Mengukur Palagan Ani-Ical

15 December 2009 | 12:11 am | Dilihat : 87

Seorang sahabat lama, eks Atase Pertahanan sebuah negara Eropa yang pernah ditugaskan di Jakarta selama tiga tahun, bulan lalu mengirim email ke penulis. Dia bilang, hidup di negaranya sangat membosankan, apalagi setelah dia pensiun. Dia merencanakan akan menulis buku, dan hebatnya, bukunya tersebut akan didominir cerita tentang pengalamannya selama bertugas di Indonesia. Dia mengatakan, para Athan di Indonesia, aktivitasnya super sibuk, tidak seperti di negaranya. Di Indonesia, berita bisa besar ibarat patah satu tumbuh seribu. Media di Indonesia, seringkali keteteran mengikuti berita yang sangat super dinamis, mirip formula one. Yang lucu, di negaranya, saking tidak adanya berita, seorang nenek yang jatuh di tangga rumahnya dan kemudian klaim ke asuransi, menjadi berita head line. Jadi, berdiam di Indonesia, tentunya sangat-sangat menarik. Cuma sayangnya, kita-kita ini, seringkali hanya melihat dari satu sisi saja.

Mungkin kita masih ingat, sejak April 2009, rentetan berita besar, tak ada habis-habisnya mendominasi berita besar di TV dan media cetak. Sejak kasus Prita, serial kecelakaan pesawat, kapal laut dan kereta api, kasus Antasari, pemilu, pilpres, calon wapres, proses pemilihan kabinet, dan drama Anggodo. Hari demi hari, publik dibuat pusing, meskipun harus lebih diperdalam ini publik yang mana? Saat kasus Bibit-Chandra sedang menjadi puncak berita, penulis kebetulan ke Sentul, ke pemandian air panas di Gunung Pancar, sekitar 60 km dari sebelum. Iseng-iseng, penulis bertanya kepada beberapa orang disekitar wilayah tersebut tentang kasus Bibit–Chandra. Hasilnya mencengangkan! Beberapa orang memang pernah dengar kata KPK, tetapi soal Bibit–Chandra, tak satupun yang mengetahui, padahal diberitanya, bukan main!

Nah, sekarang, sang primadona berita, adalah kasus Bank Century, dimana dari beberapa talk show di televisi dan berita di koran-media, TO (Target Operasi) nya cukup jelas, yaitu Pak Boed (Wapres) dan Mbak Ani (Menteri Keuangan). Yang terkini adalah perseteruan antara Mbak Ani dengan Ical (Ketua Umum Golkar) yang ramai diberitakan.

Penulis tidak kenal secara pribadi dengan mereka, tetapi mencoba melihat dengan sudut pandang yang lain.Wakil Presiden Boediono dalam konperensi pers, mengimbau semua pihak untuk berpikir dan bertindak jernih dalam kasus Bank Century, baik secara hukum maupun politik. “Jangan malah memperkeruh” katanya. Marilah berpolitik,bukan sekadar berpolitik. Berpolitik untuk kepentingan dan kesejahteraan. Boediono menandaskan bahwa pemerintah ingin penanganan kasus Bank Century dapat dilakukan secara baik, tepat, dan cepat. Menurutnya, pemerintah mendukung proses hukum dan proses politik yang tengah berjalan. “Pemerintah tidak ingin ada prasangka tidak baik terhadap pemerintah terkait penanganan kasus Bank Century. Makanya,penanganan dan penuntasannya harus gamblang, jelas, dan terbuka,” kata Boediono.

Terindikasi pada awalnya target utama adalah wapres, skenario pemakzulan wapres walau belum terlalu terbuka sudah mulai lebih jelas dengan “Bom Eep,” yang mengatakan kalau mengganti wapres Golkar berkehendak. Nah kemudian yang terjadi, isu kini bergeser, target utamanya adalah Mbak Sri Mulyani, Menkeu. Kini polemik bukan pada wapres lagi, tetapi pada Mak Ani ini. Perubahan sangat mudah terbaca, karena yang melempar “tohokan” adalah anggota Pansus Bambang Soesetyo, dari  Golkar. Bambang demikian bersemangat menyerang dengan mengatakan adanya pertemuan antara Mbak Ani dengan Robert Tantular, dan mengatakan mempunyai rekamannya. Berita tersebut nampaknya dikeluarkan setelah disadari bahwa presiden bisa terusik. Apabila rumors dibiarkan bergulir menyerang wapres, maka yang akan dihadapi Golkar mau tidak mau adalah adalah pasangan ganda  SBY-Boediono. Dalam artian lain, Golkar dan Ical akan menghadapi sang penguasa. Disitu ada Partai Demokrat, disitu ada partai koalisi, lawannya menjadi sangat berat. Perubahan strategi ini nampaknya dihitung Golkar sesuai dengan strategi pertempuran, taklukkan dahulu palagan terlemah, palagan lain sedikit banyak akan terimbas juga, menjadi goyah dan mudah digempur.

