Incumbent Harus Hati-Hati, PDIP Dan Mega Sangat Serius

9 January 2009 | 4:00 pm | Dilihat : 59

Hingga kini banyak pengamat, elit politik, lembaga survei memperkirakan bahwa yang akan bertarung memperebutkan kedudukan sebagai pimpinan nasional pada pilpres 2009 adalah SBY dan Megawati. SBY adalah incumbent, masih menduduki jabatan sebagai presiden RI, sementara Mega adalah penantangnya dan partainya  PDIP tetap konsisten menjadi oposisi pemerintah. Kalau diamati, maka popularitas atau elektabilitas keduanya turun naiknya selalu berbanding terbalik. Artinya kalau SBY menjadi lebih populer maka popularitas Mega pasti turun, juga sebaliknya bila SBY kurang populer maka Mega akan menjadi lebih populer.

Dari  pendapat beberapa elit politik dan pengamat, dikaitkan dengan UU pilpres, maka  nanti dalam pilpres 2009 kelihatannya yang akan bersaing hanya ada tiga pasangan capres-cawapres. Persyaratan 20% kursi DPR atau 25% suara Nasional untuk pengajuan calon, baik sendiri maupun berkoalisi  dirasa sangat berat. Hingga kini yang diperkirakan akan  maju baru SBY dan Megawati. Untuk calon ketiga hingga kini belum dapat ditentukan, kekuatan parpol masih remang-remang menunggu hingga didapatnya hasil pemilu legislatif. Oleh karenanya maka dalam pembahasan ini hanya akan dilakukan terhadap kedua calon unggulan tersebut.

Dari peta kekuatan, SBY mempunyai kekuatan sebagai incumbent yang memegang kekuasaan, tiap kebijakan yng dinilai positif oleh masyarakat secara otomatis akan menaikkan elektabilitasnya. Tapi demikian juga sebaliknya, apabila terdapat kebijakan yang dinilai rakyat memberatkan, merugikan maka elektabilitasnya juga otomatis akan turun. Popularitas SBY masih cukup tinggi, beberapa aspek rasional yang dinilai positif mencakup kepuasan atas kinerja pemerintah, kondisi politik, keamanan, penegakan hukum, ekonomi nasional, program pemberantasan korupsi, program sosial meliputi bantuan langsung tunai, dana biaya operasional sekolah, dan penurunan harga bahan bakar minyak. Sementara Megawati sebagai oposan hanya menyampaikan serangan kurangnya perhatian pemerintah terhadap rakyat, seperti naiknya harga BBM, tingginya harga sembako.

Sebagai incumbent SBY telah mampu menciptakan sebuah opini dimana dia dan Partai Demokrat adalah suatu kesatuan, artinya setiap kebijakan positif yang diambilnya juga terkesan di masyarakat adalah kebijakan dari partainya. Bahkan Golkar yang direpresentasikan JK serta beberapa menteri di kabinet dalam beberapa waktu terakhir tidak mendapat penghargaan masyarakat, terlihat dari hasil beberapa lembaga survei, elektabilitas Golkar merosot dan berada dibawah partai demokrat. Dilain sisi Mega jauh lebih menyatu dengan konstituennya yang disebut "wong cilik". Kemampuan Demokrat yang menggunakan sektor periklanan lewat media massa juga mampu diimbangi oleh PDIP.

Bagaimana dengan kerawanan SBY? Seperti telah diungkap oleh penulis pada beberapa artikel terdahulu, kerawanan SBY terutama karena dia menjadi patron, "pusat" segala-galanya dari Demokrat. Begitu nanti SBY mendapat gempuran, atau timbul masalah serius yang berkaitan dengan kondisi negara, maka otomatis elektabilitas keduanya akan turun. Sementara Mega dilain sisi tidak punya beban tanggung jawab atas pemerintahan, serangan terhadap Mega selama ini lebih diarahkan terhadap kekurang mampuannya. Beberapa saat yang lalu Mega telah berani membuktikan dan angkat bicara pada acara Kick Andy, yang oleh banyak pihak dipuji dengan kekaguman.

