OBAMA KEMUNGKINAN BESAR MENANG ?

2 October 2008 | 11:27 am | Dilihat : 238

Oleh: Prayitno Ramelan

23 September 2008

Amerika Serikat Negara super power, Negara mana yang tidak diatur-atur olehnya?. Negara yang kaya dan makmur, sehingga banyak orang pintar dari suku bangsa manapun yang mencoba menetap di Amerika, karena Negara ini menjanjikan kehidupan yang lebih baik, mapan dan mampu memberikan tunjangan yang sangat baik.

Dalam memainkan perannya didunia ini, Amerika mau tidak mau harus terjun dan terlibat langsung dalam beberapa konflik, dimana dalam operasi militernya banyak mengorbankan anak bangsanya. Perang Vietnam adalah sejarah kelamnya yang sangat parah, perang selama 20 tahun yang digelutinya mengakibatkan tewasnya 58.208 prajurit, sementara yang luka-luka 153.303 orang. Perang Vietnam diakhirinya dengan pahit, berupa kekalahan politis dan militer. Afghanistan, adalah bagian dari perangnya terhadap musuh utamanya Al Qaeda. Irak adalah medan tempurnya yang telah menelan korban jiwa pasukannya diatas angka 4000 personil. Belum lagi bagian perangnya dibeberapa front Eropa dan Afrika. Kawasan Timur Tengah bukan daerah aman bagi WN Amerika. Kedubes AS di Yaman baru-baru ini diserang teroris, dibom.

Semua yang dilakukan Amerika adalah demi kepentingan nasionalnya, resiko sebagai sebuah negara dengan politik globalnya yang berambisi memainkan peran sebagai polisi dunia. Sebagai negara super power dia harus bermain dibanyak negara, demi kepentingan politik, ekonomi, sosial, budaya dan pertahanan. AS sangat tergantung dengan suplai minyak dari kawasan Timur Tengah, tempat dimana banyak sel-sel musuh utamanya Al Qaeda beroperasi.

Kini, Amerika akan memasuki babak baru dalam pemilihan Presidennya, muncul tokoh muda Barack Obama dari Partai Demokrat dan tokoh tua John McCain dari Partai Republik. Obama yang baru berumur 47 tahun mewakili kaum muda dan warga kulit berwarna, terkenal di Indonesia karena pernah tinggal di Jakarta sewaktu kecil. Sementara McCain yang berumur 72 Tahun berkulit putih, mewakili politisi tua.

Obama, memilih Joseph Biden (65 th) sebagai calon wakil presidennya. Biden Ketua Komite Hubungan Luar Negeri Senat, puluhan tahun berpengalaman dalam keamanan nasional untuk tiket demokrat, menjadi anggota kongres sejak tahun 1972. Obama berkampanye akan menarik pasukan dari Irak dalam 16 bulan dan hanya memfokuskan perangnya di Afghanistan, tempat Al Qaeda musuh utamanya berada. AS akan melepaskan ketergantungan minyak dari Timur Tengah dalam 10 tahun, menciptakan lima juta lowongan pekerjaan dalam 10 tahun dibidang energi, dan yang terpenting memulihkan harga diri bangsa AS.

Obama justru tidak mengambil Hillary Clinton tetapi mengambil Joseph Biden sebagai capresnya. Pilihan tersebut sangat realistis, mengingat kariernya sebagai senator yang mewakili Negara bagian Illinois yang baru sekitar empat tahun belum cukup lama. Selain itu pasti ada beban psikologis antara Obama dan Hillary. Oleh karena itu akhirnya diputuskan mengambil Joseph Biden sebagai cawapres. Joseph Biden dikenal sebagai tokoh Partai Demokrat yang sudah banyak makan asam garam baik didunia politik maupun pemerintahan.

Justru apabila Obama berpasangan dengan Hillary maka konstituen Amerika yang umumnya faham masalah politik dan ekonomi akan mudah luntur keyakinannya terhadap kemampuan dan soliditas pasangan ini, walaupun Obama alumnus dari Harvard University. Rakyat Amerika yang akan ikut pilpres sangat mengerti masalah politik, faham akan kondisi Negara dan mengerti siapa yang kira-kira pantas menjadi pemimpin nasionalnya. Oleh karena itu posisi Biden diharapkan dapat mengantisipasi dan mengisi gap kekurangan serta kemungkinan serangan terhadap kemampuan Obama.

