Prabowo Yang Semakin Bersinar

19 November 2008 | 5:46 am | Dilihat : 179

Banyak orang kini menyebut nama Prabowo  capres dari Partai Gerindra sebagai tokoh yang semakin kuat  dalam konteks pilpres 2009. Wajahnya mulai lebih familiar dikenal masyarakat karena hampir tiap hari ia muncul di layar kaca dengan kata perkenalannya yang populer "Saya Prabowo Subianto".

Penulis mengenal Prabowo yang dipanggil rekan-rekannya dengan panggilan Bowo sejak tahun 1977 saat bersama-sama mengikuti pendidikan disalah satu Lembaga pendidikan ABRI. Bowo di kelas Kursus Perwira Penyelidikan, penulis dikelas Kursus Perwira  Penggalangan, dan kemudian berlanjut dalam beberapa latihan bersama dengan Pasukan Khusus Malaysia. Sejak mengenalnya, ada suatu yang menarik dan membuat kesan tersendiri. Perwira Kopassus ini kok pintar dan cerdas sekali, pengetahuannya luas, diajak diskusi apa saja dia nyambung.

Prabowo adalah putra begawan ekonomi Sumitro Djojohadikusumo, lama tinggal diluar negeri mengikuti ayahnya. Setelah tamat SMA di American School in London,UK (1969) ia kembali ke Indonesia, kemudian masuk Akabri Darat dan lulus pada tahun 1974. Bowo yang setelah lulus bertugas di Kopassus dan Kostrad pernah mengikuti pendidikan "counter Terorist Coure GSG-9" di Jerman dan pendidikan "Special Forces Officer Course, Fort Benning", USA (1981). Dengan kemampuan Inggris yang sangat baik, saat di AS Bowo mampu meraih penghargaan karena essaynya mendapat nilai terbaik dari seluruh siswa mancanegara.

Mulai pangkat perwira pertama Bowo dikenal pintar, cerdas dan berpengaruh, terlebih setelah menjadi mantu Presiden Soeharto. Pada umur 46 tahun dia sudah menyandang bintang tiga. Perwira ini mempunyai pribadi kuat, rasa percaya diri yg besar, otak encer, tegas, disiplin dan peduli pada bawahan. Saat menjabat Danjen Kopassus, satuan dimekarkan dan dilengkapi dengan peralatan tempur sejajar pasukan khusus lainnya didunia. Bowo pintar membangun  network, yang membuatnya menduduki jabatan Pangkostrad dengan pangkat bintang tiga.

Kariernya meredup sehari setelah Presiden Soeharto mundur pada 21 Mei 1998, ia kemudian menjabat menjadi Dansesko TNI dan akhirnya pensiun dini. Setelah pensiun Bowo terbang ke Inggris dan menetap di Yordania. Mulai saat itulah dia membangun jaringan bisnis, memimpin bisnis Nusantara Group, bergerak dibidang kelapa sawit, perikanan, pertanian, bubur kertas, minyak, pertambangan serta bisnis  minyak di Kazakhstan.

Sejak 2004 Bowo kembali ke Indonesia, ia mengikuti konvensi Partai Golkar untuk menjadi capres Golkar. Walau kalah dia tetap menjadi salah satu pembina hingga akhirnya mundur dan menyalurkan aspirasi politik lewat Gerindra. Kini dengan kekuatan dana yang besar, didukung adiknya Hasyim yang pengusaha besar, Prabowo kembali mencoba peruntungan dibidang politik. Network yang dibangunnya adalah jaringan petani dan nelayan (HKTI), pedagang pasar tradisional, IPSI, jalur koperasi Swadesi, Universitas Kebangsaan dan jaring keluarga besar alumni Mahasiswa Supersemar.

Secara perlahan, dengan mengandalkan kekuatan media elektronik sebagai sarana pengenalan diri, elektabilitasnya semakin meningkat. Survei LSN 20-27 September 2008 menyebutkan bila pilpres dilakukan hari ini, SBY mendapat 30 persen,Megawati 15,3 persen, Prabowo 14,2 persen, Hidayat Nur Wahid 4,8 persen, Yusril 4,3 persen, Amin Rais 2 persen, Wiranto 1,5 persen.

Salah satu visinya, neoliberalisme dan kapitalisme bertentangan dengan UUD 1945 dan harus ditinggalkan, namun ia tidak anti invstor asing. Menurut Prabowo BUMN jangan dijual, bila perlu melakukan nasionalisasi aset. Pemerintah harus membuka lapangan kerja, bukan menghambur-hamburkan uang dengan program BLT.

