Dimana Sebenarnya Kekuatan SBY?

14 June 2009 | 1:33 am | Dilihat : 74

Hasil dari beberapa Lembaga survei terakhir,  Lembaga Survei Indonesia mengumumkan hasil surveinya, dilaksanakan tanggal 25-30 Mei dengan hasil SBY-Boediono mendapat dukungan 71%, Mega-Prabowo 16,4%, JK-Wiranto 6%. Disusul Lembaga Survei Reform Institute yang melaksanakan survei dari tanggal 25 hingga 30 Mei 2009 dengan hasil 62,92% memilih SBY-Boediono, 16,99%  memilih Mega-Prabowo, dan 11,31% memilih JK-Wiranto, kemudian Lembaga Survei Nasional melakukan survei dari tanggal 1 hingga 5 juni 2009 dengan hasil pasangan SBY-Boediono meraih dukungan 62,5%, pasangan Mega-Prabowo 14,2% dan pasangan JK-Wiranto 11,4%.

Pada Kamis (11/6) Lingkaran Survei Indonesia mengumumkan hasil surveinya yang dilaksanakan antara tanggal 28 Mei-3 Juni 2009, dimana apabila pilpres dilakukan pada hari ini, maka hasilnya SBY-Boediono memperoleh suara 63,1%, Megawati Prabowo 16,4% dan JK-Wiranto 5,9%. Sedang sebanyak 14,6% responden belum menentukan pilihan. Survei ini dilaksanakan di 33 provinsi dengan 4000 responden, margin of error 2,4% dengan tingkat kepercayaan 99%. Direktur Riset LSI Arman Salam selanjutnya menyatakan "Mayoritas responden mengaku puas dengan kinerja SBY secara umum". Ketidak puasan responden menyangkut masalah tenaga kerja dan sembako. tetapi Arman Salam mengatakan "Ketidak puasan itu tertutupi kepuasan terhadap kinerja SBY secara umum, serta besarnya pesona pribadi SBY."

Pada umumnya pemilih puas dengan kehidupannya, satu-satunya yang minus adalah kondisi ekonomi. Tetapi dalam beberapa sisi, kondisi ekonomi bisa ditanggulangi SBY dengan aneka program populis seperti BLT, PNPM Mandiri hingga diturunkannya harga BBM sebanyak tiga kali. Dilain sisi responden juga menilai kinerja SBY dalam menangani korupsi, biaya pendidikan, masalah sosial, bencana alam, masalah kenaikan harga BBM dan kenaikan harga sembako dinilai cukup memuaskan, demikian hasil survei menyebutkan. Arman juga menjelaskan bahwa citra positif tentang kinerja pemerintah yang hanya didapat oleh SBY, "Agak sulit memisahkan kinerja pemerintah menjadi dua porsi, yakni Presiden dan Wakil Presiden. Bagi masyarakat, kinerja pemerintahan selalu linear dengan kinerja Presiden. Itu yang difahami masyarakat."

LSI mengutarakan bahwa ada tiga faktor utama yang menjadikan keunggulan pasangan SBY-Boediono. Pertama faktor personality SBY selain sangat terkenal, juga dianggap pantas menjadi pemimpin nasional. Kedua, sentimen pemilih terhadap kondisi hidupnya. Ketiga, persepsi atas kerja SBY. Faktor personality merupakan kunci bagi SBY menjadi capres teratas yang mendapat dukungan, disukai oleh 90% responden. Sementara responden yang menyukai personality Mega-Prabowo dan JK-Wiranto berkisar sekitar 60%. Dari data tersebut Arman Salam mengatakan "Makanya kami (LSI) memperkirakan bahwa SBY-Boediono akan menangdalam satu putaran".

