Jangan Remehkan Mega-Prabowo

18 June 2009 | 12:40 am | Dilihat : 63

Dari penilaian secara kasat mata ketiga pasangan capres-cawapres yang akan bersaing bulan Juli mendatang, nampaknya yang dinilai masyarakat sebagai  pasangan terkuat adalah SBY-Boediono. Kemudian yang kedua terkuat pasangan JK-Wiranto, ketiga baru pasangan Mega-Prabowo. Beberapa media massa selalu menempatkan pasangan SBY-Boediono menjadi pasangan terunggul baik dari sisi survei, pengiklanan ataupun berita-berita sumber-sumber lainnya. Pasangan ini didukung konsultan Fox Indonesia dari keluarga Malarangeng. Pasangan JK-Wiranto kini demikian bergairahnya dalam upaya pencitraan, sehingga umum menilai inilah pesaing SBY yang terkuat. JK demikian banyak menarik simpati pada acara apapun. Dengan enteng, cepat, lugas dan tegas selalu menjawab pertanyaan atau diskusi diforum-forum khusus dilengkapi penguasaan materi yang demikian baiknya.

Bagaimana dengan pasangan Mega-Prabowo? Apakah sedemikian lemah posisinya?. Dinilai secara kasat mata, banyak pihak yang meramal kalau pilpres dua putaran, maka yang akan maju kebabak kedua mendampingi SBY-Boediono adalah pasangan JK-Wiranto. Pasangan Mega-Prabowo akan langsung takluk pada putaran pertama. Untuk itu, marilah kita telisik bagaimana perkiraan apabila pilpres nanti berlangsung dua putaran.

Dari hasil beberapa lembaga survei, pasangan SBY-Boediono masih ditempatkan sebagai pasangan dengan posisi teratas dan meraih dukungan sekitar 62-70%. Kemudian pasangan terkuat kedua adalah  Mega-Prabowo yang dipersepsikan berada dikisaran 16%, sedang JK-Wiranto mendapat dukungan sekitar 6-11%. Dengan demikian maka pasangan Mega-Prabowo menurut beberapa lembaga survei dinilai lebih berpeluang untuk maju kebabak kedua, bersaing dengan pasangan SBY-Boediono. Persepsi ini bisa saja berubah, seiring dengan dinamika politik sebagai hasil kampanye. Dari hasil survei LSN  didapat fakta bahwa pasangan SBY-Boediono dalam tiga mingu terakhir (hingga 5 juni 2009) mengalami penurunan sekitar 4,6 %, pasangan Mega-Prabowo mengalami kenaikan sekitar 2,4 % dan pasangan JK-Wiranto mengalami kenaikan sekitar 5%. Dalam waktu yang tersisa 21 hari lagi, pergeseran elektabilitas masih saja mungkin terjadi.

Mari kita lihat persaingan Mega-SBY. Sejak dua tahun terakhir, elektabilitas dari Megawati tercatat selalu membayangi SBY dan bahkan pernah sekali mengunggulinya. Sebagai contoh,  kita bandingkan hasil survei Lembaga Survei Indo Barometer antara Mega-SBY. Pada Mei 2007 elektabilitas Megawati 22,7% (SBY 35,3%), Desember 2007 Mega 27,4% (SBY 38,1%), Juni 2008 Mega 30,4% (SBY 20,7%). Hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang disampaikan oleh Denny JA pada (19/12) Jika calonnya hanya dua maka sebanyak 42,9% publik akan memilih SBY, sementara Megawati dipilih oleh 40,7%. Dari perbandingan kedua hasil survei tersebut, Mega selama ini adalah tokoh yang menarik, karena hanya dia yang mampu mengimbangi SBY. Calon lainnya jauh dibawah keduanya. Yang menarik pada survei Juni 2008 elektabilitas Mega mampu mengungguli SBY hingga 9,7% (Mega 30,4% dan SBY 20,7%). Hal ini adalah sebagai akibat kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM yang sempat memunculkan polemik hingga menimbulkan beberapa kerusuhan.

Bagaimana dengan faktor-faktor lainnya yang mempengaruhi?. Pasangan Mega-Prabowo dapat dikatakan sebagai pasangan dengan dukungan parpol yang paling solid. Tidak ada kemelut baik pada partai pendukung PDIP maupun Gerindra. Sementara koalisi dari pasangan SBY-Boediono yang didukung oleh mayoritas partai berbasis Islam justru memunculkan beberapa polemik. PKS, PAN, PPP adalah partai yang mengindikasikan banyak kadernya tidak penuh mendukung pasangan ini. Kekuatan pasangan ini, bersandar  pada kekuatan  Partai Demokrat, yang  perkasa dengan hasil pemilu legislatif  20,85%. Keributan sekecil apapun, rasa tidak puas, bergesernya beberapa elit parpol pendukung koalisi ke pasangan lain jelas akan dapat menurunkan dukungan dan mempengaruhi konstituen.