Posisi SBY di Partai Demokrat  adalah Ketua Dewan Pembina, kedua SBY terikat pada aturan sebagai presiden menyebabkan gerakannya menjadi terbatas, kunjungan lebih bersifat formal, berbeda dengan Megawati yang bebas menyapa konstituen hingga ke pelosok-pelosok tanah air. Mega sejak tahun 2007 telah aktif melakukan safari keliling, diantaranya ke Sumatera, pada bulan November 2008 safari keliling Jawa, bahkan juga sampai ke daerah kasus lumpur Lapindo Sidoarjo. Yang terakhir pada tanggal 6-9 Januari 2009  Mega melakukan safari ke KTI (Kawasan Timur Indonesia), yaitu Makassar, Manado, Sorong, Timika dengan tema "Silaturahmi dan Tali Kasih Mama Mega ke Indonesia Timur".

Dengan melihat beberapa fakta diatas, terlihat bahwa PDIP dan Megawati sangat serius dalam upayanya mencoba merebut kembali posisinya sebagai parpol pemenang pemilu dan sekaligus menjadikan capres Megawati menjadi presiden.  Memang banyak pihak meremehkan Megawati, tetapi perlu diingat bahwa kini capres yang terkuat pada posisi kedua hingga saat ini adalah Megawati, begitu SBY tergelincir atau popularitasnya menurun maka posisi teratas akan diduduki oleh Megawati.

Pembangunan hubungan batiniah antara parpol, capres dengan konstituen sebaiknya dilakukan dengan dua jalan yaitu iklan dan kunjungan. Setelah iklan ditebar, maka konstituen harus didatangi, tidak bisa hanya dari kejauhan, rakyat ingin lebih disapa, ingin lebih diperhatikan oleh para calon pemimpinnya. Rakyat menginginkan pemimpinnya mendengar apa keluhan dan kesulitan mereka. Dan hal ini tidak bisa hanya dilakukan dalam waktu sekejab, dibutuhkan waktu yang cukup lama, karena yang harus disentuh adalah hati manusia. Dalam kondisi masa kini, dimana rakyat lebih "melek" politik, mereka akan  sangat mendengar siapa yang mendatangi mereka. Apabila pemilih tradisional tidak dijaga, mereka akan lari ketempat lain.

Popularitas SBY tinggi karena sebagai incumbent yang mampu memberikan kesejahteraan, sementara elektabilitas Mega sebagai kompetitor yang kuat tidak didapat begitu saja, tetapi melalui sebuah usaha yang cukup lama dikerjakan. PDIP tanpa disadari telah selangkah lebih maju, pada akhir bulan Januari ini kelihatannya hanya PDIP yang berani mengumumkan pasangan capres-cawapres. Oleh karena itu SBY dan Partai Demokrat memang harus mewaspadainya. Partai Demokrat jangan terlalu percaya diri dan terjebak dalam kemelut yang kemungkinan akan terjadi dengan partner koalisinya Golkar. Pertanyaannya apakah Golkar akan tetap setia menjadi partner koalisi?. Perlu diingat dalam tubuh Golkarpun sudah terdapat kekuatan yang menginginkan bersatunya Golkar dengan PDIP. Kalau Golkar melepaskan diri dan pindah, bukankah Demokrat akan agak melemah?.

Seperti permainan catur, hati-hati dengan langkah kuda, sekali di "schak mat" maka ratunya tidak bisa geser dan akan tumbang. Dengan meng-"underestimate" PDIP dan Mega, sejarah 2004 dapat saja terulang, saat itu SBY  yang tidak diunggulkan justru yang menjadi presiden. Bisa saja ini terjadi pada Mega. Maaf pak, ini hanya pendapat blogger tua di Kompasiana...mungkin ada salahnya. Mudah-mudahan ada manfaatnya.

PRAYITNO RAMELAN, Guest Blogger Kompasiana.

Sumber : http://umum.kompasiana.com/2009/01/09/incumbent-harus-hati-hati-pdip-dan-mega-sangat-serius/ (Dibaca: 1003 kali)

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.