Bahaya Dua Putaran Bagi SBY-Boediono

22 June 2009 | 10:19 pm | Dilihat : 65

Pemilu Presiden tersisa limabelas hari lagi, semua daya dan upaya sudah dilakukan masing-masing kubu. Menurut penulis, yang sangat menentukan kemenangan dalam pilpres nanti adalah, berapa putaran pilpres akan berlangsung. Perhitungan satu atau  dua putaran jelas akan sangat berbeda.  Yang dikhawatirkan kubu SBY-Boediono bila pilpres berlangsung dua putaran adalah kemungkinan bersatunya kubu Mega dengan kubu JK diputaran kedua. Peta politik sudah jelas tergambar. SBY sebagai incumbent berada disatu sisi, sementara Mega dan JK berada disisi lainnya. Dalam beberapa debat politik para tim sukses, nyata terlihat  mereka yang mewakili kubu SBY sepertinya harus berhadapan dengan tim sukses  yang mewakili Mega dan JK. Nampaknya koalisi Teuku Umar akan terealisir apabila pilpres berlangsung dalam dua putaran.

Kubu SBY-Boediono nampaknya sedang berusaha keras agar pilpres bisa berlangsung satu putaran. Direktur Eksekutif Lembaga Studi Demokrasi (LSD) Denny JA di Jakarta, Rabu, mengumumkan memimpin gerakan "Pilpres Satu Putaran Saja", setelah sebelumnya LSD mendukung pasangan SBY-Boediono pada Pemilihan Presiden (pilpres), 8 Juli 2009. Demikian juga beberapa tokoh seperti Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, dan elit-elit  Demokrat mendukung dan mengusahakan pilpres satu putaran.

Pertanyaannya apakah terdapat ancaman serius terhadap kemenangan SBY-Boediono apabila pilpres berlangsung dalam dua putaran?. Penulis melihat sebuah bahaya yang secara lambat bergerak dan bisa merupakan ancaman terhadap kredibilitas incumbent. Bahaya tersebut mirip dengan lumpur Lapindo, bergerak lambat tetapi menghancurkan infrastruktur masyarakat Sidoarjo. Dan bahkan bisa berubah  mirip aliran bencana Tsunami di Aceh, bergetar dan merambat dengan cepat. Epicentrumnya sangat jauh tetapi efeknya dengan cepat meluas, tidak terduga tetapi meratakan apa saja yang dilaluinya.

Bahaya yang dimaksud adalah mulai naiknya harga minyak dunia secara perlahan. Seperti dilansir dari Associated Prees, Jumat (19/6/2009), harga minyak mentah pada kontrak pengiriman Juli, kembali naik 33 sen dolar Amerika menjadi USD71,36 per barel pada New York Mercantile Exchange (Nymex). Sedangkan di London, harga minyak jenis brent naik 32 sen dolar Amerika ke USD70,71 per barel pada perdagangan ICE Futures exchange. Harga minyak tercatat telah meningkat dua kali lipat sejak Maret, seiring dengan sikap investor yang optimistis bahwa pemulihan ekonomi Amerika mulai berlangsung.

Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro dalam konferensi pers di Kantor Departemen ESDM, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (12/6/2009), menyampaikan  meskipun harga minyak terus meroket, namun dia memastikan tidak akan ada kenaikan harga BBM bersubsidi setidaknya hingga akhir bulan ini. Namun dia belum bisa memastikan sampai kapan harga saat ini akan bertahan. Menurut dia, pemerintah saat ini memiliki dua "buffer" (penyangga) untuk mengimbangi kenaikan harga minyak dunia terhadap perubahan harga BBM bersubsidi. Yang pertama yakni surplus penjualan minyak mentah pada awal kenaikan dan yang kedua subsidi senilai Rp50 triliun untuk BBM, katanya.Purnomo mengungkapkan bahwa surplus penjualan minyak tersebut memang sudah terkikis atas kenaikan harga minyak dunia, tetapi masih ada subsidi.

Plt Menko Perekonomian/ Menkeu Sri Mulyani Indrawati mengatakan ”Harga BBM subsidi tidak naik, kami lihat pembahasan dengan DPR tidak akan naik. Saya rasa di saat pemilihan umum ini akan banyak sekali topiknya." Apabila harga minyak terus melambung, sementara DPR tidak menghendaki defisit APBN membengkak, maka bisa saja pemerintah meminta persetujuan DPR untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

Menurut pengamat perminyakan, Kurtubi, jika harga minyak sudah mencapai 71 dollar AS per barrel dan anggaran subsidi BBM pada APBN 2009 tidak ditambah, maka diatas kertas mestinya pemerintah harus menaikkan harga BBM. "Namun, ini berarti incumbent (capres presiden SBY) akan bunuh diri secara politik, sehingga mustahil pemerintah berani menaikkan harga BBM meskipun harga minyak cenderung naik" kata Kurtubi.