Pemakzulan terhadap presiden dan wapres hanya bisa dimulai jika mereka melakukan pelanggaran hukum seperti korupsi atau pidana berat lainnya (Pasal 7A, UUD 45). Ketentuan tersebut memang bukan hanya menjadi urusan DPR dan MPR. DPR hanya mengajukan pendapat, yang berhak mengadili dan membuktikannya adalah Mahkamah Konstitusi. Golkar kini jelas mengamankan posisinya, terlihat setelah Ketua DPP Partai Golkar yang juga menjabat Wakil Ketua MPR, Hajriyanto Y Tohari menegaskan partainya tidak punya kepentingan menggulingkan Boediono dari posisi wakil presiden terkait dengan pengungkapan skandal kasus Bank Century. Dikatakannya berdasarkan Pasal 8 ayat 2 UUD 1945, jika wapres berhalangan tetap, baik meninggal dunia, mengundurkan diri atau diberhentikan, maka presiden akan mengajukan dua calon wapres kepada MPR untuk dipilih dalam Sidang MPR.

Konstitusi memberi tenggat waktu kepada presiden selama 60 hari untuk mengajukan nama.“ Disini berarti bola ada di tangan Presiden dan sama sekali bukan di parpol apa pun. Dari sisi konstitusi serta logika memang benar seperti itu. Tetapi, ada peluang lain yang menjadi celah dari Golkar. Wakil Ketua MPR Lukman Hakim Saifuddin membenarkan, penentuan pengganti wapres bila terjadi kekosongan sepenuhnya menjadi wewenang presiden. “Persoalan pimpinan parpol melobi presiden agar kadernya diajukan sebagai calon wapres, itu urusan lain,” tegasnya. Di DPR jelas yang sangat berpeluang kemudian mengajukan cawapres (apabila terjadi pemakzulan wapres) adalah dua partai besar yaitu PDIP dan Golkar,. Sebagai partai diluar koalisi Partai Demokrat, nampaknya peluang PDIP sangat kecil, peluang terbesarnya adalah calon dari Golkar, bukankah begitu?.

Nah, kini pertempuran beralih kemedan Menkeu. Secara sederhana, Sri Mulyani dinilai sebagai target mudah, tetapi ada yang lupa, dari beberapa talk-show, jelas terlihat Mbak Ani ini, kalau orang Betawi bilang, ada isinya. Isinya bukan ilmu gaib, tetapi ilmu ekonomi. Dia jelas menguasai disiplin ekonomi, dia seorang Doktor, dari keluarga pintar, orang tuanyapun bergelar profesor.  Mbak Ani pernah dinobatkan sebagai salah Menteri Keuangan terbaik se-Asia. Sebelum jadi Menkeu, Mbak Ani adalah salah satu Direktur IMF. Lepas dari suka atau tidak suka dengan IMF, tapi IMF adalah lembaga dunia yang secara administrasi dikelola dengan professional, jadi tidak sembarang orang bisa bekerja disitu.

Sri Mulyani pernah merepotkan Aburizal Bakrie (Ical) saat kasus Bumi Resources anak perusahaan Group Bakrie mencuat. Mbak Ani merupakan pejabat yang mempunyai otoritas terhadap bisnis Ical. Perang terbuka akan terjadi antara kekuasaan eksekutif dengan kekuatan politik. Mbak Ani mulai memasang barrier pertahanan dengan menggelar konperensi pers, didampingi jajaran dan peserta rapat, dia membantah tuduhan Bambang Soesetyo, menyatakan tidak kenal dan tidak pernah bertemu dengan Robert Tantular. Kedatangan Robert saat rapat di Depku atas arahan Bank Indonesia, katanya. Wanita tegar ini mulai melaksanakan serangan balik. Kini muncul berita tentang masalah pajak beberapa perusahaan dibawah Group Bakrie, yaitu PT Bumi Resources Tbk, yang oleh Dirjen Pajak, dikatakan telah merekayasa pembayaran pajak 2007 sebesar Rp 376 miliar. Selain itu juga disebutkan para penyidik pajak telah menemukan bukti rekayasa lebih gawat lagi di perusahaan Bakrie lain, yakni PT Kaltim Prima Coal, pada 2009. Kaltim Prima diduga merekayasa pembayaran pajak yang merugikan negara Rp 1,5 triliun. Belakangan ada juga dugaan rekayasa di PT Arutmin Indonesia US$ 39 juta.(Tempo,14/12). Apabila kemudian terindikasi adanya dugaan korupsi di perusahaan Group Bakrie , maka bukan tidak mungkin urusan bisa melibatkan KPK. Ini yang sangat perlu diwaspadai, karena akan membuat kubu Golkar dan Ical menjadi yang balik tertekan dan berada disisi terancam.

