Pengamen Yogya Mendukung JK Dan SBY

10 June 2009 | 10:15 pm | Dilihat : 55

Minggu lalu penulis berada dikota Yogya selama seminggu dalam rangka menengok keponakan yang sakit. Pada suatu malam, dalam rangka melepas penat dan kerinduan terhadap kota yang antik, unik dan penuh kenangan ini, penulis bersama isteri dan beberapa adik pergi ke Alun-alun Utara untuk makan Mie Yogya Pak Pele. Saat tiba dan duduk memesan mie rebus dan mie goreng khas Yogya, muncullah empat pengamen. Kalau di Jakarta, pengamen biasanya berada di perempatan lampu merah, membawa tutup botol "kecrek-kecrek", gocap om...itu kata mereka. Sementara pengamen mini, anak balita yang tidak bermodal  ya tepuk-tepuk tangan saja, tapi kadang dapat uang juga. Pengamen yang lebih maju umumnya beroperasi didalam bus, membawa gitar, drum kecil, suling, harmonika. Lagunya tidak jelas, pokoknya nyanyi, kemudian minta sumbangan. Lumayan juga hasilnya, cepek, nopek, gopek.

Penulis kemudian memperhatikan empat pengamen tadi, yang masing-masing  alutsistanya gitar. Mereka menyanyikan dengan baik lagu-lagu yang cukup populer, seperti Berita Kepada Kawan, Gelap Akan Sirna, Hati Kecewa, Dosa Siapa ini Dosa Siapa,  Lagu-lagu Band Kuburan, Hati Kecil Penuh Janji, Cucak Rowo, Jangan ada Dusta Diantara Kita, Manis dan Sayang, juga lagu-lagu Barat seperti Don't Forget to Remember, I can't stop loving you, I just call to say I love you, I Give My Heart to You, Jamaica Farewell. Penulis kemudian berdiri dan bergabung dengan empat pengamen tersebut dan bergantian menyanyikan lagu Kisah Kasih Disekolah dan dilanjutkan dengan lagu You Mean Everything To Me.

Setelah menyanyi bersama yang disaksikan isteri yang tersenyum malu-malu dan tersipu-sipu, serta ditonton tukang becak, tukang andong dan pengunjung lainnya...wah surprise sekali ni, ditepuki oleh rakyat yang sederhana itu. Rasanya seperti bintang Indonesian Idol, kemudian dipotret bersama sang kuartet Yogya oleh isteri, buat kenang-kenangan katanya. Suit..suit...tukang becak menyuiti, bapak dari Jakarta ya, apa caleg? tanya mereka, wah dikira caleg...bukan kata saya, saya blogger kompasiana. Mereka manggut-manggut walaupun tidak tahu blogger itu apa. Yang penting mereka terhibur dalam kehidupan yang semakin sulit ini, walau kecil ada nilai ibadahnya juga kali ya?.

Saat istirahat, dengan semangat jurnalis, mulailah wawancara. Pengamen itu bernama Sukir, Bagus, Rengga dan Tri. Pakaian mereka sederhana, yang tiga orang pakai sendal jepit. Ternyata mengejutkan juga, Sukir, Bagus dan Tri mengaku pengangguran dan hanya mengamen saja kerjanya, sedangkan Rengga adalah mahasiswa sebuah Universitas  jurusan Filsafat sudah semester enam. Makin menarik gabungan kuartet ini. Keempatnya asli Yogya, saat ditanya kenapa mengamen, mereka katakan inilah keahlian mereka...kalau siang ya kerja serabutan, kalau malam ngamen. Susah pak cari kerja tetap sekarang katanya. Daripada nganggur ya ngamen kata ketiganya. Khusus Rangga, ngamen sebagai upaya mencari biaya kuliah. Bukan main, usaha yang mereka lakukan adalah usaha halal dan memerlukan keahlian khusus disaat sulit mencari lapangan pekerjaan. Karena ternyata mereka juga kadang berlatih lagu-lagu baru.

Muncul kemudian keinginan tahu tentang  pengetahuan politik mereka. Penulis menanyakan sejauh mana  mereka tahu tentang pemilu presiden?. Jawabannya mengejutkan, mereka hafal ketiga pasang capres-cawapres. Saat ditanya siapa yang akan mereka pilih?, Yang dua ternyata mendukung JK-Wiranto, kenapa tanya penulis...karena tertarik ada harapan perbaikan pak, perbaikan nasib..katanya. Yang satu akan memilih SBY, katanya suka saja biar jadi presiden lagi. Faham juga rupanya mereka dan mungkin suka nonton televisi kali. Kalau si Mahasiswa pengamen, Rangga saat ditanya siapa yang akan dipilih, jawabannya nanti tunggu pak, saya mau lihat aktualitasnya diakhir kampanye. Wah ini jawaban  terpelajar, swing voters nih...terus dia menambahkan, sebenarnya saya tadinya mendukung Prabowo pak, tapi karena jadi cawapres jadi berubah...tapi mungkin akan ke SBY-Boediono saja, tergantung nanti saja.  Wah ternyata standnya dua-dua, dua ke JK-Win dan dua ke SBY-Boediono. Mendadak bakul mienya menyeletuk....saya dukung SBY pak. Wah kok tidak ada yang dukung Mega nih pikir penulis. Karena sudah menyanyi dan memberikan tanggapan atas pertanyaan pemilu tadi maka semua konstituen dan penghibur mendapat hadiah dari kami sekeluarga. Every body happy.

Jadi itulah sekelumit pertemuan penulis dengan pengamen di Yogya. Ada rasa menyatu dengan mereka saat penulis bersama-sama  menyanyikan lagu, ada rasa terharu, ikut merasakan bagaimana dari hari kehari mereka harus berjuang mencari sesuap nasi untuk menghidupi keluarganya. Tapi walaupun dalam kondisi yang serba sulit itu...penulis menyampaikan hormat dan salut kepada mereka yang ternyata juga mengerti tentang pemilu presiden, dan mereka sudah mempunyai pilihan serta idolanya masing-masing.

Ternyata SBY dan JK cukup populer di Alun-alun itu...masih penasaran, sebelum naik mobil penulis mendekati tukang becak...Pak pemilihan presiden milih sinten (siapa) ?. Mengagetkan dan memuaskan...dia jawab "Menawi kulo njih (kalau saya ya) Ibu Megawati Pak". Wah ini dia wong cilik, syukur deh...jadi lengkaplah ketiga pasangan capres tersebut ternyata ada yang mendukung. Hanya catatan penulis, dari dialog yang tidak berarti itu, nama Prabowo disebut, tapi alasan konstituen nampak kecewa karena "down grade" tidak jadi Capres.

PRAYITNO RAMELAN, Guest Blogger Kompasiana.

Sumber: http://umum.kompasiana.com/2009/06/10/pengamen-yogya-mendukung-sby-dan-jk (Dibaca: 1100 kali)

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.