Pada pertengahan tahun 2008 pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi, dimana Harga Premium naik 3,0%, Minyak Tanah naik 1,1%, Minyak Solar naik 3,8% dan Minyak Bakar naik 5,4%. Kenaikan tersebut telah mengundang protes dan kerusuhan dibeberapa tempat. Kini, dengan naiknya harga minyak dunia, PT Pertamina sejak 15 Juni 2009 telah menaikkan harga BBM non subsidi, harga Pertamax Plus  naik Rp 100, Pertamax naik  pada kisaran harga Rp 50-Rp 200 per liter, Bio Pertamax naik dikisaran harga antara Rp 50 - Rp 200, dan  Pertamina Dex naik  Rp 150 per liter. Kenaikan BBM non subsidi ini tidak menimbulkan reaksi dan dampak apa-apa, karena yang tersentuh hanya  yang kelas atas. Akan berbeda nantinya apabila yang tersentuh kepentingan masyarakat menengah kebawah yaitu BBM  bersubsidi.

Dari beberapa informasi tersebut diatas, terlihat adanya sebuah ancaman pengaruh kenaikan harga minyak dunia terhadap situasi dan kondisi politik menjelang pilpres. Apabila pasangan SBY-Boediono mampu memenangkan pilpres dalam satu putaran, maka kenaikan  harga minyak dunia tidak akan berpengaruh, mengingat pilpres hanya tersisa 15 hari lagi dan akan terus berkurang. Sedang rencana pembahasan harga BBM dengan DPR baru akan dilaksanakan pada akhir bulan Juli. Apabila kemudian pemerintah akhirnya terpaksa  harus menaikkan harga BBM bersubsidi,  maka kemungkinan  resiko yang dihadapinya sebelum dilantik,  adalah jatuhnya kredibilitas. Rakyat hanya tahu bahwa SBY adalah representasi dari pemerintah, pemerintah identik dengan SBY. Yang dikhawatirkan akan munculnya  gelombang demonstrasi besar, terlebih apabila ditambah  dengan munculnya rasa tidak puas simpatisan dua pasang capres lainnya yang kalah. Peluang ini bisa saja terjadi, kemungkinan tuduhan pilpres tidak jurdil atau DPT yang tidak beres. Hal ini yang harus diwaspadai bersama.

Resiko lebih berat akan dihadapi oleh pasangan SBY-Boediono apabila pilpres harus dilakukan dalam dua putaran, sedang harga minyak dunia terus melambung. Ini mungkin saja terjadi, mengingat pada pertengahan 2008 hal serupa juga pernah terjadi. Negara kita tidak akan bisa berbuat apa-apa, hanya bisa "pasrah" dalam menghadapi kenaikkan minyak dunia. Demi untuk menutupi defisit APBN, maka pemerintah mau tidak mau harus menaikkan harga BBM bersubsidi tersebut menjelang putaran kedua. Pengalaman jatuhnya elektabilitas SBY pada Juni 2008 hingga dibawah Megawati bisa akan terulang kembali pada periode waktu putaran kedua tersebut.

Jadi, bahaya minyak dunia akan mirip dengan lumpur Lapindo, perlahan tetapi akan sulit diatasi oleh incumbent, karena memang kita tidak mempunyai daya terhadap pengaruh kekuatan didunia itu. Masalah BBM ini bagi incumbent bisa seperti memakan buah simalakama. Yang dapat dikerjakan bagi kubu SBY-Boediono adalah lebih banyak berdoa, agar semua berjalan sesuai dengan  strategi mereka, harga minyak dunia tidak naik drastis. Kalaupun toh nanti dua putaran menjadi kenyataan, nampaknya Fox Indonesia harus berfikir ulang dalam menata ulang strategi dan langkah taktisnya. Tapi apakah mampu menciptakan sebuah strategi dalam menghadapi kondisi masyarakat yang diliputi  kecemasan dan rasa tidak puas?. Disamping itu SBY-Boediono juga harus menghitung kemungkinan mengkristalnya koalisi Teuku Umar dalam putaran kedua.  Alternatif keputusan harus dipikirkan jauh sebelumnya, kalau tidak ingin menghadapi unsur pendadakan yaitu terbentuknya opini negatif.

Bagi pasangan Mega-Prabowo ataupun JK-Wiranto, kini nampaknya bisa berharap dan berupaya menaikkan citranya agar pilpres bisa berlangsung dua putaran. Untuk memenangkan satu putaran nampaknya juga berat. Apabila kondisi seperti tersebut diatas berlaku, bukan tidak mungkin siapapun yang maju keputaran kedua akan mendapat keuntungan yang lebih besar. Apabila pilpres dua putaran dan harga minyak turun,  tantangan bagi SBY-Boediono kemungkinannya adalah gabungan kekuatan koalisi Teuku Umar. Penulis hanya membahas fenomena yang sedang berlangsung, maaf kalau ada kurang-kurangnya.

PRAYITNO RAMELAN, Guest Blogger Kompasiana

Sumber: http://umum.kompasiana.com/2009/06/22/bahaya-dua-putaran-bagi-sby-boediono/ (Dibaca: 2010 kali)

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.