Mestinya Golkar jangan melakukan serangan terbuka dahulu, walau berkehendak, sebelum pasukan komando dan intelijennya berhasil diinfiltrasi masuk ke wilayah musuh. Nampaknya taktik pertempuran yang di gelar kurang dilengkapi dengan data intelijen yang lengkap, hanya berdasarkan 'katanya' serta asumsi politis semata. Kegagalan intelijen disini, yang artinya kesalahan data akurasi kedua target, bisa menyebabkan kegagalan operasi secara keseluruhan. Kira-kira demikian nilai dari palagan pertempuran itu. Sebagai pengusaha kaya, Ical jelas sosok pintar, tetapi dalam berpolitik, sangat banyak faktor yang mempengaruhi, termasuk masukan elit partainya. Ical mestinya waspada, karena di Golkarpun terdapat beberapa faksi yang beberapa saat yang lalu berseberangan dan menjadi lawan internalnya. Inilah titik rawan dari Ical dan Golkar, belum tentu partai ini solid seperti yang dibayangkan.

Kekuatan Golkar nampaknya akan disandarkan kepada Pansus Angket Bank Century yang dipimpin oleh Sekjen Golkar Idrus Marham. Apakah pansus dengan 30 anggotanya hanya akan ter-fokus membuktikan kedua pejabat publik itu bersalah? Pansus harus hati-hati, kesimpulan itu bisa diterjemahkan publik bukan untuk membongkar korupsi tetapi lebih kepada upaya pemakzulan. Sebetulnya lebih baik pansus menonjolkan upayanya membuka kemana uang Rp6,7 Triyun itu pergi, disitulah akar masalahnya. Bukankah pansus dibuat untuk membongkar korupsi? Tidak main-main uang rakyat sebesar itu yang menguap atau diuapkan, masalah ini yang semestinya menjadi target utama dan harus dibuktikan oleh pansus, karena itulah impian publik yang juga impian kita bersama. Bukannya pansus kemudian menimbulkan konflik dan ada anggotanya  yang berbicara dan menimbulkan polemik. Oleh karena itu, dalam membuat sebuah skenario apapun, yang harus lengkap adalah data intelijen. Pantai yang di kuasai Mbak Ani yang nampak landai, lemah dan tidak terjaga, ternyata salah dikalkulasi, tidak diketahui, ternyata dibalik pantai tersebut terdapat bunker-bunker pertahanan yang berisi artileri berat yang siap menghancurkan siapapun yang mencoba melakukan pendaratan pantai. Sementara penyerang hanya dilengkapi dengan perahu dan senapan serbu. Kira-kira demikian sebuah kalkulasi palagan antara Sri Mulyani Indrawati dengan Aburizal Bakrie.

Dari pemikiran ini, timbul pertanyaan berdasarkan akal sehat. Apa iya, Pak Boed dan Mbak Ani, sebodoh itu mau terlibat dengan skandal Bank Century? Mereka sudah hidup dijalur putih selama puluhan tahun, jadi apakah mereka terlalu naif mau meng-hitamkan diri dipuncak prestasinya? Keduanya adalah ilmuwan tangguh yang kemampuan nalar dan pengambilan keputusannya jelas diatas rata-rata, apakah semudah itu membuat 'blunder?.' Inilah pertanyaan tersisa.

Inilah sekedar pandangan Old Soldier dalam melihat kasus tersebut dari sudut pandang yang lain. Dalam standard ilmu perang, rasio sebuah pasukan yang bertahan umumnya besarnya 3 kali lipat dari pasukan yang menyerang. Ini dengan asumsi, pasukan yang diserbu bertahan dengan segala arsenalnya, inisiatif memang berada di pasukan penyerbu. Pertanyaannya sekarang, Pak Boed dan Mbak Ani, diserbu kanan kiri, atas bawah, depan belakang, mau ‘bertahan’ apa tidak? Sementara apakah Golkar dengan komando Ical akan tetap melangsungkan serangan sporadis atau menarik diri ke pangkalan ajunya, untuk mengukur Order of Battle lawannya. Untuk jawabannya memang bukan domain kita di Kompasiana. Tetapi, kalau kembali ke jalur agama, dikatakan bahwa: “Allah swt adalah sebaik-baiknya pengatur rencana,” jadi sepandai-pandainya manusia mengondisikan sesuatu, kalau belum di-ijinkan Allah swt, ya harap maklum deh!

PRAYITNO RAMELAN, Minta maaf artikel terlalu panjang, agar mantap....

Sumber : http://politik.kompasiana.com/2009/12/15/mengukur-palagan-ani-ical/ (Dibaca: 2980)

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.