Dari fakta-fakta tersebut diatas, maka ada empat Lembaga Survei yang menyampaikan hasil keunggulan pasangan SBY Boediono dalam rentang waktu antara 25 Mei-5 Juni 2009 pada posisi teratas dan berpeluang memenangkan pilpres dalam satu putaran. Lembaga Survei Indonesia (71%), Reform Institute (62,92%), Lembaga Survei Nasional  (62,5%) dan Lingkaran Survei Indonesia (63,1%). Dari hasil survei didapat hasil  bahwa kekuatan SBY telah terbentuk dan terencana dengan baik sejak lama. Posisi selaku incumbent telah berhasil mendukung citranya dan mampu membius para pemilih, elektabilitasnya hingga 5 Juni berada diatas 60%. Kekurangan dari SBY yang dinilai oleh masyarakat adalah masalah lapangan pekerjaan, sembako dan kondisi ekonomi. Kesemuanya dapat dinetralisir dengan program-program populisnya. Ternyata benar seperti apa yang diperkirakan sebelumnya bahwa kemenangan dalam pemilu presiden akan banyak ditentukan oleh "figur". Seperti yang disampaikan oleh LSI bahwa yang sangat membius adalah personality SBY yang dianggap pantas sebagai pimpinan nasional dan disukai oleh 90% responden.

Jadi apakah dengan demikian pemilu akan satu putaran? Kembali pertanyaan bergulir. Hasil survei tersebut hanya berlaku agak pasti hingga akhir survei yaitu yang terahir tanggal 5 Juni 2009. Setelah itu setiap manuver masing-masing capres dan cawapres akan berpengaruh terhadap elektabilitasnya masing-masing. Dari survei LSI, terlihat bahwa aspek personality, kepantasan menjadi presiden akan sangat berpengaruh besar. Oleh karena itu pertanyaannya mampukah lawan politik SBY bersaing pada masalah ini. Para kandidat pesaing SBY  harus mampu menunjukkan kepada masyarakat bahwa dia juga pantas dan bahkan lebih pantas menjadi pimpinan nasional. Dia harus mampu menunjukkan bahwa programnya akan lebih baik dalam memperluas lapangan pekerjaan. Dia juga akan mampu menurunkan harga sembako, dan  dia juga akan  mampu memperbaiki masalah ekonomi. Itulah sebenarnya inti dari persaingan ketiga pasang capres dan cawapres.

Masa kampanye sudah mulai berlangsung, dan para capres serta cawapres serta tim sukses sudah bergerak keliling Indonesia, menemui dan meyakinkan para konstituen. Kesempatan masih terbuka, bagi pasangan Mega-Prabowo serta JK-Wiranto tidak perlu marah, tersinggung dan menjadi lemah dengan dirilisnya hasil survei tersebut. Justru keempat point diatas sebaiknya dijadikan fokus dalam merebut simpati masyarakat. Selain upaya menemui konstituen didaerah, maka para capres dan cawapres harus mempersiapkan acara "debat" yang akan disaksikan langsung oleh konstituen. Pada debat tersebut, yang terpenting, rakyat akan menilai personality capres dan cawapres, atau dengan kata lain pantaskah dia menjadi pimpinan mereka. Bagaimana capres dan cawapres mengutarakan dan mengatasi masalah tenaga kerja, sembako dan masalah ekonomi, itulah yang akan mempengaruhi rakyat.

Walaupun elektabilitas dengan jelas sudah terbentuk, bukan tidak mungkin masih bisa terjadi pergeseran. Rontoknya elektabilitas SBY yang bisa berada dibawah Megawati pada kasus kenaikan harga BBM bulan Juni 2008 adalah contoh yang sangat jelas. Masyarakat kita kadang "unpredictable" dan sangat mudah dibentuk opininya, tergantung stimulus yang mereka terima. Kasus opini Manohara yang terbalik-balik serta terbentuknya opini dukungan terhadap Prita Mulyasari yang semakin solid adalah gambaran jelas kondisi psikologi publik. Oleh karena itu, walau posisi SBY kini terunggul, dimana tim sukses berpeluang menciptakan keunggulan pilpres satu putaran. Jangan terlalu percaya diri, sangat berbahaya. Pilpres masih mungkin  berlangsung dengan dua putaran.

PRAYITNO RAMELAN, Guest Blogger Kompasiana

Sumber: http://umum.kompasiana.com/2009/06/14/dimana-sebenarnya-kekuatan-sby/(Dibaca: 1787 kali)

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.