Debat Cawapres, Wiranto dan Tidak Peduli

24 June 2009 | 5:04 am | Dilihat : 100

Tadi malam kita bersama menyaksikan sebuah acara debat para cawapres. Acara di moderatori  oleh Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Komaruddin Hidayat. Karena yang berada di "stage" adalah tokoh dengan nama besar, Letjen Pur Prabowo Subianto, Prof Boediono dan Jenderal Pur Wiranto, nampaknya moderator agak goyang juga. Maklum, acara debat seperti ujian lisan. Bayangkan mesti menguji ketiga tokoh kondang itu, "seram" itu mungkin istilahnya. Beberapa kali moderator salah menyebut ketiganya dengan capres, bahkan sejak awal dimulainya acara. Wah, naik derajat nih, dari cawapres menjadi capres. Rupanya sulit juga menjadi moderator yang  seperti presenter itu dilayar kaca. Lain kalau kita lihat Najwa Shihab, yang demikian lincah berbicara, seperti mitraliur, bahkan kadang yang ditanya sering sulit menjawab, karena celah bicaranya hanya sedikit. Demikian juga presenter lainnya, kok sukanya motong-motong orang bicara sih. Secara umum mendengar pak Komaruddin yang awalnya agak "mbrebet" lebih mudah dibandingkan presenter itu.

Artikel-artikel Pak Komaruddin di media arus utama termasuk salah satu favorit penulis. Smart, teduh dan enak sekali dibaca, bahkan penulis suka bermimpi kapan ya bisa menulis seperti pak Komaruddin itu. Disadari akan sulit menulis seperti beliau, harus jadi profesor dahulu baru bisa seperti itu. Kembali ke acara debat cawapres. Secara umum, terlepas dari pendapat pro dan kontra, ini merupakan  kemajuan bangsa Indonesia dalam berdemokrasi. Rakyat bisa langsung menyaksikan bagaimana calon pemimpinnya berfikir, berpidato, menyampaikan pendapat, menganalisa, menghargai pendapat orang lain dan terakhir mengambil keputusan.

Cawapres Prabowo seperti biasa tampil dengan gaya bicara yang bersemangat, berapi-api, menunjukkan keinginan yang kuat untuk memperbaiki kondisi bangsa ini, bekal debat uang duapuluh ribuan. Cawares Boediono  tampil dengan tenang, santun dengan senyum  dan gayanya yang khas ilmuwan dalam memberi penjelasan. Cawapres Wiranto tampil dengan gaya pemimpin yang matang, santai, percaya diri dan berani. Pada debat tersebut Wiranto menyampaikan beberapa perbedaan pendapat dengan Boediono. Sebagai contoh, saat menanggapi masalah agama dan negara,  Boediono berpendapat agama sebagai sesuatu yang sakral. Menurutnya agama harus di atas politik praktis. Wiranto  berpendapat berbeda, hendaknya agama yang memiliki nilai akhlak dan moral ditarik dalam etika berpolitik dan bernegara. Juga terhadap pertanyaan potensi pecah belahnya negara. Boediono menyampaikan bahwa  Pancasila dapat menjadi perekat bangsa, dan ada harus ada pengikat riil dalam bentuk rasa keadilan. Menurut Wiranto sebelum Pancasila ada Sumpah Pemuda sebagai pengikat bangsa Indonesia.

Penulis tertarik saat cawapres ditanyakan mengenai banyak terjadinya kecelakaan baik didarat, laut dan udara. Cawapres Wiranto mengatakan kalau kecelakaan sekali-sekali itu namanya musibah, kalau beberapa kali itu kelalaian dan kalau kecelakaan sering terjadi itu artinya ketidak pedulian. Ini menarik, terjadinya kecelakaan pesawat baik sipil maupun militer pada tahun 2008/2009 yang boleh dikatakan sering itu apakah benar menunjukkan ketidak pedulian? Artinya baik personil maupun organisasi demikian tidak peduli hingga terjadi kecelakaan sering terjadi.

Budaya mengundurkan diri belum biasa disini, tetapi kegagalan kepemimpinan yang direfleksikan dengan terjadinya kecelakaan yang dikatagorikan sering bukankah merupakan sebuah bentuk ketidak pedulian? Implikasinya akan luas terhadap organisasi yang dipimpinnya apabila tidak segera dilakukan pemeriksaan sekuriti dan punishment. Kesimpulan pernyataan cawapres Wiranto tentang ketidak pedulian adalah merupakan kelemahan managerial sang pemimpin dalam mengelola organisasinya.

Itulah sebagian dari debat cawapres, yang oleh beberapa pihak dinilai lebih berani dan lebih tajam. Untuk debat capres putaran kedua akan dilaksanakan pada 25 Juni, dengan tema "Mengentaskan Kemiskinan dan Pengangguran," akan dipandu oleh pengamat ekonomi Aviliani. Sedang debat cawapres putaran kedua dijadwalkan tanggal 30 Juni, dengan tema "Meningkatkan Kualitas Hidup Manusia Indonesia," moderator Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Fachmi Idris. Untuk debat  terakhir capres putaran ketiga dengan tema "NKRI, Demokrasi dan Otonomi Daerah" akan dilaksanakan  pada tanggal 2 Juli dipandu oleh Dekan Fisipol Universitas Gadjah Mada Pratikno. Demikian sekilas dari acara debat cawapres. Jangan tidak peduli, kalau peduli, tanggal debat agar dicatat, begitu bukan.

PRAYITNO RAMELAN, Guest Blogger Kompasiana

Sumber: http://umum.kompasiana.com/2009/06/24/debat-cawapres-wiranto-dan-tidak-peduli/ (Dibaca: 4402 kali)

This entry was posted in Umum. Bookmark the permalink.