Teroris Kembali Menyerang Jakarta

17 July 2009 | 4:38 pm | Dilihat : 119

Suasana kegembiraan dan rasa bersyukur karena amannya pileg dan pilpres yang baru lalu, mendadak dicederai dengan terjadinya ledakan bom di Jakarta. Pada Jumat (17/7) pagi sekitar pukul 07.45 WIB, masyarakat dikejutkan dengan terjadinya dua buah ledakan pada Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz Carlton yang berada di kawasan elit Mega Kuningan. Pada ledakan tersebut, menurut Depkes telah jatuh korban 9 tewas, empat diantaranya warga asing, dan sekitar 52 orang mengalami luka-luka. Salah seorang korban tewas adalah Presiden Direktur Pt Holcim Indonesia Timothy McKay yang saat itu sedang berada di Hotel JW Marriott. Kita bersama menyampaikan turut berduka cita kepada korban tewas, dan prihatin bagi mereka yang luka-luka.

Menurut penjelasan Menkopolkam Widodo AS, saat meninjau lokasi di JW Marriott  dikatakan  ledakan terjadi dua kali. Ledakan pertama terjadi di lobi Hotel Marriott pukul 07.45 WIB, disusul ledakan kedua di restoran Ritz Carlton pukul 07.47 WIB. Widodo tampak didampingi Kapolri Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri, Kepala BIN Syamsir Siregar, dan Gubernur DKI Fauzi Bowo. Mengenai kemungkinan keterkaitan bom dengan ulah teroris, Widodo pada pagi jam 10.00 mengatakan "Beri ruang dulu pada tim penyidik untuk melakukan identifikasi lebih lanjut terkait hal ini." Kapolda Metro Jaya pada Jumat sore memberikan keterangan pers bahwa pada kamar 1808 Hotel Marriott telah ditemukan sebuah rangkaian bom dengan daya ledak rendah. Menggunakan "black powder" lengkap dengan komponen dan baut-baut. Sementara diketahui bahwa para teroris ternyata telah menginap dihotel tersebut.

Hotel Ritz Carlton pada tahun 1995 telah dibeli 49% sahamnya oleh Marriott International, dan pada tahun 1998 kembali 50% sahamnya telah dibeli , hingga kepemilikan 99% saham dikuasai oleh Marriott International. Kedudukan kantor pusatnya di Chevy Chase Maryland yang terletak di Washington DC, USA. Lokasi hotel JW Marriott dan Ritz Carlton yang di bom terletak bersebelahan dikawasan Mega kuningan, Jakarta Pusat.

Dari sejarah kelam rangkaian serangan teroris di Indonesia,  pada tanggal 5 Agustus 2003 telah terjadi serangan teror bom ke Hotel JW Marriott, dengan pola  bom bunuh diri  menggunakan mobil (Asmar Latin Sani), mengakibatkan kerusakan Hotel JW Marriott dan Plaza Mutiara yang cukup parah,11 orang meninggal dan 152 mengalami luka-luka. Sebelumnya, kelompok Amrozi yang pada 12 Oktober 2002 melakukan serangan bom bunuh diri terhadap Sari Club dan Paddy’s Cafe adalah awal dari serangkaian bom bunuh diri di Indonesia. Interval waktu penyerangan berjarak antara 10 - 12 bulan. Setelah serangan Bali mereka kemudian meledakkan bom di Hotel JW Marriott tersebut (5/8/2003), Kedutaan Australia Jakarta (9/9/2004) dan pemboman di Kuta dan Jimbaran Bali (1/10/2005).

Pada saat itu dengan “handler” DR Azahari dan Noordin M Top, teroris melakukan pemboman dengan pesan yang terbaca bahwa serangan hanya ditujukan kepada warga dan sekutu serta fasilitas AS di Indonesia. Pesan mereka jelas karena yang dibom adalah lokasi dimana banyak orang asing berada (Sari Club dan Paddy’s Cafe), Hotel Marriott dikenal sebagai hotel dari AS, kedutaan Australia adalah sekutu AS. Dengan demikian motif serangannya jelas yaitu politik. DR Azhahari akhirnya dapat disergap dan terbunuh dikota Malang pada 9 September 2005. Hingga kini Noordin M Top warga negara Malaysia yang juga berperan sebagai "handler" masih belum tertangkap. Tiga bomber lokal, Amrozy, Muklas dan Imam Samudera pada awal November 2008 telah menjalani hukuman mati.

Pengejaran teroris terus dilakukan oleh Densus 88, hingga akhirnya berhasil menangkap kelompok teroris Rusdi Mardani alias Wahyu alias Ramadan. Wahyu ditangkap bersama empat anggota kelompoknya yaitu Nurhasani alias Hasan, Imam Bashori alias Basar, Muntasir dan Budiman. Menurut Wakil Kepala Divisi Humas Polri Brigjen Pol Sulistyo Ishak, mereka sedang menyiapkan bom kimia untuk meledakkan Depo Pertamina Plumpang Jakarta Utara. Polisi menyita barang bukti, sebagian dari rumah Wahyu didaerah Kelapa Gading Sengon berupa rangkaian papan sirkuit dan serbuk TNT sebanyak 2.673 gram. Menurut Polri pembuatan circuit board yang disita terlihat jauh lebih rapih. Kelompok ini dinilai menunjukkan kemajuan dalam membuat bom, mampu membuat bom lebih cepat dan lebih banyak.