Sementara John McCain Senator senior AS dari Negara bagian Arizona dan mewakili Partai Republik memutuskan mengambil Sarah Palin (44) sebagai cawapres, karena meyakini secara head to head capres Republik John McCain merasa kemungkinan akan kalah dengan Obama yang name awareness-nya jauh diatasnya. Oleh karena itu dibutuhkan nilai lebih dari pasangannya. Maka kartu cawapres dimainkan sebagai vote getter yang diharapkan dan diperhitungkan akan mengimbangi popularitas Obama.

Sarah Palin yang muda, cantik, simpatik, pernah memenangi lomba kecantikan Miss Wasila Alaska, saat ini menjabat sebagai Gubernur Alaska. Dari performance dan gender Palin, jelas secara perlahan akan terbentuk penggemar tersendiri khususnya kaum perempuan baik dari pemilih Partai Republik , Demokrat maupun konstituen independen. Ini yang diharapkan kubu Republik. Tetapi ada yang dilupakan, konstituen di AS banyak yang berpendapat bahwa Palin tingkatannya baru sekelas negara bagian, masih dibutuhkan waktu untuk menjadi politisi/negarawan kelas Nasional. Khususnya untuk menduduki jabatan wakil presiden di negara sebesar AS yang masalahnya sangat complicated. Ini titik rawan Sarah Palin yang diperkirakan justru akan merugikan Partai Republik.

McCain yang mencoba menarik simpati dengan akan meneruskan kehebatan AS dalam politik luar negerinya, diperkirakan akan semakin turun popularitasnya. McCain dinilai banyak orang sebagai kepanjangan tangan dari rezim Presiden Bush yang menerapkan politik menekan siapapun baik diluar maupun didalam negerinya. Memang sesaat setelah ditetapkannya Sarah Palin sebagai cawapres, popularitasnya mampu mengungguli Obama. Hingga beberapa minggu berselang posisi kedua kandidat terlihat sama kuat. Tetapi kini hasil jajak pendapat melalui telpon CNN dan Opinion Research Corp, Obama mendapat dukungan 51% dan McCain 38%. Sementara jajak pendapat CBS News menyebutkan Obama meraih dukungan 39% dan McCain hanya 25% koresponden.

Jadi bagaimana kira-kira hasil pemilu tersebut?. Konstituen Amerika yang pintar dan realistis diperkirakan akan lebih cenderung memilih Obama, yang dipandang lebih realistis baik penerapan politik luar negerinya maupun peningkatan kesejahteraan didalam negeri. Salah satu program kuncinya adalah janjinya yang akan memperbaiki perekonomian dan memulihkan harga diri bangsa AS. Rakyat Amerika mulai menyadari bahwa masalah perekonomian didalam negerinya mulai menunjukkan penurunan dan berpotensi akan mempersulit mereka dimasa mendatang.

Kemerosotan perekonomian yang dirasakan masyarakat AS diantaranya krisis Subprime Mortgage Loan, yang mengimbas merugikan Investment Bank. Bank Sentral dan Private Equity Fund tercatat paling besar terimbas krisis tersebut. Kebangkrutan menimpa Lembaga Keuangan AS Nerrill Lynch dan Lehman Brother, yang selain memukul lembaga keuangan AS juga Lembaga-lembaga keuangan lain di dunia. Dalam situasi yang tidak baik tersebut, yang mengherankan Capres Republik John McCain dalam menanggapi krisis mengeluarkan pernyataan bahwa pondasi keuangan AS tetap kuat dan tidak akan membiarkan hal itu terulang.

Pada kasus ini kubu Partai Republik jelas terpukul, Otoritas keuangan AS justru tidak mau membantu krisis Lehman. Gubernur Bank Sentral AS (The FED) dan Menteri Keuangan AS menegaskan tidak akan memberi pinjaman kepada Lehman. Signal lampu bahaya juga telah dikeluarkan Presiden George Bush yang mengatakan bahwa perekonomian AS dalam bahaya dan Amerika membutuhkan anggaran USD 700 milyar untuk penyelamatan perekonomiannya. Hal ini jelas menurunkan kredibilitas McCain sebagai sesama anggota Partai Republik.

