Surat Kabar, Televisi dan Teroris

20 November 2008 | 3:13 pm | Dilihat : 96

Oleh: Prayitno Ramelan - 5 November 2008 -

Sumber: Kompasiana.Com- Dibaca 184 Kali -

BERITA yang bombastis, meledak-ledak, mencengangkan adalah santapan ternikmat bagi beberapa surat kabar dan media elektronik, kecuali Kompasiana (iklan lagi nih!). Karena blogger journalis tidak usah begitu sudah pada terkenal. Bahkan ada stasiun yang menyiarkan pada ?prime time?. Berita terkini, sebuah situs gelap menyuarakan akan melakukan pembunuhan dan aksi balas dendam apabila Amrozi cs dihukum mati. Yang paling menyentak, mereka akan membunuh pimpinan nasional Presiden SBY, Wapres Yusuf Kalla serta pejabat pemerintah dan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi. Ada apa ini? Ini sebenarnya juga termasuk bentuk teror, dengan tujuan menimbulkan rasa takut.

Pembuat surat nekat tersebut jelas bukan orang sembarangan, media yang digunakan sudah cukup canggih yaitu internet. Sementara ini pemilik situs katanya sedang dikejar tapi belum bisa dilacak, bersembunyi dengan menggunakan jasa contactprivacy.com. Jadi bagaimana mensikapi dan menghadapinya?

Pemerintah, pimpinan media massa saya kira sama-sama menyadari bahwa yang sedang dihadapi bangsa Indonesia ini adalah sebuah gerakan terorisme. Yaitu tindak terorisme yang menggunakan cara-cara tidak lazim dan kejam, baik menculik, menembak, membunuh dan mengebom. Mereka tidak main-main dalam menjalankan aksinya. Pernah membuktikan, mampu melakukan serangan bom bunuh diri meluluh lantakkan beberapa kawasan di Bali, menghancurkan hotel JW Marriot, meremukkan bagian depan Kedubes Australia Jakarta dan sekaligus menghancurkan kawasan disekitarnya. Seram memang!

Sebagaimana kita tahu, terorisme di Indonesia kini berkait erat dengan nama tiga serangkai Amrozi, Muklas dan Imam Samudera. ?DR Azahari dan Noordin M Top? adalah kisah lama, yang satu tewas, yang satunya menghilang. Kini, perhatian publik tertuju kepada tiga sekawan tadi. Lamanya proses pelaksanaan eksekusi para pelaku itu secara tidak disadari pada akhirnya justru menimbulkan simpati terhadap mereka, yah semua katanya karena proses hukumnya harus seperti itu. Sementara itu media massa hampir setiap hari menyiarkan berita langsung dari Nusakambangan.

Bagaimana kondisi ketiga terpidana mati tersebut, penampilannya yang lengkap dengan sorban, tanpa rasa takut, tetap yakin dan tidak takut mati. Terus berpidato lagi. Kemudian muncul diberitakan keluarganya yang pasrah, anaknya yang masih kecil, keluarganya diwawancarai, rencana mau dikubur dimana, ada yang mau nyumbang kuburan, yah macam-macam berita itu. Kita yang melihat akhirnya lupa bahwa mereka sebenarnya akan dihukum mati karena hukum di Indonesia memutuskan seperti itu, mereka telah melakukan pelanggaran tindak pidana berat. Tapi kini yang timbul adalah semacam opini, rasa belas kasihan sebagai sesama manusia.

Kenapa sebabnya mereka dihukum seperti itu mulai meredup bahkan dilupakan. Terus maunya apa dan akan kemana media massa kita? Mungkin tidak disadari atau kurang diketahui bahwa berita tentang ulah teroris merupakan sesuatu yang sangat mereka kehendaki. Teroris menghendaki pemberitaan sesaat setelah serangan penghancuran, korban yang berserakan, badan yang terputus, akan menimbulkan rasa takut yang sangat. Setelah itu mereka mengharapkan dukungan, pembenaran tindakannya serta simpati. Jalannya ya melalui pemberitaan tadi. Kalau tidak diberitakan siapa yang peduli bukan.

Sebuah surat kabar menayangkan berita dengan foto yang besar aksi protes di desanya Amrozi Tenggulun, pemrotes menggunakan tutup muka seperti yang biasa digunakan para teroris, terlihat menyeramkan. Sepertinya di Tenggulun banyak teroris atau pendukungnya? Apakah ini bukan justru mengundang pembenaran bahwa dukungan terhadap Amrozi masih besar? Salah-salah nanti jadi pahlawan lagi. Tindakan mereka yang menunjukkan solidaritas sesama warga jelas tidak bisa disalahkan, ini jaman demokrasi, kebebasan bung!. Demo kan boleh saja, pake topeng juga boleh.