Nah, dari beberapa fakta diatas, nampaknya sistem "early warning" kita gagal dalam mendeteksi gerakan senyap mereka. Setelah serangan teroris dengan serangan bom terakhir di Jimbaran pada 1 Oktober 2005, maka jarak serangan berulang ke Marriott  cukup lama, sekitar empat tahun. Walau Noordin M Top menghilang, tapi nampaknya beberapa diantaranya telah terdidik.  Mereka yang telah terbina, terdidik dan tercuci otaknya sebagai teroris tetap bertahan dijalur teror yang sudah mereka yakini kebenarannya. Kepercayaan tersebut seperti yang dianut oleh tokoh teroris Carlos (Ilich Ramirez Sanchez) dari Venezuela yang terkenal dan sangat menakutkan. Carlos yang ahli strategi pernah mengeluarkan ideologi teror. “Bahwa pada kenyataannya, teroris harus menggunakan revolusi kekerasan, sebagai identitas atau jati diri, agar segera popular. Hal tersebut akan memaksa para penguasa atau pemerintah tidak ada alternatif lain kecuali mengikuti keinginan mereka. Artinya pemerintah ikut melibatkan diri dalam permainan teroris”. Ajaran ini telah menyebar dan direalisasikan kelompok-kelompok teroris di seluruh dunia.

Memang sulit memberantas kelompok teroris yang telah terbentuk disebuah negara. AS pun sebagai negara yang demikian canggih baik personil ataupun peralatannya, pernah juga kecolongan diserang teroris dan menyebabkan runtuhnya menara WTC. Kini, kembali kita akan disibukkan dengan para teroris itu, melihat dari sasaran yang mereka pilih, maka tujuanya kemungkinan berlatar belakang politik. Sasaran peledakan adalah dua hotel milik AS, perencana nampaknya menghindari banyaknya korban dari warga Indonesia. Pesan dapat terbaca menyerang kepentingan AS di Indonesia, atau bertujuan menekan pemerintah dengan menimbulkan rasa tidak aman. Apabila tujuannya hanya melakukan penekanan, sasaran lain tempat konsentrasi massa seperti Mall atau stasiun kereta akan jauh lebih berhasil dan lebih menakutkan. Tapi nampaknya mereka mungkin berfikir apabila menyerang massa dalam jumlah banyak, mereka akan dijadikan musuh bersama oleh masyarakat. Memberantas teroris sebaiknya juga melibatkan rakyat sebagai sumber informasi. Karena biasanya teroris mampu membangun dukungan dikalangan rakyat itu sendiri.  Dalam pernyataannya Jumat sore, Presiden SBY menyatakan mengutuk keras teror bom tersebut, mereka akan dikejar baik pelaku hingga perencana dan pemesannya.

Ada yang menarik dari pernyataan Presiden SBY, dikatakannya terdapat kegiatan intelijen yang berkaitan dengan pemilu,  diketahui adanya latihan menembak teroris dengan gambar SBY sebagai target. Adanya rencana revolusi, adanya upaya pendudukan KPU, adanya upaya penggagalan dilantiknya SBY dan adanya upaya menciptakan kerusuhan seperti di Iran. Kini muncul pertanyaan, apakah teror bom ini  sebuah setting? Bangsa Indonesia harus waspada, masih saja ada yang ingin mengacau, merusak ketenteraman. Mari kita dukung aparat keamanan dalam menggulung teroris ini. Yang jelas kita sangat mengutuk setiap teror bom, karena akibatnya akan luas dan sangat merugikan bangsa dan negara ini. Baik masalah keamanan, kenyamanan dan bisa berimbas juga  kemasalah ekonomi.

Kini pertanyaannya, apakah memang ini ulah kelompok lama atau  sebuah konspirasi kelompok lama  dengan kelompok baru  yang bertujuan melakukan pengacauan? Penulis berharap adanya peningkatan pengamanan terhadap Pak SBY, mengingat dari informasi intelijen yang dipaparkan, beliau sudah pernah dijadikan TO ("Target Operasi") oleh sebuah kelompok bersenjata. Beliau selain sebagai pribadi juga sebagai Presiden, institusi yang harus dilindungi bangsa ini. Jangan pandang ringan kelompok ini, terbukti mereka mampu menyerang dua hotel yang diketahui cukup baik sistem keamanannya. Mereka bisa saja muncul sewaktu-waktu. Kita sebagai rakyat berharap semoga Polri, BIN dan TNI dapat segera menggulung dan menyelesaikan semua masalah ini.

PRAYITNO RAMELAN, Guest Blogger Kompasiana

Sumber: http://umum.kompasiana.com/2009/07/17/teroris-kembali-menyerang-jakarta/ (Dibaca: 2036 kali)

This entry was posted in Hankam. Bookmark the permalink.