Belum Tentu SBY Berbudi Menang Satu Putaran

18 May 2009 | 1:17 am | Dilihat : 63

Pada pagi tadi penulis membaca surat kabar...betapa terkejutnya saat membaca disalah satu surat kabar yang menulis besar-besar pada "head line"-nya, "Pilpres Sudah Antiklimaks, Yang Seru Menebak Runner-Up". Wah ini sebuah informasi yang sangat berani, ternyata didalamnya berisi pendapat beberapa pengamat, yang rata-rata memprediksikan bahwa SBY berbudi akan menang mudah dalam satu putaran. Beberapa alasan yang terekam antara lain kelebihan dari kubu SBY adalah elektabilitasnya yang tinggi, parpol pendukungnya banyak, dan didukung mesin politik yang kuat.

Pertanyaannya kini, apakah benar sedemikian lemahnya dua pasangan lainnya?. Penulis mencoba menjawab pertanyaan ini dengan berdasarkan sebuah ukuran yang selama ini dianggap cukup kredibel dan dapat dipertanggung jawabkan, yaitu hasil survei. Hasil survei pertama yang dipergunakan adalah Pusat Kajian Strategi Pembangunan Sosial Politik (PKSPSP) FISIP UI yang melakukan survei dari tanggal 27 April - 2 Mei 2009  secara simultan. Survei menyebutkan bahwa 79,9% responden menilai pemerintah sekarang kurang mampu terutama dalam menyelesaikan masalah ekonomi, yang meliputi tingginya harga-harga kebutuhan pokok, kurangnya lapangan kerja dan tingkat kemiskinan masyarakat yang semakin meningkat. Sebanyak 52,7% menyatakan pemerintah kurang mampu menangani permasalahan politik, kekurang mampuan bidang hukum 47,8%

Hasil survei kedua yang dipergunakanuntuk mengukur adalah Lembaga Riset Informasi (LRI) yang melakuan survei pada tanggal 3-7 Mei 2009. Direktur LRI Johan O Silalahi menyampaikan bahwa pasangan SBY-Hidayat Nur Wahid sebagai pasangan capres-cawapres yang mendapat apresiasi responden tertinggi dengan prosentase dukungan 36,2%,  pasangan JK-Win mendapat 27,6%, pasangan Mega-Prabowo,   sebesar 19,1%, yang belum menentukan pilihan 17,1%. Apabila komposisi cawapres SBY diganti dengan Gubernur BI Boediono, dan dihadapkan dengan lawan yang tetap maka hasilnya SBY-Boediono 32,1%, JK-Wiranto 27,3% dan Mega-Prabowo 20,2%.

Dari kedua hasil survei diatas, terlihat  posisi SBY masih yang terunggul, elektabilitasnya sebagai capres 31%, Megawati 15,85% dan  JK 13,85%. Dalam posisi ini memang SBY lebih unggul dari Megawati sekitar 50%, dan unggul dari JK sebesar 55,50%. Artinya SBY demikian dominan apabila bertanding tanpa didampingi cawapresnya. Nah, kalau diukur dari pasangan capres-cawapres maka hasilnya adalah SBY-Boediono 32,1%, JK-Wiranto 27,3% dan Mega-Prabowo 20,2%. Posisi ini diukur pada saat deklarasi belum dilaksanakan oleh pasangan SBY-Boediono dan Mega-Prabowo, pasangan JK-Wiranto sudah mendeklarasikan berpasangan pada tanggal 1 Mei 2009. Posisi SBY-Boediono walau belum deklarasi sudah memberikan sinyal kepastian, sedangkan Mega -Prabowo masih berkemelut, belum ada kepastian. Posisi Mega-Prabowo terendah dan dapat diperkirakan karena respondennya sebagian bergeser ke JK-Wiranto, karena adanya resistensi kemungkinan berkoalisinya PDIP dengan Partai Demokrat.

Disini terlihat bahwa peran dari cawapres sangat besar, pasangan SBY Berbudi posisinya tidak menjadi sangat dominan, karena faktor Boediono yang belum mempunyai elektabilitas. Sementara gabungan JK-Wiranto menjadi lebih baik setelah keduanya bergabung. Peran cawapres terlihat dari nilai apabila SBY dipasangkan dengan Hidayat Nur Wahid yang mencapai 36,2%, lebih tinggi 4,1% apabila dibandingkan berpasangan dengan Boediono. Jadi sebetulnya elektabilitas SBY Berbudi hanya menang 4,8% dibandingkan pesaing terdekatnya JK-Win.

