Inilah Negaraku, NKRI

17 August 2009 | 10:02 pm | Dilihat : 63

Setiap tanggal 17 Agustus rakyat Indonesia selalu bersemangat memperingati ulang tahun kemerdekaan, yang dahulu diraih dengan segala macam pengorbanan. Masyarakat memperingati mulai dari pengibaran bendera, pemasangan umbul-umbul, upacara pengibaran bendera, pagelaran musik, pawai dan hingga hiburan bagi masyarakat. Penulis sebagai Ketua RT didalam kompleks perumahan  bersama warga, juga  memperingati secara bersama HUT Kemerdekaan RI ke-64  pada hari Sabtu (15/8) pagi, bersama PITA (Paguyuban Ibu-Ibu Tanjung Mas Raya). Acara dimulai dengan gerak jalan bersama, senam, kemudian ramah tamah dan bazaar. Ibu-ibu demikian bersemangat, semua memakai nuansa merah putih, mengingatkan warna kebanggaan dan kehormatan bangsa ini bendera merah putih.

Pada tanggal 17 Agustus sore hari, pengurus RT menyelenggarakan acara yang disukai masyarakat yaitu panjat pinang. Ini adalah sebuah tradisi yang kini demikian populer. Masing-masing tim terdiri dari tujuh orang, mereka bekerja sama memanjat pinang, bahu membahu, saling mendukung. Pada awalnya terlihat sangat sulit, karena batang pinang dilumuri dengan olie, sedang  mereka memanjat tanpa alat. Setelah beberapa tim gagal mencapai puncak, ada satu tim yang demikian terkoordinir, dikendalikan oleh ketua timnya. Ternyata mereka mampu mencapai puncak dengan hanya mengalami dua kali kegagalan. Setelah selesai mereka diwawancarai Pak RT, eh...ternyata mereka kuli bangunan dan dikendalikan oleh mandornya. Diatur, cara naiknya, terkordinir, satu persatu, hingga mencapai puncak...maka berhasilah mereka mencapai puncak dan meraih hadiah berupa uang tunai, sepeda dan handphone serta beberapa hadiah menarik lainnya. Sementara itu ada tim yang gagal mencapai puncak karena tidak terkoordinir dengan baik.

Walaupun kegiatan itu hanya berupa kegiatan sederhana, tetapi ada makna terdalam yang tersirat, mengingatkan masyarakat bahwa kemerdekaan harus dan wajib diperingati. Agar kita jangan sampai lengah, terbuai dengan keadaan, kenikmatan, hingga melupakan nilai kemerdekaan tersebut. Kemerdekaan ini dahulu direbut dengan sebuah perjuangan berat oleh pahlawan-pahlawan kita tanpa pamrih, semua mereka korbankan demi untuk mencapai kemerdekaan. Itulah makna terdalam bagi kita yang wajib meneruskan hasil perjuangan mereka.  Sebuah refleksi bentuk  penghormatan yang diwujudkan dalam kegiatan yang beragam itu.

Sesuai dengan tradisi, pada peringatan HUT Kemerdekaan RI, Presiden menyampaikan pidato kenegaraan.   Pada kali ini ada sesuatu yang  penting pada peringatan ini, yaitu apa yang disampaikan oleh Presiden SBY pada pidato kenegaraan dimuka DPR RI pada tanggal 14 Agustus. Presiden Yudhoyono menegaskan kembali tekad nasional untuk berpegang pada empat prinsip kenegaraan: Pancasila, UUD Negara1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Namun, ada satu ungkapan penting yang disampaikan Presiden Yudhoyono, yaitu ”...dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah, kita dituntut untuk selalu mengedepankan cara-cara yang damai, beradab, dan demokratis, bukan dengan cara-cara kekerasan dan mengabaikan pranata sosial dan pranata hukum.”

Ada hal penting yang disoroti oleh Menhan Juwono Sudarsono dalam menyikapi pidato tersebut. Dikatakannya, sudah waktunya kita sekarang lebih menerjemahkan ”masalah-masalah yang kita hadapi dengan mengedepankan cara-cara damai, beradab, dan demokratis” dalam artian bukan sekadar ”pandangan dari pusat ke daerah”, tetapi diimbangi dengan ”pandangan dari daerah ke Jakarta”. Cara-cara ”damai, beradab,dan demokratis”menuntut kita untuk memahami naluri dan aspirasi daerah Aceh, Poso, Ambon, Sampit, Papua, dihormati dan ditanggapi dengan uluran budaya Bhinneka Tunggal Ika.

Menhan berpendapat, selagi para pejabat sipil, kepolisian, dan militer kita menekankan untuk kesekian kalinya ”persatuan nasional”dan ”NKRI Harga Mati”, mari kita junjung tinggi martabat adat, agama, budaya, dan keunikan setiap daerah di setiap pelosok luar Jakarta. Dengan demikian ”mozaik Indonesia” makin bersinar melalui setiap kerlipan cahaya adat, budaya, suku, agama, dan daerah dalam potret persatuan Indonesia yang makin aman dan damai, makin adil dan demokratis, serta makin sejahtera. Selanjutnya dikatakannya bahwa dengan semangat dan tindakan nyata menjunjung tinggi martabat dan ranah kedaulatan tiap suku, agama, adat, dan budaya semacam ini, Indonesia akan lebih mandiri, lebih kompetitif, dan lebih beradab sebagaimana dicita-citakan Presiden Yudhoyono.

Pandangan Menhan tersebut sangat jelas bagi bangsa ini dalam mencapai cita-cita luhurnya yaitu masyarakat adil dan makmur, dengan sebuah kesadaran mempertahankan semangat persatuan dan kesatuan, dan mengemukakan rasa saling menghargai dan menghormati. Pertanyaannya hanya satu, bagaimana dengan pandangan sekelompok orang yang kini justru memanfaatkan kelemahan penerapan demokrasi kebebasan dengan cara-cara kekerasan?. Mereka sangat jelas memanfaatkan masa transisi demokrasi yang kemudian memberikan ruang bagi mereka untuk memaksakan kehendaknya  dengan mengabaikan pranata sosial dan pranata hukum.

Kini yang perlu difahami, bahwa kesadaran itu akan sulit datang dalam waktu dekat. Gesekan-gesekan, kekerasan-kekerasan yang terjadi, apapun bentuknya,  adalah bunga demokrasi yang memang wajar akan terjadi dimanapun dalam masa transisi. Ketegasan yang dilandasi dengan kearifan sangat dibutuhkan, mengingat yang menjadi fokus pimpinan nasional dan kini menjadi masalah besar kita, menyentuh dua masalah pokok yaitu masalah sosial dan hukum. Namun, apapun masalahnya, yang terpenting,  jangan kita menjadi terpecah dan dipecah  dengan alasan apapun, NKRI memang sudah final. Dirgahayu HUT Kemerdekaan RI ke-64, I Love You Full Indonesia.......

PRAYITNO RAMELAN, Guest Blogger Kompasiana

Sumber: http://politik.kompasiana.com/2009/08/17/inilah-negaraku-nkri/

(Dibaca: 1663 kali)

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.