PAN, Soetrisno Bachir Dan Konflik

7 August 2009 | 12:28 am | Dilihat : 236

Kalau kita melewati jalan besar menuju ke Pondok Indah Mall, maka kita akan melewati salah satu rumah dimana terpampang besar-besar foto  Soetrisno Bachir, lengkap dengan rompinya.  Tempat itu disebut sebagai rumah PAN. SB beberapa waktu terakhir memperkenalkan dirinya di kancah perpolitikan Indonesia dengan tagline-nya "Hidup adalah perbuatan". Soetrisno Bachir memimpin PAN sejak tahun 2005 menggantikan  Amin Rais yang menjabat sebagai ketua umum sejak 1998. Pada pemilu legislatif 2009, PAN mendapat  6,01% suara nasional. Memang perolehan suaranya dari pemilu ke pemilu menunjukkan trend menurun, akan tetapi masih  terjaga pada angka diatas 6%.  Pada Pemilu 1999 PAN meraih 7,12% suara dan pada pemilu 2004 memperoleh  6,44% suara.

PAN merupakan salah satu parpol Islam yang dilahirkan pada saat reformasi, bersama-sama dengan PKB dan PKS. Pada pemilu 1999 PAN mampu meraih 7,12% suara, sementara PKS yang saat itu masih bernama Partai Keadilan (PK) hanya mampu meraih 1,36% suara. Pada pemilu 2004, PAN termasuk salah satu partai disamping PPP, PKS dan PKB, yang menempatkan diri sebagai partai religius (Islam) baik dalam perspektif ideologis maupun konstituen Islam. Akan tetapi hanya PPP dan PKS yang mendasarkan Islam pada ideologi, visi, dan misi, sedangkan  PKB dan PAN hakikatnya adalah partai terbuka. Sejak didirikan pada 23 Agustus 1998, PAN dengan tokoh utamanya Amien Rais ini sebagian besar kepemimpinan dan basis massa pendukungnya adalah Muhammadiyah, kelompok Islam Modernis di Indonesia, tapi, dari visi dan misi PAN adalah partai terbuka.

Soetrisno Bachir terpilih melalui voting dalam Kongres PAN ke-2 di Semarang, pada 10 April 2005.  Pria kelahiran Pekalongan 10 April 1957, ini berasal dari keluarga Muhammadiyah yang cukup dekat dengan kalangan nahdliyin. Sepanjang tahun 1976 hingga 1980 ia aktif menggeluti usaha batik. Lalu, ia bersama kakaknya Kamaluddin Bachir sejak 1981 mulai mengibarkan bendera bisnis Grup Ika Muda, kini menaungi tak kurang 14 badan usaha perseroan terbatas. Pengusaha ini terbilang masih baru dalam dunia politik. Dia mengaku bukan ‘orang politik’ melainkan seorang profesional. SB kemudian mengembangkan bisnis sendiri melalui Grup Sabira, induk bagi 10 perusahaan.

Soetrisno Bachir dalam 25 tahun terakhir dikenal sebagai penyumbang yang dermawan  dilingkungan organisasi keagamaan seperti HMI, Muhammadiyah, serta PII. Kedermawanan itulah yang ‘memperkenalkan’ Soetrisno Bachir dengan sosok Amien Rais. SB terjun ke politik praktis sebagai ketua umum PAN,  karena nalurinya sebagai pengusaha tak ingin hanya bergerak pada tataran wacana semata. Dia yakin partai modern tidak bisa ditegakkan hanya dengan wacana. Menurutnya sukses partai pada masa depan tidak cukup ditopang popularitas pemimpinnya.  Partai modern memerlukan kerja nyata yang sistematis, yang mampu memahami secara detail kebutuhan masyarakat. Soetrisno lalu menerjemahkan keinginannya membesarkan dan memodernkan PAN pada empat pokok garis perjuangan. Yakni, partai dan pemenangan pemilu, pengaderan yang andal, partai yang dicintai rakyat, serta membangun organisasi PAN yang modern.

Dalam perjalanan menuju pemilu 2009, PAN mendapat saingan internal, mantan Ketum Pemuda Muhammadiyah Imam Addaruqutni mendirikan Partai Matahari Bangsa.  Ketua Umum Muhammadiyah Din Syamsuddin mengatakan Partai Matahari Bangsa bukan partai jelmaan Muhammadiyah dalam perpolitikan. "Muhammadiyah tetap berpegang pada kithohnya sebagai organisasi budaya dan tak terkait dengan partai politik," katanya.  Ia menanggapi sejumlah aktivis muda Muhammadiyah yang mendirikan PMB. Mereka merasa tak diakomodasi kepentingannya di PAN, partai yang identik dengan Muhammadiyah. PMB akhirnya tidak lolos dari persyaratan parliamentary threshold.

