Kisah si Batu dan si Beton

14 November 2008 | 3:06 pm | Dilihat : 82

Penulis mempunyai teman yang sama-sama tinggal di kompleks, setelah beberapa tahun menikah keduanya dikaruniai sepasang anak kembar yang lucu dan manis. Lucu karena anak kembar itu apa-apanya sama, bentuk hidung, mata, rambut ikalnya semuanya  mirip.

Teman saya itu memberi nama anaknya yang satu Batu dan kembarannya Beton. Pada awalnya sayapun agak heran kenapa dia memberi nama anaknya aneh begitu, sedangkan teman saya tadi cukup terpelajar.

Setelah kedua bayi kembar tersebut tumbuh semakin besar, mulailah terjawab pertanyaan saya. Ternyata teman tadi menginginkan kedua anaknya dididik dengan cara yang berbeda, tapi tetap dengan tujuan yang sama, agar menjadi orang yang sukses. Batu dibebaskan, sementara Beton dididik, diawasi dengan ketat, dan diarahkan.

Batu dibiarkan merdeka, tidak pernah diarahkan, pokoknya boleh semaunya. Mau apa-apa boleh, tidak pernah dilarang. Sementara Beton jadi anak penurut, selalu diarahkan, sekolahnya dikontrol, pulang sekolah harus mengaji, belajar karate, ikut kursus-kursus. Kalau Batu pulang sekolah "ngeluyur" kemana-mana.

Saat keduanya berkembang menjadi besar, Batu merasa menjadi orang yang paling bahagia, selalu mengejek Beton yang tidak bebas dan terikat. Dilain sisi Beton selalu merasa tertekan karena harus mengikuti aturan macam-macam dari ayahnya. Batu akhirnya hanya sekolah sampai kelas lima SD, dia dikeluarkan Kepala Sekolah, karena suka merusak, memeras dan menteror temannya yang perempuan. Beton tetap sekolah dengan tekun.

Setelah dipecat dari sekolahnya, pergaulan Batu semakin rusak, dia mempunyai kebiasaan minum, mabuk,suka "memalak". Setelah beberapa tahun kemudian badannya penuh dengan tato dan akhirnya harus masuk penjara karena mencuri dan memeras. Selama dipenjara tetap tidak ada kapoknya "reman" satu ini tetap saja mau jadi jagoan.

Beton, yang santun akhirnya berhasil menyelesaikan kuliahnya mendapat gelar sarjana, mendapat pekerjaan yang baik, kemudian menikah dan hidup berbahagia dengan anak-anaknya.

Bagaimana dengan jago kandang mas Batu kita?. Setelah keluar penjara, Batu kembali kejalan yang tidak benar lagi, ikut kelompok kriminal. Beton selalu berusaha menyadarkannya, tapi Batu yang payah tadi hanya senyum-senyum saja. Hingga suatu hari dikalangan geng pasar terjadi kerbutan. Batu dikeroyok dan mengakibatkan kedua kakinya patah, tidak bisa berjalan. Saat itulah Batu menyadari bahwa dia akan mati karena tidak bisa makan.

Mau mengemis malu, mana ada bekas jagoan mengemis. Akhirnya Batu datang ke Beton, dia minta maaf, menangis, menyesali hidupnya. Beton yang terdidik, santun, kemudian menerima Batu dirumahnya, memberi kamar. Sejak itulah Batu kembali menjadi bagian keluarga teman saya tadi.

Terus dimana teman saya tadi itu?.Walaupun selama ini dia kukuh dengan prinsipnya bahwa apa yang dilakukannya benar, tetap saja didalam hatinya terdapat "guilty feeling". Saat Batu ditangkap dan dipenjara, rasa bersalahnya mencapai punvcaknya, dia mengalami stres berat dan akhirnya meninggal dunia. Istrinya kemana?.Sudah lama istrinya tidak tahan dengan kekerasan hati suaminya, akhirnya dia memilih pulang kerumah orang tuanya.

Apa yang bisa kita petik dari kisah Batu dan Beton ini?.Bahwa manusia sejak kecil haruslah mendapat pendidikan dan arahan. Diberi pendidikan tentang norma, budaya, adat istiadat, cara menghormati dan menghargai orang lain. Kalau kita membebaskan begitu saja maka harus siap anak kita akan menjadi Batu lainnya.

Demikian juga dinegara kita, kini terdapat faham kebebasan, alam ini banyak dinikmati pencinta kebebasan. Banyak dijumpai mereka yang seperti Batu. Ada yang tergelincir menjadi teroris, ada yang jadi perusak. Apakah kita akan biarkan saja? . Yang dapat kita tiru dan teladani adalah langkah Beton yang mau menerima saudaranya yang sudah sadar.

Penulis percaya banyak kelompok aliran Beton mau mengingatkan kelompok Batu dan menerimanya kembali sebagai saudara yang pernah tersesat. Seperti hubungan Batu dan Beton, bukankah kita yang dilahirkan sama-sama di Indonesia juga adalah saudara, jadi untuk apa kita harus ribut terus?. Apa perlu ditunggu patah kaki dahulu untuk sadar?.

Sumber: http://umum.kompasiana.com/2008/11/14/kisah-si-batu-dan-si-beton/ (Dibaca: 642 kali)

This entry was posted in Umum. Bookmark the permalink.