Puisi SBY, Pantun Wiranto Dan Pantun Kedondong

29 May 2009 | 8:59 am | Dilihat : 539

Kalau membicarakan sosok militer, yang terbayang adalah pakaian loreng, senjata dan perang. Memang betul, sosok militer itu sejak pendidikan "basis", dia sudah dilatih memegang dan menggunakan senapan. Bagaimana menembak, merunduk, merayap dan melakukan perkelahian sangkur. Karena memang tentara sejak awal disiapkan untuk perang, siap untuk berkelahi dalam rangka mempertahankan negaranya dari agresi musuh.

Ternyata mantan militer tadi  tidak hanya ahli perang saja. Sejak SBY bergerak dibidang politik mulai tahun 1999, yang disusul oleh Wiranto pada pilpres 2004, kini lebih banyak lagi mantan petinggi tadi yang menekuni dunia politik. Menjadi capres, cawapres, tim sukses, tim sekoci dan tim pendukung lainnya. Pada persaingan pilpres 2009, kelompok mantan petinggi TNI ada yang berada disisi SBY, ada yang berada disisi Prabowo dan yang paling ramai berada disisi Wiranto. Keberadaan mereka ya sah-sah saja, karena begitu pensiun,  mereka mempunyai hak politik yang sama dengan masyarakat sipil. Itulah sedikit gambaran para mantan petinggi militer tadi.

Dari kiprah mantan petinggi tadi, yang paling menonjol adalah SBY, Wiranto dan Prabowo. Ketiga tokoh tersebut akan  maju sebagai capres dan cawapres. Dengan pendidikan yang cukup tinggi dan pengalamannya yang banyak, mereka mampu mendiskusikan masalah ekonomi yang nampaknya akan menjadi inti dalam kampanye pemilu presiden 2009 nanti. Selain pengetahuan dibidang ekonomi tadi, penulis mengamati dan mencatat sebuah keahlian lain dari Pak SBY dan Pak Wiranto menjelang masa kampanye, yaitu berpuisi dan berpantun ria.

Saat menghadiri acara debat capres bertema "Kebudayaan dan Presiden" di Taman Ismail Marzuki Cikini, Jakarta Kamis (28/5), pasangan SBY-Boediono dengan kemampuannya menjawab semua pertanyaan panelis. Pada sesi terakhir panelis mempersilahkan SBY membacakan puisi karyanya. SBY maju ketengah panggung, dengan membawa buuku kecil yang berisi 31 puisi karyanya. Mengaku sejak kecil senang menulis puisi dan mengarang lagu. Kemudian SBY membacakan puisi yang dibuat tanggal 26 Januari 2004 dengan judul "Palagan Terakhir". Inilah sebagian isi puisi yang dibacakannya :

"Kutatap bukit menoreh pewaris tahta. Guratan sejarah ketika raja berebut tahta. Di spanjang pelana, di kolong awan jingga. Ksatria berlaga untuk sebuah nama. Meski menoreh tak terbakar karena ilalangnya. Tapi api amarah tetap menyala. Dan tak pernah padam membakar jiwa yang haus kuasa dalam kemarau panjang. Dan bencana persaudaraan di tanah air Jawa."

Disamping SBY, pada Rabu lalu (27/5) lalu saat acara pelantikan tim sukses JK-Win di Tugu Joang 45, Jambi, Wiranto cawapres pasangan capres JK, sebelum menyampaikan orasinya menyampaikan pantun. Pantun pertama berupa pantun titipan dari JK "Ikan Sepat ikan Gabus, semakin cepat semakin bagus". Setelah itu Wiranto menyampaikan orasinya, mengatakan bahwa menjadi cawapres juga mulia, karena tujuannya untuk bekerja demi kemajuan bangsa. Duetnya dengan JK dinilainya paling tepat, karena inilah kombinasi pasangan yang mewakili  nusantara.  Selanjutnya Wiranto menyampaikan pantunnya sendiri, "Burung yang paling indah adalah burungmerpati, jauh-jauh datang hanya untuk bertemu pendukung sejati."

Jadi itulah gaya kedua mantan militer tadi dalam mengambil hati rakyat, mereka menunjukkan bahwa puisi, pantun adalah bahasa yang jauh lebih enak dan mudah dicerna oleh rakyat dibandingkan dengan bahasa politik. Kondisi ini berbeda seperti langit dan bumi pada saat penulis menyaksikan debat tim sukses ketiga capres yaitu Ruhut Sitompul, Fuad Bawazir dan Permadi di sebuah stasiun televisi. Mereka menggunakan bahasa politik kasar, saling mengejek, menjatuhkan satu sama lain. Penontonpun menjadi tidak suka, penampilan mereka bisa-bisa mempengaruhi grass root dan membenarkan stigma negatif bahwa  politik itu ya memang kasar begitu. Kalau ditiru tim sukses didaerah bisa berbahaya bukan?.

Sebagai penutup, mari... kitapun bisa berpantun, namanya pantun "Universal". Mau dipakai untuk apa saja pantun ini bisa. Contohnya, "Buah Mangga buah Kedondong, yang menang nanti kira-kira siapa dong?". Buah mangga buah kedondong, SBY-Boediono, Mega-Pro dan  JK-Win yang kita pilih yang mana dong?. Buah Mangga buah Kedondong, harapan kita Pilpres nanti aman dong!.... Nah, anda coba saja pantunkan Buah Mangga buah Kedondong itu, pasti bisa. Selamat berpantun!.

PRAYITNO RAMELAN, Guest Blogger Kompasiana.

Sumber : http://umum.kompasiana.com/2009/05/29/puisi-sby-pantun-wiranto-dan-pantun-kedondong/ (Dibaca: 2985 kali)

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.