Nah, kini kiranya kita bersama perlu kembali memikirkan pengaruh sebuah pemberitaan terhadap masyarakat. Berita bisa menginspirasi, memberi inspirasi atau mempengaruhi. Memang dalam era kebebasan pers apa saja boleh dimuat, tapi tolong berita tentang terorisme ini agak lebih hati-hati dan diperhitungkan. Yang dihadapi adalah orang-orang nekat, fanatis, tidak takut mati. Berita teror syah-syah saja ditayangkan, tetapi tidak perlu didramatisir. Para presenter mungkin akan dinilai hebat apabila bisa menelusuri sampai kerelung hati teroris itu. Tapi apakah itu perlu?

Simpati yang meluas terhadap bomber tadi dinilai tidak baik. Jangan justru diluaskan, secukupnya saja diberitakan. Apakah kita suka kalau dinegara kita terdapat banyak sel teroris? Tolong ya Mas, maksud saya mass media, dihitung lagi pengaruh beritanya, karena sasaran teroris menurut Kapolri sekarang sudah bukan AS lagi, tapi ya publik, masyarakat dan fasilitas publik Indonesia. Mereka mencanangkan sudah menjadi musuh pemerintah dan masyarakat kini. Sudah berani menantang polisi dan aparat keamanan lainnya. Kini, presidenpun sebagai symbol negara diancam akan dibunuh. Nekat kan! Mudah-mudahan pihak polri dapat segera mengantisipasi dan menindak sesuai dengan hukum yang berlaku.

Sekali lagi perlu diingat ?A Terrorist in One Side is a Patriot on The Other?. Maaf Mas, kembali maksud saya mass media, ini hanya sebuah sumbang saran demi kebaikan kita semua, boleh kan? PRAYITNO RAMELAN, pengamat intelijen 5 November 2008

 

7 tanggapan untuk ?Surat Kabar, Televisi dan Teroris?

 

indra bigwanto,

? 6 November 2008 jam 5:35 pm Akhirnya masalah ini diangkat juga. Terimakasih Pak Prayitno!Saya 100% bersepakat dengan Bapak. Exposure media kita terhadap prosesi ini telah berlebih. Dampak pemberitaanya sudah sangat mengkhawatirkan saya.Minggu lalu, saya malah sampai mengirim sms ke pemred media cetak lokal di kota saya, karena pemuatan berita dan gambar mereka yang hampir memakan ruang 3 halaman surat kabar.Saya bersyukur bahwa Kompas Cetak tidak melakukannya. Mereka memuatnya juga singkat saja, di halaman dalam (kalau tidak salah, halaman 23).Media cetak memang tidak sama dengan televisi. Ketika Empat Mata menayangkan Sumanto memakan binatang (katak?) langsung saja KPI memberhentikan sementara penayangannya.Tapi, KPI pun kelihatannya belum mampu ?menjamah? TV One yang siaran beritanya pada minggu ini penuh dengan laporan Amrozi cs. Saya sangat berharap melalui catatan ini, dapat sampai juga ke teman-teman jurnalis TV di sana.Untuk surat kabar, tabloid, adalah ideal, jika kontrol itu dilakukan oleh medianya sendiri.

 

Lintang,

? 6 November 2008 jam 5:49 pm Terus terang hari ini hubungan saya dan salah satu adik perempuan jadi bermasalah gara gara bombardir tayangan media massa tentang 3 psychopat yang menggunakan fasilitas siar gratis ini untuk mempengaruhi opini publik tentang hukuman mati mereka. Saya benar benar terkejut karena pemikiran orang yang saya kenal dekat bisa dipengaruhi lumayan dalam oleh tayangan tayangan TV tentang mereka belakangan ini. Kami berdebat cukup ?keras? setelah dia menyatakan simpatinya terhadap 3 pembunuh tersebut. Dalam salah satu argumen-nya, adik saya menyebutkan pengalaman perang yang tidak adil di Afgan membuat mereka menjadi seperti itu. Selain itu menurutnya, keyakinan seseorang bahwa mereka melakukan jihad tidak boleh disalahkan oleh pemerintah dan masih banyak argumen argumen ?nyeleneh? lainnya tapi dengan serius disampaikan ke saya yang intinya ketiga orang tersebut hanya melakukan apa yang mereka yakini benar untuk Islam dan dia tidak setuju mereka dieksekusi. Laporan jurnalistik memang harus dari dua sisi tapi bukankan setiap jurnalis memiliki tanggung jawab sebagai individu terhadap efek dari laporannya. Seharusnya tidak semua hasil laporan ditayangkan meskipun benar dan akurat karena ini hanya akan memunculkan amrozy amrozy baru di kemudian hari. Saya merasa prihatin karena pembunuh pembunuh haus darah ini jadi dianggap pahlawan oleh orang orang awam hukum dan agama hanya karena laporan laporan jurnalis yang hanya memikirkan keuntungan jangka pendek dari penyiaran laporannya.