Kini dalam perjalanan karier politik, Prabowo dapat sewaktu waktu menjadi pesaing SBY yang paling potensial. Proses politik SBY mirip dilakukannya. Upayanya dalam menaikkan citra dan popularitas bahkan diatas usaha SBY dan Partai Demokrat. Semua kelebihan SBY dapat dilakukannya, bahkan jaringan networknya dikawasan Teluk Persia dan Timur Tengah diperkirakan lebih luas. Prabowo juga mulai dikesankan mampu mengisi kekurangan SBY,  dia dinilai berwibawa, lebih tegas dan pro rakyat. Kelebihan lainnya dari Prabowo dipandang masih mempunyai pendukung dikalangan Golkar dan mempunyai peluang meggerus pendukung PDIP di pedesaan.

Hasil survei yang dilaksanakan Lembaga Survei Indonesia awal November 2008 menyebutkan pemilih mengambang (swing voter) mencapai 33%, terdiri 22% swing voter negatif dan 11% positif. Artinya 22% golput, tidak akan menggunakan hak pilihnya. Swing voter negatif memukul partai Golkar (rata-rata 5%), PDIP(-3%), PKB(-5%), PPP(-4%), PAN (-3%), PKS (-2%). Kecenderungan swing voter positif hanya terjadi pada Partai Demokrat (7%) dan Gerindra (4%). Dalam survei tersebut disebutkan hanya iklan Partai Gerindra yang memiliki daya pikat ke publik dengan tetap diingat sebesar 51%. Slogan kemandirian, swasembada, penguatan sektor pertanian diyakini menjadi isu populer yang menjadi persoalan mayoritas penduduk Indonesia.

Kunci Prabowo adalah apabila Gerindra mampu mendapat suara seperti perolehan suara seperti Partai Demokrat pada 2004, kini hasil mulai nampak, partainya Gerinda dari bukan apa-apa kini sudah memiliki modal 4%. Dengan dukungan dana yang besar, iklan yang rutin terus ditayangkan, didukung strategi yang tepat maka konstituen sangat mungkin terkondisikan dan terbius untuk memilih Partai Gerindra. Terlebih LSI menemukan fakta bahwa kini hanya 15 pemilih yang mempunyai keterikatan dengan partai politik, 85 persen adalah non partisan. Ini berarti masih besar peluang Bowo untuk meningkatkan perolehan suara partainya.

Pada suatu kesempatan, Prabowo menyatakan dan bersumpah hendak mengisi hidupnya untuk mengabdi kepada bangsa dan rakyat Indonesia. Kini, diakui atau tidak Prabowo terlihat semakin hari semakin bersinar, dia seperti putra mahkota yang sewaktu-waktu siap merebut tahta kerajaan. Bowo memang mempunyai rekam jejak yang kontroversial dan berani. Tapi mungkin saja,  justru rakyat tertarik ingin memiliki presiden seperti ini. Berani, tegas,  agak nekat, mampu membuat perubahan demi kesejahteraan.  Siapa tahu?. Maksud penulis.... siapa tahu hati pemilih !!

Tulisan ini merupakan informasi dasar bagi para pembaca kompasiana, tentang salah seorang calon presiden Indonesia, yang harus kita hargai segala upaya dan kerja kerasnya. Pilihan dan aliran politik boleh berbeda, tapi kini rakyat kembali sedang bersiap memilih pemimpinnya dan mereka yang akan memutuskan, diharapkan mampu membawa kita semua menuju masyarakat sejahtera. Tentang siapa yang akan jadi? Hanya Allah lah yang mengetahui dan memutuskan.

Terakhir, tulisan di Kompasiana dibuat dengan kejujuran, tanpa keberpihakan, penulis sudah cukup"enjoy" kok  bergabung bersama rekan-rekan blogger dan pengelola Kompasiana, Mas Pepih, Mas Kandar, Mas Agung dan yang lainnya. Semoga bermanfaat, Good Morning "The Bloggers". Maaf ni agak terburu-buru, ada kompetisi golf purnawirawan TNI AU di Halim. (Pray biar kakek berhandicap 12, ada yang mau ngajak main atau mau nantangin....?). Salam.Pray.

Sumber : http://umum.kompasiana.com/2008/11/19/prabowo-yang-semakin-bersinar/ (Dibaca: 1969 kali)

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.