Ramalan Muladi yang Ketua DPP Partai Golkar

21 November 2008 | 8:46 am | Dilihat : 101

Ini hari Jumat, hari baik bagi umat Islam, sambil melaksanakan sholat Jumat, biasanya  penulis bersilaturahmi dengan warga  di Mesjid Khusnul Khotimah yang dibangun secara swadaya. Hari terbaik diantara hari-hari biasa lainnya, kita akan mendengarkan kutbah dari khatib.dimana hati ini akan digosok, dibersihkan agar kerak-kerak yang melekat kotor selama seminggu dapat berguguran.

Dihari baik ini penulis  tertarik membaca  di surat kabar Rakyat Merdeka sebuah wawawancara tentang prediksi pertarungan pasangan capres pada pilpres 2009. Melihat isinya yang  berbobot, penulis mengambil beberapa, dan dikemas menjadi tulisan ini. Mudah-mudahan ini dapat menambah wawasan pembaca Kompasiana. Ini adalah sebuah informasi, jangan ditelan mentah-mentah, jangan "prejudice" walau tidak suka. Ini bisa dijadikan bahan renungan dan pelengkap analisa selanjutnya demi kepentingan baik individu maupun kelompok masing-masing.

Yang dijadikan sumber adalah Prof.Dr.Muladi SH ilmuwan yang menjadi politisi, kini menjadi salah satu Ketua DPP Partai Golkar. Kalau yang membuat ramalan orang yang tidak jelas, saya akan melupakannya. Tapi Pak Muladi ini cukup kredibel berbicara tentang capres, ia berani dan lugas. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Kehakiman, Rektor Universitas Diponegorop, aktif di Habibie Center. Sejak 30 Agustus 2005 dipercaya menduduki pos Gubernur Lemhannas.

Muladi mengatakan kini duet SBY-JK sulit tertandingi, kunci keberhasilannya terletak pada kinerja dibidang ekonomi nya sangat baik. Di internal Golkar, suara yang menginginkan duet SBY-JK keras sekali. Menurutnya ini realistis karena yang dipilih di Pilpres bukan Parpol melainkan "figur". Koalisi diperkirakan mungkin akan terjadi antara Golkar, Demokrat, PPP dan PKS.

Golkar sudah sepakat tidak akan ada konvensi, dasar untuk penentuan capres-cawapres akan ditetapkan melalui  hasil survei, dari 2 atau 3 lembaga yang kredibel. Dari hasil preliminary survei pasangan SBY-JK dinilai tetap menonjol. Ini realitas politik katanya, daripada nanti maju tapi kalah. Muladi berani dan lugas mengatakan tentang fenomena munculnya Fadel Muhammad, Yuddy Chrisnandy dan Sri Sultan untuk menjadi capres, menurutnya ini  lebih merupakan gerakan pribadi, bukan institusi, di Golkar tidak mendapat apresiasi katanya (sambil meminta maaf).

Muladi mengatakan Golkar adalah pengaman yang luar biasa ("baca juga tulisan  Pray di Kompasiana, Public, judul Golkar The Bodyguard"). Kalau nanti pasangan SBY-JK tetap dan suara Golkar signifikan maka Golkar yang berjasa besar dalam pemerintahan ini harus mendapat porsi yang besar pula dalam kabinet, paling tidak sepertiga dipegang Golkar.

Dikatakannya bahwa Capres yang akan ikut pilpres jumlahnya tidak akan lebih dari tiga pasang. Capres ketiga yang akan maju kemungkinan kalau tidak Prabowo ya Wiranto. Tapi mereka harus bisa mengumpulkan suara yang 20/25 persen seperti yang disyaratkan UU Pilpres. Kedua tokoh itu mempunyai partai yang infrastrukturnya kuat didaerah. Keduanya diperkirakan imbang dan tidak tertutup kemungkinan berkoalisi kalau terpepet.

Penilaiannya terhadap beberapa parpol ;  PPP sudah terang-terangan mendukung SBY, PKB internalnya rawan, PKS masih tengok kiri kanan, kemungkinan besar juga akan mendukung SBY, PAN tidak bisa dikira-kira karena tantangan nya besar, banyak mengkader artis,  beberapa kadernya pindah ke PMB dan PKS.

Muladi meramal pilpres kemungkinan akan berlangsung dalam dua putaran, karena untuk mencapai 50% suara tidaklah  mudah. PDIP  sebenarnya ingin sekali berkoalisi dengan Golkar, tapi selama PDIP sudah mencalonkan kadernya sebagai presiden, sulit bagi Golkar untuk mengambil sikap. Atas pertanyaan gagasan koalisi versi Ketua Dewan Pembina Golkar Surya Paloh, dikatakannya yang dilakukan Surya Paloh lebih pada kepentingan kelompok tertentu dan personal, ide ini tidak mendapat dukungan dari DPP.

Terakhir Prof.Muladi mengatakan kalau koalisi Golkar, Demokrat, PPP dan PKS benar-benar terjadi, ya sudah sulit dilawan. Itulah masukan di pagi yang baik ini, memang pendapat seseorang tidak bisa begitu saja dikatakan benar, karena kebenaran dalam berpolitik sangatlah sulit diterjemahkan dan terwujud. Yang perlu kita ingat adalah bahwa bicara politik artinya  berbicara kepentingan, berbicara kekuasaan. Yang biasanya diutamakan kepentingan seseorang, kepentingan faksinya, dan terahir kepentingan partai. Mudah-mudahan nanti ujung-unjungnya adalah kepentingan nasional Indonesia yang akan tetap abadi, tapi anehnya sering diabaikan dan bahkan kadang dilupakan. Semoga di 2009 tidak begitu. PAKDE PRAY, Guest Blogger.

Sumber : http://umum.kompasiana.com/2008/11/21/ramalan-muladi-yang-ketua-dpp-partai-golkar/ (Dibaca: 987 kali)

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.