JK-Win Mulai Unjuk Gigi

10 May 2009 | 10:49 am | Dilihat : 43

Pasangan Ketua Umum Golkar Jusuf Kalla dengan ketua Umum Partai Hanura Wiranto sebagai pasangan pertama yang mendeklarsikan diri ternyata mulai unjuk gigi. Pada awal deklarasi, banyak fihak yang meragukan apakah kombinasi ini mampu bersaing dalam pilpres nanti? Eh...ternyata mulai menampakkan  kemampuannya. Kemampuan pasangan JK-Win terlihat dari hasil survei yang dilakukan oleh Lembaga Riset Informasi (LRI) yang merilis hasil surveinya pada hari Sabtu (9/5) di kawasan Menteng Jakarta.

LRI melakukan survei pada tanggal 3-7 Mei 2009 dengan melalui kegiatan tatap muka dan wawancara dengan kuesioner terstruktur terhadap 2066 responden, tingkat kepercayaan 95% dan margin of error 2,2%. Direktur LRI Johan O Silalahi menyampaikan bahwa pasangan SBY-Hidayat Nur Wahid sebagai pasangan capres-cawapres yang mendapat apresiasi responden tertinggi dengan prosentase dukungan 36,2%,  pasangan JK-Win mendapat 27,6% dan apabila dipasangkan antara Mega-Prabowo,  dukungan yang didapat sebesar 19,1%, yang belum menentukan pilihan 17,1%. Apabila komposisi cawapres SBY diganti dengan Gubernur BI Boediono, dan dihadapkan dengan lawan yang tetap maka hasilnya SBY-Boediono 32,1%, JK-Win 27,3% dan Mega-Bowo 20,2%.

Nampaknya JK mulai menyampaikan pesan dan kesan kepada publik tentang keinginan, harapan dan pengalamannya, yang diutarakannya saat berpidato dimuka Rapimnas Partai Hanura Sabtu (9/5).  Jusuf Kalla mengatakan "Kita tidak perlu menunggu hanya untuk berfikir macam-macam. Begitu harapan bisa dicapai, tentukan sikap, apapun resikonya." JK juga menyindir parpol lainnya yang hingga kini belum menentukan sikapnya dan memilih jodoh. Rakyat disuruh menunggu dan dikatakannya bahwa menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Menurut JK, pemimpin itu harus hidup harmonis, bekerja sama. JK mencontohkan dirinya dengan Wiranto sangat serasi, karena paduannya cocok. Yakni Sipil-militer, Jawa-luar Jawa, dua-duanya pemimpin partai nasional, terbuka dan agamis.  "Yang paling pokok prinsip pokoknya selesai, yang lain ikut prinsip pokok, kita akan mengayomi siapa saja tanpa perbedaan," kata JK.

Menyinggung tentang  kedudukan wapres, JK mengatakan bahwa sesuai konstitusi, presiden dibantu oleh wapres. Masyarakat banyak yang menterjemahkan bahwa wapres itu pembantu. Padahal yang selama ini dikerjakannya bukan sekedar pembantu presiden. "Siapa bilang saya pembantu presiden? Itu yang salah tafsir dan harus kita jelaskan," katanya. JK juga menyinggung "Hari ini boleh pidato, tapi pada saat pecah, siapa yang menyelesaikan bangsa ini. Di Aceh, saya yang memecahkan masalah itu, jadi tidak perlu diragukan. Lima tahun saya melaksanakan itu, mau bicara kontrak Natuna saya minta diputuskan. Namun sebagai wapres tidak bisa menandatangani. Sekiranya ada Kepwapres, saya tanda tangani," sebutnya.

Sementara cawapres Wiranto pada acara tersebut mengatakan bahwa  deklarasi keduanya tidak memecahkan koalisi besar yang pernah digagas bersama PDIP dan partai lainnya. Saat bertemu dengan Mega bersama JK, tidak ada yang perlu dikhawatirkan adanya keretakan, ketidak konsistenan atau ketidak setiakawanan dalam koalisi besar. "Semua masih solid dan konsisten atas kesepakatan yang dibuat. Isu PDIP yang mendekat ke Partai Demokrat, tidak ada arah kesana," jelas Wiranto. Pasangan JK-Win kini punya tagline baru "Berkarya Lebih Cepat, Lebih Baik dan Berhati Nurani."

Dari fakta diatas, terlihat bahwa pasangan JK-Win secara perlahan mulai merangkak keatas, mulai menarik perhatian konstituen. Walau dalam survei yang lalu-lalu elektabilitas JK maupun Wiranto dapat dikatakan kurang menggembirakan, ternyata penggabungan JK-Win yang lebih awal, nilainya menjadi positif. Menurut LRI, pasangan ini  berpeluang menjadi lawan berat SBY. Direktur LRI Johan O Silalahi mengatakan "Pasangan JK-Win mengalahkan pasangan Mega-Bowo karena pasangan JK-Win dinilai pasangan yang konkrit, sudah mendeklarasikan diri. Sedangkan Mega-Bowo baru imajiner. Kalau masih ada keraguan pada Mega dan Prabowo, bisa saja nanti suaranya akan beralih ke JK-Win, karena rakyat saat ini butuh kepastian." Analis survei melihat bahwa kepastian adalah sebuah kebutuhan psikologis dari rakyat. Ini berarti rakyat menginginkan pemimpin yang tegas, pasti dan tidak ragu-ragu dalam mengambil keputusan. Inilah salah satu kekuatan dari pasangan JK-Win, dimana beberapa syarat tidak tertulis dari masyarakat dapat dipenuhi pasangan ini.

Apakah pasangan ini merupakan ancaman bagi SBY?. Nampaknya bisa dikatakan betul. JK adalah pendamping SBY selama 4,5 tahun, artinya JK faham benar dengan karakter SBY, faham dengan kelebihan dan kekurangannya. Saat pemilu legislatif JK lebih banyak berdiam diri, tetapi kini sedikit demi sedikit mulai membuka beberapa masalah antara dirinya dengan SBY. Ini terlihat dari ungkapannya tentang masalah wapres, masalah siapa yang banyak berperan dalam menyelesaikan masalah bangsa, masalah lambatnya SBY mengambil keputusan cawapres, masalah keharmonisan antara presiden dan wapres. Semuanya pada saatnya nanti akan terkuak dengan sendirinya. Jelas ini akan banyak mempengaruhi para konstituen. Tidak seperti yang banyak dibicarakan tentang pecahnya koalisi besar, penjelasan cawapres Wiranto telah menjawab bahwa dinamika tetap berjalan tetapi kerjasama di parlemen akan tetap terjadi.

Kini, tim sukses SBY harus bekerja lebih keras....jangan pandang enteng JK-Win. JK didukung partai besar Golkar dan Wiranto dibantu oleh banyak Jenderal ahli strategi yang sangat berpengalaman. Bukti keampuhan strategi para jenderal itu terlihat, hanya dua partai baru yang mampu lolos dari sergapan "parliamentary threshold," yaitu Hanura dan Gerindra. Keduanya adalah parpol yang dibuat, dimiliki dan didukung oleh beberapa Jenderal.  Kita heran...kenapa  SBY menunda mengumumkan cawapresnya yang semula akan diumumkan tanggal 9, dimundurkan menjadi tanggal 15 Mei nanti? Apakah tidak terlalu mepet, sementara lawan sudah membangun benteng dan jembatan "bailey".

PRAYITNO RAMELAN, Guest blogger Kompasiana.

Sumber : http://umum.kompasiana.com/2009/05/10/jk-win-mulai-unjuk-gigi/

(Dibaca: 2120 kali)

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.