Siapa Cawapres Menurut Versi SBY?

20 April 2009 | 2:06 am | Dilihat : 79

Dalam berbicara atau membicarakan masalah politik, ada suatu pesan dari "suhu" politik penulis, Bapak Matori Abdul Djalil (Alm) yang menjelaskan, kalau membaca situasi, kondisi serta statement politik kita harus faham dengan "sense of politik" atau dalam bahasa Indonesia disebut "rasa". Apabila tidak memahaminya maka seseorang bisa terjebak atau salah membaca sebuah perkembangn politik dengan mengartikan hanya apa yang tersurat saja. Ada bagian penting yang harus difahaminya, yaitu apa yang "tersirat" di dalamnya.

Penulis mencoba mengajak pembaca bersama-sama menterjemahkan apa yang tersirat dari statement politik SBY yang  disampaikan kepada wartawan pada hari minggu (19/4) di kediaman pribadinya, Puri Cikeas, Bogor. Dalam jumpa pers tersebut SBY menyampaikan penjelasan tentang "gonjang-ganjing" pemberitaan tentang cawapres yang akan dipilihnya.  SBY menyampaikan lima kriteria dan diantaranya empat kriteria prinsip(esensial), dan satu kriteria tambahan. Dikatakannya "Kalau ditanya siapa cawapresnya, saya menyatakan belum. Tapi apa kriterianya, boleh saya sampaikan sekarang."

Kriteria utama yang disyaratkannya, pertama "Dalam menentukan pemimpin, wapres seharusnya mempunyai integritas yang baik. Personality, kepribadian." Kriteria kedua, cawapresnya mempunyai kapasitas dan kapabilitas dalam menjalankan tugas-tugas negara. Sebagai pembantu presiden, dalam pasal 4 UUD 1945 disebutkan bahwa presiden yang memegang kekuasaan tertinggi dalam pemerintahan tugasnya dibantu oleh wapres. Sehubungan dengan hal tersebut, maka  wapres harus memiliki kecakapan yang tinggi untuk mengkoordinasikan, mensinergikan pekerjaan para menteri dalam kabinet, segaris dengan kebijakan presiden."Untuk itu dia harus memahami banyak masalah. Masalah energi, ekonomi, hukum, tata negara. Banyak yang salah mengerti, wapres selama ini dianggapnya hanya co-chairman. Dia mesti memiliki kecakapan untuk mampu mengkoordinasikan tugas tertentu," kata  SBY selanjutnya.

Kriteria ketiga, adalah loyalitas. SBY ingin wapresnya nanti  setia kepada presiden sebagai kepala pemerintahan dan kepala negara, bukan loyal atau setia sebagai pribadinya."Wapres selaku pelaksana pemerintahan harus bebas dari conflict of interest baik itu interest politik maupun bisnis, dan lain-lain," jelasnya. Kriteria keempat adalah akseptabilitas. Cawapresnya nanti harus bisa diterima oleh masyarakat luas."Presiden dan wapres itu 1 perahu. Presiden itu nahkoda dan wapres membantu nahkoda mengendalikan perahu. Itu yang disebut dengan cocok chemistri-nya," papar SBY.

Itulah empat kriteria prinsip  cawapres yang dipersyaratkan oleh SBY. Syarat kelima, sebagai syarat tambahan yaitu cawapresnya nanti harus bisa meningkatkan kekokohan dan kekuatan dari koalisi yang ada sekarang, dan bisa mengembalikan efektivitas dalam pemerintahan. Selanjutnya SBY menyampaikan "Sekarang memang belum terbentuk secara formal. Kita sedang susun untuk kebaikan rakyat. Itulah syaratnya, tapi 4 pertama yang prinsip."

Nah, dengan telah disampaikannya kriteria tersebut, maka kalau kita teliti lebih lanjut, ada sesuatu yang "tersirat" dari apa yang diungkapkannya khususnya para kriteria kelima. Dikatakannya bahwa  cawapresnya  harus bisa meningkatkan kekokohan dan kekuatan dari koalisi yang ada sekarang. Justru menurut hemat penulis kriteria tambahan kelima ini mempunyai arti khusus dari cawapres tadi. Sebagaimana kita ketahui, kriteria esensial atau dikatakan "prinsip" oleh SBY, berarti keempat syarat tersebut mutlak tidak boleh kurang satupun. Dari keempat syarat prinsip, Integritas dan kepribadian, kapasitas dan kapabilitas, loyalitas, akseptabilitas, merupakan syarat umum artinya tidak terlihat adanya syarat berlaku hanya terhadap tokoh politik saja. Justru syarat tambahan kelima yang baru mengarah ke tokoh politik. Karena yang dapat meningkatkan kekokohan dan kekuatan koalisi adalah tokoh yang didukung partai politik untuk memperkuat suara dari Partai Demokrat.