 

prayitno ramelan,

? 6 November 2008 jam 7:13 pm Tks Mas Indra dan Mas Lintang atas tanggapannya, dari kisahnya, ternyata secara tidak sadar media massa telah mampu membentuk suatu opini pemirsa, solidaritas, fanatisme,belas kasihan. Tidak bisa saya bayangkan perasaan Mas Lintang yg akhirnya harus berdebat keras dgn adik yg dikasihinya ttg seseorang yg sama2 anda tidak kenal dan diketahui siapa dia. Contoh kecil ini menunjukkan bertapa berbahayanya efek dari suatu berita.

Kini bisa kita bayangkan bukan hanya adiknya Mas Lintang saja yg terkondisikan alam pikirannya, pasti ada banyak yang lain juga. Apakah ada yg peduli?. Mas Indra adalah contoh yg peduli?hebat blogger yg satu ini.

Ada hal lain yg kadang kurang disadari para pembuat berita, selain bahaya memberitakan mslh teroris. Menurut saya menyiarkan berita ttg sesuatu yang belum tentu benar adalah fitnah kan?Dan bukankah menyebarkan fitnah juga bagian dari dosa.Sadarkah kita dgn kekeliruan yg dibuat?. Kalau akan tetap berjalan dijalur itu, ya silahkan kan itu hak asasi. Kita hanya bisa memohonkan semoga Allah menyadarkannya.

Maaf saya bukan mengajari para insan yg profesional tersebut, ini kan hanya sekedar siar kebaikan demi diri kita, demi masyarakat dan bangsa ini. Yg kurang dari bangsa ini kini adalah saling mengingatkan dengan cara yg santun. Saling bisa menerima pendapat orang, berfikir positif. Mari kita mulai dari diri kita?setuju kan Mas Indra dan Mas Lintang. Paling tidak sudah lumayan dari 230 juta ada 3 yg berfikir seperti ini?entah apa ada yg lain, mari kita merenung lagi. Salam Pray.

 

Lintang,

? 10 November 2008 jam 12:44 pm Terimakasih pak Prayitno, saya sebenarnya sangat menghargai perbedaan pendapat tetapi ketika fakta akhirnya seperti ?dibalikkan? oleh beberapa media massa, saya jadi terganggu juga. Apalagi efeknya langsung mengenai orang dekat saya yang memiliki 3 putra yang masih kecil-kecil. Saya khawatir simpati ibunya ke para pelaku bom (yang seharusnya ke keluarga korban) akan ditularkan ke anak anaknya dan naudzubillah minzalik, akan mempengaruhi pola pikir mereka ke depan.

Tanggapan pak Indra menginspirasi saya untuk melakukan hal yang sama ke beberapa media massa tersebut. Saat ini saya masih mencari dasar hukum dan kode etik jurnalistik agar bisa lebih kuat.Btw, saya bukan laki laki jadi lebih suka dipanggil Lintang aja tanpa ?mas?

 

Prayitno Ramelan,

? 10 November 2008 jam 2:14 pm Aduh Lintang, saya minta maaf sekali ya?saat itu malam, jadi kok ya terlewat tidak mengecek pembuat komentar, ok so sorry, panggilnya Lintang saja, maklum ini blogger suka pikun. Kelihatannya memang kemarin2 itu media massa pada berebut menyiarkan berita yg begitu2. Kemarin malam kebetulan saya ke pesta Manten dari putri Dubes RI di Cina, nah saat ketemu beberapa pejabat, tokoh2 Islam, beliau2 juga menyayangkan pemberitaan yg vulgar.

