Eksodus Lebaran Yang Menakutkan

14 September 2009 | 12:11 am | Dilihat : 159

Pada saat Kompasiana pertama muncul dikhasanah dunia maya, penulis masih teringat, saat itu menyarankan kepada Mas Pepih Nugraha, untuk memasukkan "public blog" disamping journalist dan guest blogger. Bersamaan dengan itu penulis mengirimkan sebuah artikel dengan judul "Mengantar Nyawa Saat Lebaran." Alhamdulillah usul disetujui oleh admin Kompasiana, dan artikel tentang urusan nyawa tersebut juga di moderasi. Mengingat kini saat Hari Raya Idul Fitri semakin dekat, penulis mencoba kembali menulis kembali artikel yang berkait dengan eksodus lebaran itu.

Tulisan ini didedikasikan untuk para pemudik dan pemerintah, bahwa sebetulnya ada sesuatu masalah serius yang harus disikapi  dalam menghadapi datangnya Hari Raya Idul Fitri. Jelas Idul Fitri setiap tahun akan datang, dan ini sudah berlangsung puluhan tahun, sejak kita merdeka saja, sudah 64 kali umat Islam bertemu dengan hari baik itu. Terbersit sebuah pertanyaan, seberapa jauh kita bersama menyikapi dan mengantisipasi kehilangan nyawa menjelang dan saat Idul Fitri?

Tradisi pulang kampung bagi sebagian masyarakat adalah tradisi yang sudah demikian mengakar, tidak bisa dilarang. Dimanapun mereka berada, baik diluar pulau, bahkan hingga diluar negeri. Magnet bersujud keorang tua dan bertemu sanak saudara nilainya mutlak, entah bagaimanapun caranya harus diupayakan. Semua upaya diarahkan agar mereka bisa pulang kampung. Lebaran tanpa mudik adalah hambar kata mereka, kurang "afdol" istilahnya. Nah, marilah kita lihat beberapa data bagaimana berbahayanya rakyat dalam memenuhi keinginan menggelora itu.

Kalau dahulu warga pulang kampung naik kapal laut, bus, kereta api, mobil pribadi, maka dalam beberapa tahun terakhir, sepeda motor menjadi salah satu favorit pilihan pemudik. Departemen Perhubungan mengeluarkan data, pemudik yang menggunakan sepeda motor dari tahun ketahun terus naik. Tahun 2003 (0,71 juta), 2004 (0,79 juta), 2005 (1,29 juta), 2006 (1,86 juta), 2007 (2,12 juta), 2008 (2,5 juta). Menurut Kadiv Humas Mabes Polri, pada tahun 2007, jumlah kecelakaan 1.875 kasus, korban meninggal 798 orang, luka berat 952, luka ringan 2.034 orang.

Jumlah korban tewas pada 2007 mengalami kenaikan 82% dibanding tahun 2006, dari 437 menjadi 798. Dari korban tewas, 74% adalah pengendara sepeda motor. Sedang jumlah kecelakaan pemudik 2008 tercatat 1.181kasus, korban tewas 548 orang, luka berat 702 jiwa, luka ringan 1.162. Kecelakaan sepeda motor 1.426, mobil pribadi 394, bus 110, mobil rusak berat 191.

Dephub sebenarnya membatasi penggunaan sepeda motor untuk digunakan transportasi mudik jarak jauh, karena sepeda motor (terlebih bebek) tidak dirancang untuk moda transportasi jarak jauh. Sehingga fisik pengendara amat berpengaruh terhadap keselamatan. Tetapi sulit menyadarkan masyarakat yang beberapa tahun terakhir memutuskan bahwa nilai ekonomis pola mudik dengan sepeda motor mereka nilai jauh lebih hemat. Sejak Hari H-9, terlihat peningkatan pemudik dengan sepeda motor dijalur Pantura Jawa. Rombongan pemudik bersepeda motor lebih banyak terlihat disiang hari.

Menurut data Polda Metro Jaya, diperkirakan jumlah pemudik asal Jakarta yang memakai sepeda motor sebanyak 3,9 juta orang pada masa Lebaran 2009. Pusat Informasi dan  Komunikasi Polda Metro Jaya, di Jakarta, Selasa (8/9) menyebutkan, hingga kini sudah diterima permohonan pengawalan sekitar 15 ribu pemudik bersepeda motor. Sebagian besar yang berkordinasi dengan polisi merupakan program mudik bersama yang digelar sejumlah perusahaan. Nah itulah beberapa data tentang arus mudik masyarakat yang aka merupakan eksodus manusia yang menyampingkan  pertimbangan kemampuan fisik, moda transportasi dan kondisi lalu lintas serta jalan raya.

Dari data serta perkiraan peningkatan  jumlah pemudik bersepeda motor tadi, tidak terbayangkan betapa berbahayanya eksodus itu,  dari 2,5 juta motor pada 2008, akan menjadi 3,9 juta pada 2009. Menakutkan, hanya itulah yang bisa kita ucapkan. Tidak bisa dibayangkan berapa banyak korban akan berjatuhan  pada Lebaran mendatang. Karena Lebaran pasti terjadi setiap tahun, maka urusan transportasi lebaran sebaiknya menjadi salah satu bagian "fit and propper test" bagi calon Menteri Perhubungan pada KIB-II. Apakah dia mampu mencarikan jalan keluarnya.

Apakah setahun sekali pemerintah tidak mampu memberikan angkutan gratis bagi rakyatnya, kadang kita heran juga, apa iya pemerintah kalah dengan pabrik jamu itu yang memberi bonus gratis mudik? Rakyat akan bersuka cita apabila diberi bonus gratis naik kereta api atau bus untuk mudik. Mungkin baru impian kali ya?. Kalau kondisi cara mudik ini terus dibiarkan oleh pemerintah, dan rakyat tetap dibiarkan menentukan nasibnya sendiri dengan moda transportasi yang rawan celaka tersebut, ya memang artinya rakyat itu dibiarkan "Mengantar Nyawa Saat Lebaran."

Kita tahu harga satu nyawa Almarhum Munir saja pernah diurus sampai ke New York, ke PBB, bagaimana dengan hilangnya 500-700  nyawa  lebih saudara kita sebangsa setanah air saat Lebaran itu, apa harga nyawanya berbeda ?. Kesimpulannya, ya memang menakutkan.

PRAYITNO RAMELAN, Guest Blogger Kompasiana

Sumber: http://edukasi.kompasiana.com/2009/09/14/eksodus-lebaran-yang-menakutkan/ (Dibaca: 1251 kali )

This entry was posted in Sosbud. Bookmark the permalink.