Menjelang pilpres 2009, terjadi perbedaan pendapat antara Soetrisno Bachir dengan Amien Rais. Amien menginginkan PAN berkoalisi dengan Partai Demokrat. Rakernas PAN tanggal 2 Mei di Yogyakarta memutuskan mendukung SBY sebagai capres.  SB pada awalnya nampak tidak merestui bila PAN berkoalisi dengan Demokrat. SB menginginkan partai berlambang matahari biru itu berkoalisi dengan Gerindra mendukung Prabowo Subianto. SB tidak menghadiri acara deklarasi duet SBY-Boediono di Bandung dan saat pendaftaran kandidat Pilpres 2009 di KPU. Walau pada akhirnya koalisi PAN-Demokrat di setujuinya juga. Kontrak politik akhirnya ditanda tanganinya juga.

Nampaknya PAN kini mulai dilanda konflik internal, 31 dewan pengurus wilayah meminta  mempercepat kongres partai yang salah satu agendanya memilih pucuk pimpinan baru. Sementara Soetrisno Bachir mengatakan tetap ingin memimpin partai tersebut hingga masa baktinya selesai pada  2010 antara Januari-April. Pada Rapat harian PAN Rabu (15/7) dia menyampaikan  "Secara pribadi, saya ucapkan selamat karena mayoritas rakyat telah memilih SBY-Boediono," ujarnya. Soetrisno juga menyampaikan menghargai langkah pasangan capres-cawapres lainnya yang mengajukan gugatan dugaan kecurangan pemilu melalui jalur hukum dan cara-cara konstitusional lainnya. Bukan dengan melakukan pengerahan massa," tambahnya.

Pada era kepemimpinan Soetrisno Bachir ini, nampak sekali PAN telah dibawa untuk menjadi sebuah partai modern. SB nampaknya sangat faham bahwa medan perebutan berada dikalangan Nasionalis, maka dia mencoba memancing konstituen diluar PAN dengan konsepnya yaitu empat pokok garis perjuangan. PAN sebagai partai terbuka digiringnya agar memahami secara detail kebutuhan masyarakat. Nah upaya penyampaian sasaran partai yang modern menurutnya hanya akan bisa dicapai dengan kerja nyata yang sistematis. Konsep ini merupakan strategi SB yang membuat PAN mampu menjaga perolehan suaranya diatas 6% pada pemilu legislatif 2009. Sementara PKB sebagai sesama partai Islam terbuka mengalami kerontokkan hingga 4,94%.

Jadi itulah konsep pengelolaan parpol modern dengan metoda dan manajemen bisnis. Konsepnya untuk menghidupkan partai cukup menarik untuk diamati. Dikatakannya, bila partai ingin bisa membiayai sendiri maka PAN harus mau membesarkan pengusaha. Bila ada sepuluh persen saja dari pengurus partai pengusaha, maka jumlah itu sudah cukup untuk membiayai suatu partai. Nah, dengan demikian maka mengambil pelajaran keruntuhan PKB, sebagai akibat konflik internalnya maka para elit PAN sebaiknya menyadari bahwa konflik harus dihindari.

Apabila SB diberi kesempatan satu periode kedepan, konsepnya sudah jelas dalam  rangka membesarkan dan memodernisir PAN. Akan tetapi, kini kembali lagi kepada kondisi dan ambisi para elit itu sendiri. Nampaknya posisi Soetrisno Bachir akan coba digoyang lagi, walaupun masa jabatannya belum usai. Entah ada apa dibelakang itu? Itulah gambaran partai politik di Indonesia, tidak perduli itu partai Nasionalis maupun partai Islam, tetap saja ambisi dan kepentingan perorangan atau kelompok yang mengemuka. Mereka umumnya tidak mendahulukan kepentingan partai tapi kepentingan yang lain. Kembali penulis hanya mengatakan, sebenarnya sayang ya!

PRAYITNO RAMELAN, Guest Blogger Kompasiana

Sumber: http://politik.kompasiana.com/2009/08/07/soetrisno-bachir-dan-pan/

(Dibaca: 1442 kali)

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.