangat kuat, kedua peran Prabowo saat pilpres yang muncul sebagai pemimpin harapan petani nampaknya juga menyumbangkan suara. Sementara jago Golkar JK-Wiranto  berada di posisi yang kurang baik, karena ada beberapa masalah psikologis keduanya dalam pandangan konstituennya. Jadi, bagaimana untuk 2014? Kalau berangkat dari hitungan dengan kalkulasi intelijen bertawaf, pada 2014, Megawati masih sangat bisa diharapkan untuk memenangkan pilpres. Basic descriptive inteligence pada 2004 atau yang disebut sebagai the past menunjukkan Mega berpeluang sebagai pemimpin dengan popularitas hanya dibawah SBY. Sementara pada data "the present," Mega -Prabowo juga masih bertengger di posisi kedua dibawah SBY-Boediono. Ini berarti bahwa rakyat Indonesia masih menilai Mega sebagai tokoh atau patron kedua terpopuler dan terkuat setelah SBY.

Pada pemilu 2014, sang maestro politik SBY jelas akan tidak bisa mengikuti pilpres kembali karena dibatasi oleh UU pemilu. Sementara hingga kini Partai Demokrat belum memberikan indikasi siapa yang akan dijagokannya. Selain itu, langkah PDIP sebagai oposisi dan salah satu inisiator hak angket Century, jelas menarik simpati rakyat. Sementara bagi Golkar dan PKS kemungkinan justru akan turun popularitasnya, karena budaya bangsa ini pada dasarnya adalah budaya setia dan berbudi. Nah, dalam ilmu intelijen itu maka apabila kondisi perpolitikan di Indonesia tetap stagnan, tanpa perubahan yang drastis, maka inteligence estimate akan mengatakan bahwa Mega masih sangat berpeluang menjadi presiden pada 2014. Kemungkinan lawan politiknya adalah Aburizal Bakrie yang sementara ini citranya kurang menguntungkan.  Oleh karena itu, para elit PDIP mestinya harus menyadari kekuatan citra Megawati sebagai tokoh kedua terpopuler setelah SBY. Jangan lengserkan dia hingga 2014. Tinggal nantinya dihitung siapa pendampingnya yang pas, hingga saat ini mungkin Prabowo masih bisa dipilih sebagai alternatif terbaik. Semoga bermanfaat.

PRAYITNO RAMELAN. Penulis Buku Intelijen Bertawaf

Sumber: http://politik.kompasiana.com/2010/02/23/mega-masih-berpeluang-kuat-jadi-presiden/ (Dibaca: 647 kali)

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.