Sementara itu Obama mengatakan bahwa ekonomi AS sudah hancur, kubu Republik telah menumpuk hutang dalam 8 tahun terahir. Obama berjanji apabila terpilih akan memperketat pengaturan keuangan. Dalam kondisi tersebut masyarakat AS menilai adanya kecenderungan persepsi yang salah dari kubu Republik dalam menilai krisis yang terjadi. Disinilah mereka menilai kubu Obama lebih realistis dan lebih memahami krisis tersebut.

Mendatang, kelihatannya masyarakat AS akan lebih realistis dalam memainkan peran negaranya didunia internasional. Mereka memang tetap bangga sebagai warga negara AS, bangga AS sebagai negara yang besar dan hebat, juga bangga dengan pemimpinnya. Tetapi mendatang mereka tidak membutuhkan pemimpin yang arogan, terlalu bangga menepuk dada didunia internasional. Berperang disana sini, mengorbankan warganya dalam perang yang kurang jelas, sementara didalam negerinya mengalami kesulitan masalah perekonomian yang akan mencekik leher mereka sendiri.

Selain itu, masalah lain yang juga dinilai serius oleh masyarakat adalah terjadinya serangan teroris pada tanggal 11 September 2001 didalam negerinya tanpa dapat ditangkal. Harga diri bangsa Amerika sangat terpukul sejak menara kembar World Trade Center runtuh. Disini hebatnya team Obama dalam membaca situasi dan kondisi masyarakat AS, dan disisi ini pulalah mereka menjanjikan sebuah perubahan yang realistis. Kubu McCain diperkirakan akan sulit untuk memperbaiki citranya dalam waktu yang sudah sangat mendesak ini.

Jadi, itulah suatu strategi dan cara berfikir dalam rangka memenangkan pilpres di Amerika Serikat. Memang AS adalah negara yang masyarakatnya sudah jauh lebih maju dibandingkan Indonesia, perebutan pengaruh selain ditujukan terhadap konstituen partainya masing-masing juga diarahkan kepada pemilih independen yang dinegara kita umumnya disebut sebagai masa mengambang. Walau pilpres di AS kelas konstituennya dinilai lebih memahami masalah politik dan kenegaraan dibandingkan kita, ada baiknya juga kalau pilpres ini dijadikan sebagai studi kasus yang mungkin bermanfaat bagi pilpres kita pada 2009. Walau masyarakat kita banyak yang kurang mengerti masalah politik, tetapi penentuan cawapres untuk mendampingi seorang capres pada pilpres 2009 akan sangat berpengaruh.

Bagi Capres-capres pria yang senior, mungkin akan lebih berhasil meningkatkan perolehan suaranya apabila mengambil cawapresnya dari kalangan muda atau perempuan, yang penting kredibel, aseptabel, berpredikat bersih dan jujur melekat pada sang cawapres. Syarat jujur dan bersih akan menjadi kriteria esensial sebagai efek psikologis dari semangat pemberantasan korupsi. Keberhasilan Rustriningsih sebagai cawagub pada pilkada Jawa Tengah dan kehebatan Khofifah sebagai cagub Pilkada Jawa Timur kiranya patut menjadi bahan pertimbangan tersendiri bagi para elit partai. Khusus untuk Megawati sebagai capres wanita, sebaiknya mengambil cawapres pria dengan syarat seperti tersebut diatas.

Disadari bahwa ini adalah hanya sebuah penuangan pemikiran sepintas, dalam ilmu militer disebut Kirpat (Perkiraan Cepat), kalau hasilnya Obama menang ya syukur kirpat ini benar. Tapi kalau Obama nanti kalah, jawabannya mudah?.memang garis tangan Obama belum ditakdirkan jadi Presiden Amerika Serikat?Tapi siapa tahu dia mau pindah lagi ke Jakarta, jadi WNI mendaftar ke Golkar sebagai partai besar yang sulit mencari capres, kemudian maju pada pilpres 2014. Wah Golkar bisa-bisa akan jadi partai berbahaya, atau.....paling tidak Indonesia akan lebih terkenal didunia internasional pasti!!. Siapa sih yang tidak tahu Obama, dibandingkan siapa itu???

This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.