Golkar Yang Gundah

27 July 2009 | 9:28 pm | Dilihat : 500

Pada pemilu  legislatif maupun pemilu presiden dan wakil presiden tahun 2009 ini, kembali sebuah "upper cut" menghantam dagu Golkar mantan juara tak terkalahkan yang pernah memegang sabuk juara selama 32 tahun. Memang sejak 1999, diawalilah masa kelabu,  dimana pelatih serta pemilik klub telah tiada di klub. Dengan terseok-seok penuh keyakinan maju ke arena, akhirnya sang juara terjungkal juga. Tahun 1999, saat pertandingan gaya baru dimulai, dimana para  lawan tandingnya yang kuat, yaitu kubu PDIP dan kubu yang berbasis Islam mulai menggeliat, mulai patahlah dominasi juara legendaris itu. Golkar berada diposisi kedua, meraih 22,44%, dibawah PDIP yang mendapat 33,74%. Sementara Parpol Islam yaitu PKB mendapat 12,61%,  PPP 10,71 dan PAN 7,12%. Dalam pemilihan Presiden dan wakil Presiden yang menang ternyata calon dari kelompok  Islam, yaitu KH Abdurrahman Wahid dari PKB, sementara wakilnya Megawati dari PDIP.

Pada pertandingan 2004, dibawah kepemimpinan Akbar Tanjung, Golkar kembali mampu memainkan kartu sisanya, dengan beberapa truf yang masih berada ditangannya. Posisi pertama sebagai parpol terkuat diraihnya dengan 21,58%, mengungguli PDIP yang turun drastis dibanding pemilu 1999, PDIP hanya meraih 18,53%. Sementara tiga parpol Islam PKB, PPP dan PAN juga mengalami penurunan suara dibandingkan pemilu 1999. Yang mengejutkan dua parpol baru Partai Demokrat dan PKS mampu menyodok ke posisi lima dan enam dengan perolehan 7,45% dan 7,34%. Pada posisi juara dikelas pemilu legislatif, ternyata pada saat memasuki pertandingan pemilu presiden dan wakil presiden, Golkar kembali terjungkal. Jago Golkar Wiranto dan Salahuddin Wahid langsung kalah dibabak penyisihan. Apa kesalahan strategi Golkar saat itu? Sebagian berpendapat, Golkar nampaknya salah mengajukan petarungnya, bukan Ketua Umumnya, tetapi yang lain. "Grass root" Golkar sebenarnya berada dibawah Akbar Tanjung saat itu, bukan dibawah Wiranto dan Salahuddin. Keputusan yang kurang tepat nampaknya, kata beberapa pengamat, sehingga simpatisan lari ke tokoh lain.

Maka maju bertandinglah Capres SBY-JK melawan Mega-Hasyim Muzadi. Pada putaran kedua ini, yang agak mengherankan, Golkar melakukan "blunder politis," memberikan dukungan kepada pasangan  Mega-Hasyim, bukan kepada SBY-JK. Sedangkan sangat jelas diketahui JK adalah juga salah satu tokoh Golkar. Karena akhirnya SBY yang menang, Golkar kemudian diakuisisi oleh JK yang menjadi wakil presiden dari tangan Akbar Tanjung yang nampaknya di vonis bersalah oleh pengurusnya yang kecewa. Maka berjalanlah Golkar dengan sedikit agak malu, bergabung dengan sang pemenang, diselamatkan oleh JK yang menjadi Ketua Umum. Beberapa elitnya tertolong dan dijadikan menteri. Jelas karena mantan lawan yang kemudian menjadi kawan, dalam beberapa kasus, gesekan antara Golkar dengan Partai Demokrat akhirnya tak terhindarkan. Beberapa kader merasa agak kurang nyaman berada dikandang orang lain. Inilah salah satu yang menyebabkan keretakan hubungan pada 2009.

Pada 2009, Golkar kembali terpuruk, perolehan suara pada pemilu legislatif turun drastis dari 21,58% pada 2004 menjadi hanya 14,03% pada 2009. Penurunan juga terjadi pada partai besar PDIP dari 18,53% menjadi 14,03%. Sementara Partai Demokrat hampir saja melipat tigakan perolehan suaranya dari  7,45% pada pemilu legislatif 2004 menjadi 20,85% pada 2009. Pada kasus ini, nampaknya kepemimpinan dan manajemen Partai Golkar kalah adu nafas dan kelihaian dalam step gerakan dari Partai Demokrat. Pada periode 2004-2009, Golkar yang menempel ke Demokrat bukan?. Kemudian pimpinan tertinggi Golkar hanyalah menjadi wakil atau dalam bahasa militernya biasa disebut sebagai "korps leher" saja.  Maka semua hasil kerja dan apa yang disebut kinerja pemerintah itu menjadi wajar apabila oleh rakyat dinilai jadi milik SBY dan Partai Demokrat. Hal yang diirikan dan ternyata tidak bisa diirikan juga, karena demikian kenyataannya.