Pasangan JK-Wiranto, nampaknya juga mengalami masalah dengan partai pendukung utamanya, Golkar. Partai ini sejak pencalonan JK sebagai capres telah menampilkan perbedaan dukungan antara DPD-I yang berbeda pandangan dengan DPD-II. Selain itu terbaca beberapa elitnya ada yang lebih suka merapat kepasangan lainnya, baik ke Partai Demokrat maupun ke PDIP. Juga terlihat ada elitnya yang kurang sejalan dengan Ketua Umum. Walaupun pilpres adalah pertarungan antara figur, soliditas parpol koalisi jelas mempunyai pengaruh tersendiri terhadap konstituen. Simpatisan parpol bisa saja tidak mengikuti garis kebijakan partai, dan mereka bisa memilih capres lainnya sesuai dengan simbol yang mereka yakini. Inilah akibat dari budaya paternalistik yang masih kental dinegeri ini.

Faktor lainnya yang kini menyentuh pasangan Mega-Prabowo adalah adanya larangan sembilan stasiun Televisi yang menolak iklan pemilu Mega-Prabowo yang berjudul Bangkrut, Mencintai, Pekerjaan, dan Harga (Kompas.Com 17/6). Sebagaimana diketahui, iklan di media massa dinilai jauh lebih besar pengaruhnya terhadap konstituen dibandingkan pengaruh jejaring partai. Umumnya disebut "silent revolution". Tindakan stasiun televisi itu oleh sebagian masyarakat dinilai sebagai sebuah tindakan diskriminasi, dan justru dicurigai mereka melakukannya dengan didasarkan oleh sebuah kepentingan. Tuduhan bisa saja diterjemahkan masyarakat sebagai ulah Partai Demokrat, sebagai partai penguasa masa kini. Inilah yang perlu diwaspadai oleh elit Demokrat.

Tindakan "kompartmentasi,"  ini dapat dinilai sebagai upaya  memisahkan Mega-Prabowo dari konstituen melalui media massa. Hal ini bisa  disimpulkan oleh masyarakat sebagai tindakan yang kurang terpuji dan menzholimi Mega-Prabowo. Kini yang terjadi, justru iklan tersebut menuai simpati, menyebar dan meluas  lewat situs video Youtube. Cawapres Prabowo Rabu (17/6) mengatakan "Negara demokrasi kok nolak iklan. Bagi saya tidak adil. Ini berbau kolusi." Kejengkelan Prabowo ini perlu dihitung oleh para pemilik stasiun TV tersebut, khususnya dimasa mendatang.

Dari beberapa fakta tersebut diatas, nampak bahwa pasangan Mega-Prabowo bukanlah pasangan yang lemah dan tidak berdaya. Justru kekuatan mereka dibeberapa lini sudah demikian tertanam dihati konstituen. Pemilih tradisional Mega nampaknya tetap setia, demikian juga kekuatan Prabowo sebagai penyeimbang dari SBY, semakin lama nampaknya akan semakin kuat. Elektabilitas Megawati yang cukup kuat untuk bersaing dengan SBY, soliditas PDIP dan Gerindra dalam mengimbangi koalisi Demokrat dengan parpol-parpol Islam, serta momentum pen-zholim-an terhadap pasangan ini perlu diwaspadai oleh pasangan SBY-Boediono.

Jangan remehkan pasangan Mega-Prabowo, ada kekuatan serta magnit yang membius didalamnya. Siapapun Mega, dia tetaplah  putra sang Proklamator Bung Karno. Prabowo adalah cawapres kunci yang membawa berita "perubahan" yang  kini banyak menuai dukungan rakyat. Apabila pilpres berlangsung dua putaran maka diperkirakan pasangan ini yang justru akan bisa menjadi ancaman yang sangat serius terhadap pasangan SBY-Boediono. Terlebih lagi, kekuatannya akan bertambah dengan dukungan Golkar dan Hanura. Presiden Obama adalah contoh kasus yang jelas dengan tagline "Change We Can Believe In". Oleh karena itu jangan remehkan Mega-Prabowo.

PRAYITNO RAMELAN, Guest Blogger Kompasiana

Sumber: http://umum.kompasiana.com/2009/06/18/jangan-remehkan-mega-prabowo/(Dibaca: 1916 kali)

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.