Dengan demikian maka SBY kelihatannya bisa mengambil cawapresnya dari tokoh politik dan bisa juga mengambil cawapresnya dari yang non partisan. Dengan perhitungan kekuatan suara Demokrat sekitar 21% nantinya, ditambah koalisi beberapa partai yang paling tidak akan berjumlah sekitar 40%. Pemerintahan yang akan dibentuknya akan mampu berjalan dan terlindungi dari tekanan di parlemen. Oleh karena itu maka SBY tidak akan risau apabila dari tokoh partai tidak ada yang memenuhi syarat tersebut, walaupun cawapres akan dipilih dahulu dari tokoh-tokoh  parpol. Terlihat SBY akan menempatkan pembantu-pembantunya yang profesional dibidangnya, karena cawapresnya saja sudah demikian berat syaratnya. Pemerintahan yang akan disusunnya adalah pemerintahan profesional yang faham dan mampu mengatasi ancaman, tantangan, hambatan serta gangguan terhadap bangsa Indonesia.

Dengan demikian, maka bagi yang berminat menjadi cawapresnya SBY bisa mulai mengukur diri, apakah dirinya pantas dan mampu menembus saringan yang rapat tersebut, tokoh-tokoh seperti JK, Surya Paloh, Sri Sultan, Akbar Tanjung, Agung Laksono, Aburizal Bakri, Hidayat Nur Wahid, Sutrisno Bachir, Hatta Rajasa, Anas Ubaningrum, Sri Mulyani, Boediono, mempunyai peluang yang sama untukmenjadi cawapres SBY. Yang membedakan adalah "kapabilitas" dan "akseptabilitas", dimana tokoh politik umumnya akan  menghadapi kesulitan dalam menghadapi saringan kapabilitas. Sayarat yang berat karena calon harus menguasai  pengetahuan dan masalah  dibidang  energi, ekonomi, hukum  dan tata negara. Selain itu tokoh politik karena warnanya yang jelas, akan menjumpai penolakan disisi lain dari masyarakat lawan politiknya. Nah, mereka yang dinilai kapabel adalah "orang pintar", artinya seorang ilmuwan yang pengetahuannya luas dan non partisan. Sebagai orang yang non partisan  maka resistensinya di masyarakat akan lebih kecil.

Nampaknya, SBY akan menyaring cawapresnya agak   lebih diarahkan kepada kalangan profesional, karena syarat kelima justru yang berbau politik  bukan merupakan syarat prinsip. Selain itu kebijakan yang disampaikan sesuai dengan pernyatannya  "demi kebaikan rakyat". Artinya masalah rakyat adalah bagian terpenting yang akan diperhatikannya, dimana masalah utamanya adalah ekonomi, yang sesuai dengan kriteria kapabilitas. Jadi tokoh tersebut kelihatannya adalah lebih menjurus kearah ekonom yang handal, berpengalaman. Selama ini mungkin sudah dikenalnya?, istilahnya cocok "chemistry-nya". Siapakah tokoh itu? Bagi anda yang bergelar Doktor, lebih khusus dibidang ekonomi, mempunyai pengalaman di pemerintahan, boleh siap-siap menunggu tilpon atau pemberitahuan dari Puri Cikeas. Mari kita tunggu keputusan SBY yang katanya akan disampaikan pekan depan. Tapi tidak ada salahnya kita bahas sedikit-sedikit, karena SBY katanya juga mendengar masukan dari masyarakat, siapa tahu saran blogger di Kompasiana juga didengar.  Maaf kalau ada kekurangannya.

PRAYITNO RAMELAN, Guest Blogger Kompasiana.

Sumber : http://umum.kompasiana.com/2009/04/20/siapa-cawapres-menurut-versi-sby/ (Dibaca: 2110 kali)

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.