Apakah Elektabilitas SBY Berbudi akan naik?. Bisa ya dan bisa tidak. Elektabilitas SBY Berbudi diperkirakan akan bisa naik dengan kemunculan dan "performance" Boediono yang demikian prima, "menyihir" kata sementara orang. Akan tetapi kemelut dan rasa tidak puas dari sementara parpol pendukungnya (Parpol Islam) akan berpengaruh besar terhadap elektabilitasnya. Cap penganut neoliberalisme bagi Boediono merupakan "nila" yang harus dibersihkannya dikalangan kader dan simpatisan parpol Islam. Selain itu  survei Puskapol Fisip UI  menyebutkan  79,9% responden menilai pemerintah (incumbent) kurang mampu menyelesaikan masalah ekonomi, dan 52,7% menyatakan pemerintah kurang mampu menyelesaikan masalah politik. Hal ini tidak bisa dipandang enteng, karena masalah tingginya harga sembako, pengangguran dan kemiskinan adalah bagian dari hidup masyarakat bawah yang notabene konstituen itu.

Hal lain yang belum terukur, tetapi diperkirakan akan berpengaruh dalam meningkatkan elektabilitas pasangan Mega-Prabowo, adalah peran Prabowo. Prabowo kini adalah simbol perlawanan terhadap SBY, dialah pesaing terkuat. Memang banyak yang kecewa karena Prabowo tidak menjadi capres, tapi dalam waktu yang tidak lama para peminat Prabowo kembali akan bersemangat mendukungnya. Terlihat dari elektabilitasnya yang tinggi, SBY 31%, Prabowo 23,95%.

Nah, dengan hitung-hitungan politis diatas, hingga posisi tanggal 7 Mei 2009 (tanggal validitas survei), posisi SBY masih menjadi yang terkuat, termasuk apabila diduetkan dengan Boediono. Akan tetapi terlihat  pasangan SBY Berbudi tidak terlalu dominan, hanya mendapat dukungan responden 32,1%. Nampaknya kekuatan pasangan ini masih mengandalkan popularitas dan elektabilitas perorangan SBY. Sumbangan Boediono belum terlalu nampak. Ini yang akan menjadi beban pasangan nasionalis tetapi dengan pendukung utamanya parpol dengan ideologi Islam, yang belum tandatangan kontrak sudah ribut.

Bagi pasangan JK-Win sebagai pasangan dari partai nasionalis, dengan figur capres tokoh Islam (NU) dan cawapres tokoh militer mempunyai peluang sebagai penampung kader atau simpatisan parpol Islam yang kecewa karena tetap bergabungnya partai mereka ke kubu SBY Berbudi yang mereka nilai pro Barat. Pasangan Mega-Pro diperkirakan secara perlahan akan mampu bergerak keatas dan menjadi lebih populer, mengingat pengikut Mega yang militan. Selain itu juga  peran Prabowo sebagai daya tarik dan daya pikatnya sangat diharapkan banyak pihak karena membawa inspirasi "perubahan" ekonomi kerakyatan. Persaingan pilpres adalah persaingan "figur" baik capres ataupun cawapres. Jejaring partai umumnya tidak akan mampu mengontrol kader dan simpatisannya untuk tetap loyal. Karena itu jumlah banyaknya partai dalam koalisi bukan merupakan sebuah jaminan sebuah koalisi akan demikian kuat.

Memang sulit kini untuk memprediksikan siapa yang akan masuk keputaran kedua, waktu masih cukup untuk meningkatkan citra ataupun bahkan untuk jatuh. Akan tetapi penulis memperkirakan sementara ini dari fakta-fakta yang ada nampaknya masih sulit bagi SBY Berbudi akan menang dalam satu putaran.

PRAYITNO RAMELAN. Guest Blogger Kompasiana

Sumber : http://umum.kompasiana.com/2009/05/18/belum-tentu-sby-berbudi-menang-satu-putaran/ (Dibaca: 7990 kali)

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.