Kemudian, dengan kondisi politik yang tidak kondusif, JK sebagai calon Golkar disimpulkan tidak masuk dalam kriteria untuk menjadi cawapresnya SBY. Maka mulailah terjadi kemelut diantara elit Golkar, Ketua Umum, Pengurus DPP dan DPD Tkt-1 dan 2. Golkar coba diseret kearah PDIP, Golkar diseret kearah Demokrat, Golkar coba di berdirikan sebagai parpol besar dengan kebesaran masa lalu. Akhirnya keinginan berdiri sendiri dan tampil gagah menjadi pilihan. Majulah JK sebagai petarung, dikawal oleh mantan capres tahun 2004, Wiranto. Secara aturan, langkah tersebut sudah sangat benar, sebagai parpol besar, Golkar mampu melengkapi aturan permainan  demokrasi yaitu mengajukan capresnya sendiri.

Tetapi, ada yang nampaknya diabaikannya, nama JK telah "kadung" terpatri dibenak pemilih sebagai cawapres bukan capres. Elektabilitasnya selalu dibawah Prabowo, dan jauh dibawah Mega, terlebih apabila di adu "head to head " dengan SBY. Akhirnya menjadi kenyataan, Golkarpun kembali kecewa, JK-Win hanya meraih 12,41%, separuh kurang dari Mega-Pro yang mendapat 26,79% dan hanya berada hampir seperlima dari  SBY-Boediono yang mendapat 60,80%. Beberapa pihak menilai, gaya JK yang "smart" dan simpatik sudah sangat bagus, hanya waktunya terlalu pendek. Ini artinya salah hitung bukan?

Kini, dari data-data tersebut diatas, nampaknya memang Golkar terus gundah. Bak petinju yang bingung sejak ditinggalkan pemilik klubnya, Pak Harto. Politikus muda Partai Golkar Indra Piliang mengatakan, saat ini kondisi Golkar sedang kritis. "Seperti Titanic yang menabrak banyak karang," kata Indra dalam diskusi 'Kepemimpinan Partai Golkar Antara Legenda dan Masa Depan' di Gedung DPR, Kamis (23/7). Selain regenerasi, kata Indra, Golkar juga membutuhkan reorganisasi. Bahkan menurut pengamat politik LIPI, Lili Romli, para pemimpin dari generasi tua ditubuh Golkar, cenderung pragmatis. Mereka cenderung  memanfaatkan partai untuk kepentingan pribadi masing-masing dibanding meningkatkan kinerja partai. Karena itu, kekuatan partai terus melemah. Para pemimpin dari generasi tua ditubuh Golkar, kata Lili, cenderung pragmatis. Mereka cenderung hanya memanfaatkan partai untuk kepentingan pribadi masing-masing dibanding meningkatkan kinerja partai. Karena itu, kekuatan partai terus melemah.

Nah, dari semuanya itu, kita akan melihat sebuah pertarungan di ring internal Golkar. Akan terjadi persaingan antara tokoh tua dan muda, antara yang berbeda jalur dan yang merapat ke SBY, antara yang idealis dan pragmatis. Sudah saatnya Golkar menetapkan "Inikah saat berbenah diri?", atau "Inikah saat mengubah diri?." Kita akan melihat Surya Paloh, tokoh keras, orator ulung, idealis politis akan melawan Aburizal Bakri tokoh yang tenang, berduit, network luas, licin. Atau mungkin Akbar Tanjung akan kembali bertarung atau sekedar hanya mendukung?. Tetapi, juga jangan dilupakan, ditubuh Golkar akan menggeliat beberapa elit yang mirip Obama, muda,  pintar, berdedikasi dan agak nekat. Berani maju walau tanpa punya modal yang kuat. Salah satu yang penting dan perlu dihitung adalah peran "patron" dalam  partai di negeri ini, budaya paternalistik masih sangat kental disini. Partai Demokrat misalnya, besar karena peran patron yang mereka banggakan. Apakah mungkin Golkar juga masih butuh patron pengikat?

Siapakah yang akan  menang?. Kemungkinan ya seperti biasa, yang mempunyai modal besar akan berada di posisi terkuat.  Atau, bukan tidak mungkin ada Caketum (calon Ketua Umum) yang di sokong pemerintah juga ikut maju ?. Kalau ini memang ada, maka bisa saja akan banyak yang gigit jari nantinya. Tapi, sebagaimana sejarah masa lalunya walau masih saja gundah, partai ini akan tetap eksis. Apabila tetap gundah dan tidak berbenah, Golkar harus siap dan menerima pada 2014 nanti perolehan suaranya bisa saja disalib PKS yang terlihat semakin menemukan jati dirinya. Mari kita saksikan, sebuah pertarungan mati hidup tokoh tua dan muda itu. Tokoh muda harus lebih cerdik, karena yang tua itu jelas sudah kenyang makan asam garam.

PRAYITNO RAMELAN, Guest Blogger Kompasiana

Sumber:http://politik.kompasiana.com/2009/07/27/golkar-yang-gundah-gulana (Dibaca: 1016 kali)

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.