Terus sudah ada TV milik pejabat yg katanya ditegur, nah sudah ada yg membalik beritanya. Memang media massa bahayanya bisa membentuk opini, kalau dalam teori intelijen biasa disebut ?conditioning?, otak seseorang bisa tercuci, padahal apa yg dia lihat dan dengar melenceng. Itulah alam kebebasan dinegara kita, bebas semau-maunya tanpa mikir efek thd masyarakat. Kalau boleh saran, perbaiki dahulu hubungan Lintang dgn adiknya, biarkan urusan media jadi urusan pemerintah yg mengingatkan.

Kalau orang sudah terpengaruh, maaf ya ini masalah kepercayaan, tidak bisa anda paksakan untuk mengerti. Adiknya sudah teracuni faham pembenaran dari pola berfikir teroris. Bilang saja, sudah deh, untuk apa kita berdebat terus, kan yg jauh lebih penting adalah hubungan kekeluargaan, jangan dikorbankan itu, jangan dikasih pencerahan lagi. Dekati dia dgn kasih sayang yg tulus, kembalikan hubungan seperti semula.

Jangankan Lintang dengan adiknya, ketiga teroris almarhumpun punya perbedaan pendapat dgn para ahli agama, spt Prof Quraisy Syihab, Prof Azumardi Azra dan tetap tidak ada ttk temunya ttg mslh Jihad. Ok deh Lintang, ajak adiknya ke PS,PIM,Senayan City atau nongkrong di mana kesukaan anda berdua, perbaiki secepatnya hubungan itu,adik kakak tdk ada talaknya, jangan ditunda. Udah ya?my 2nd daughter is 34yrs old, sama nih. Salam. Pray.(Maaf Mas Pepih, jadi kayak konsultan nih?gak apa2 ya,kan tujuannya baik).

 

Junanto Herdiawan,

? 10 November 2008 jam 6:25 pm Pak Prayit, diskusi ini sungguh menarik. Kegalauan rekan Indra dan rekan Lintang benar sekali, apalagi saat Lintang bercerita tentang permasalahan dengan adiknya. Masalah serupa saya rasakan juga di rumah. Seperti terbentuk dua kubu di rumah saya semenjak menyaksikan pemberitaan. Pendukung teroris, karena simpati pada keluarga dan kepatriotannya. Dan posisi di seberangnya, yang tetap melihat teroris sebagai hal yang membahayakan agama dan kehidupan.

Saya teringat sebuah buku yang ditulis oleh Alan Dershowitz yang judulnya ?Why Terrorism Work?, kenapa terorisme dapat berjalan?. Rupa-rupanya, menurut buku itu, kita sendirilah yang membesarkannya. Kita bangun simpati, kita beri ruang bagi mereka berkembang. Di sini, peran media massa sangat besar. Kemampuan media untuk dapat melihat hal ini secara bijak, termasuk dampaknya kepada perilaku, sungguh kita harapkan. Mudah2an hal ini bisa jadi pelajaran bagi kita semua. Tks pak Prayit..

prayitno ramelan,

? 10 November 2008 jam 8:10 pm Tks Junanto, Ini yg dikatakan Mantan Kabais TNI yg kebetulan rekan saya satu angkatan (Marsdya TNI Pur. Ian Santoso Perdanakusuma, ? Terorisme memang sebuah fenomena yang sulit dimengerti, bagi kebanyakan orang aksinya sangat mematikan dan tertutup, membawa banyak korban jiwa termasuk orang yg tidak bersalah. Dari beberapa insiden diketahui bahwa seseorang tanpa dasar pendidikan yg cukup dapat melakukan aksi yg spektakuler, termasuk berbagai aksi teroris yg terjadi di Indonesia sendiri.

Sebab itu secara keseluruhan dpt dikatakan, efek teroris memiliki dimensi luas, dan umumnya secara langsung memberikan tekanan pada pemerintah.Perbedaan pandangan tentang apa, siapa, kenapa, dan bagaimana tentang terorisme, adalah wajar, sejauh ini disikapi secara arif dan bijak. Perlu diingat, teror itu merupakan kegiatan intelijen yang dimainkan oleh ?dalang? yang tidak atau belum pernah terungkap hingga saat ini?. Jadi itulah, misteri terorisme, yg menjadi tugas berat aparat Kepolisian dan Intelijen untuk menetralisir dan menghilangkannya, tidak bisa hanya dengan kekuatan senjata, tapi dengan cara sistematis ?counter?.

This entry was posted in Hankam. Bookmark the permalink.